Kado ulang tahunku



Perkenalkan namaku Vera. Aku adalah Direktur Keuangan di sebuah perusahaan konstruksi swasta di negeri ini. Meskipun aku sudah punya 2 anak dan usia sudah masuk ke 40 tapi tubuhku tetap proporsional dan terkesan langsing, tinggi, putih (maklum chinese), rambut ikal pirang sebahu. Orang-orang yang ketemu aku tidak akan menyangka bahwa usiaku sudah 40th.

Pengalaman ini adalah kejadian sebenarnya yang terjadi di bulan Desember ini tepatnya pada hari ulang tahunku.

Ceritanya bermula ketika salah satu karyawanku mengirimkan ucapan selamat ulang tahun melalui sms ke hanphone-ku. Sebut saja namanya Wahyu, salah seorang manager di perusahaanku. Orangnya tinggi, atletis dan tampan, usia sekitar 30thn. Sebenarnya sudah lama dia memperhatikan diriku dan mengagumi diriku (aku tahu setelah pengalaman ini), dan aku juga sebenarnya sangat senang kalau berbicara ataupun bertatap muka dengannya. Karena orangnya cerdas dan enak diajak ngobrol. Mungkin karena aku adalah atasannya jadi dia nggak berani kurang ajar kepadaku.

Siang itu Wahyu mengirimkan ucapan selamat ulang tahun via sms. Terus terang aku juga gembira karena ternyata ada yang mengucapkan selamat kepadaku. Setelah aku pikir2 akhirnya aku balas sms tersebut sambil sedikit iseng ... “Terima kasih sayang .... ditunggu ya kadonya ...”

Kemudian di membalas “Maaf Bu, .... ini salah kirim ya ?? Lagian kalau kado rasanya saya bingung mo ngasih apa ya ke Ibu.” Setelah itu aku balas “Nggak salah kirim kok sayang, ngomong2 gimana kalau kadonya nemenin aku makan malam ? Kalau ok aku tunggu di rumah jam 8 malam”. Setelah agak lama akhirnya aku dapat jawaban “Baik Bu, nanti malam saya datang ke rumah Ibu.”

Aku sendiri tidak menyangka kalau akhirnya akan begini, tadinya yang cuma iseng2 malahan jadi mengundang makan makan malam berdua. Hal ini karena suamiku sedang tugas luar kota, kebetulan anak-anak sedang menginap di rumah neneknya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan pikiran jelek, akhirnya pembantuku aku suruh pulang ke rumahnya masing2 setelah selesai mempersiapkan makan malam dengan alasan bahwa berhubung lagi ulang tahun maka mereka diberi kebebasan untuk libur.

Menjelang jam 8 malam semua sudah siap dan aku deg-deg-an menunggu kedatangan Wahyu untuk makan malam. Tidak berapa lama terdengar suara mobil berhenti di halaman depan rumahku. “Pasti itu Wahyu” batinku. Kemudian terdengan bunyi bell dari ruang tamu. Aku sendiri yang membukakan pintu, karena tidak ada satu orangpun di rumah ini kecuali aku.

“Selamat malam Bu. Maaf, membuat Ibu sedikit menunggu.” sapa Wahyu kepadaku.
“Nggak pa-pa kok, lagian aku juga baru selesai persiapannya.” jawabku.

Wahyu tidak berkedip memandangku. Kelihatannya dia terpesona dengan diriku yang tidak seperti saat di kantor. Aku memakai baju terusan panjang tanpa lengan warna hitam yang sangat kontras dengan kulitku yang putih, belahan dadanya agak ke bawah sehingga payudaraku sedikit terlihat menyembul. Di tambah lagi aku tidak mengenakan bra sehingga putting susuku sedikit tercetak di baju yang aku kenakan. Cukup lama dia terpaku di depan pintu memandangiku sampai aku bilang “Lho .... kenapa Wahyu, ada yang salah dengan aku ya ??”. Wahyu terkesiap dan sadar dari terpakunya, kemudian berkata “Maaf Bu, bukannya tidak sopan, tapi Ibu cantik sekali malam ini”. Aku cukup senang dengan pujian dari Wahyu, kemudian aku bilang “Ah kamu ada2 saja, ayo kita masuk ke dalam, makanan sudah siap tuh.” “Baik Bu” kata Wahyu sambil masuk ke dalam mengikuti langkahku.

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Wahyu waktu berjalan di belakangku, tapi pasti dia memperhatikan gerakan pinggul dan pantatku pada saat berjalan, hal ini ditambah lagi dengan potongan bajuku yang model backless dan belahan baju belakang sampai di bawah pantat, sehingga otomatis punggung dan pahaku yang putih mulus diperhatikan oleh Wahyu.

Sampai ruang makan Wahyu sedikit terkejut karena dia mendapati ruang makan yang dipersiapkan hanya untuk 2 orang, karena yang tersedia hanya 2 kursi dan makanan siap saji di atas mejanya.

“Maaf Bu, Bapak sama anak-anak kok nggak kelihatan, apakah mereka tidak ikut makan malam bersama kita ??”

“Memang nggak kok, kebetulan Bapak lagi di luar kota, anak-anak menginap di rumah neneknya. Lagian ini khusus untuk kamu kok, karena kamu adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahu kepadaku.”

“O iya Bu, selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sukses selalu” kata Wahyu sambil mengulurkan tangannya.

“Terima kasih Wahyu” jawabku menyambut uluran tangannya. Kemudian aku sengaja memajukan wajahku mendekati wajahnya. Tadinya Wahyu diam saja dan tidak berani untuk menyambut wajahku dengan pipinya, tapi setelah aku semakin mendekatkan wajahku, akhirnya Wahyu mencium pipi kiri dan kananku dan aku lihat wajahnya bersemu merah. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku seberani ini kepada Wahyu, mungkin karena terbawa suasana dan sedikit rasa jengkel terhadap suamiku yang malahan keluar kota di hari ulang tahunku, dan mungkin juga ditambah penampilan Wahyu yang sangat gagah malam ini.

Pada saat makan aku perhatikan Wahyu beberapa kali mencuri pandang ke arah dadaku. Mungkin dia penasaran dan tertarik dengan apa yang ada dibalik baju yang aku kenakan. Hal itu bisa dilihat dari pujian-pujian yang dia sampaikan kepadaku. Setelah selesai makan malam akhirnya kita duduk2 di sofa sambil mendengarkan alunan musik.

“Kamu bisa dansa Wahyu ??” tanyaku
“Maaf Bu, saya tidak bisa dan belum pernah.” jawab Wahyu
“Ayo kalau gitu aku ajarin” ajakku sambil berdiri dan mengulurkan tanganku pada Wahyu.
“Wah ... saya benar2 belum pernah dan nggak bisa Bu, nantinya malahan kaki Ibu yang keinjak kaki saya” kata Wahyu sambil berdiri mengikuti ajakanku.

Aku berdiri berhadapan dengan Wahyu, tangan Wahyu aku letakkan melingkar di pinggangku dan tangan yang satu pegangan dengan tangaku. Badanku aku rapatkan sehingga payudaraku menempel dan bergesekan dengan dada Wahyu. Ternyata Wahyu memang orang yang pintar, karena kurang dari 5 menit dia sudah bisa mengikuti irama dan instruksi yang aku ajarkan.

Sambil berdansa kami saling bercerita berbagai hal dan sedikit menyerempet2 ke hal2 yang berbau sex. Ternyata pengetahuan Wahyu sangat luas dan suka bercanda. Tak terasa akibat gesekan dadaku dengan dada Wahyu, belahan baju di dadaku ikut tergeser sehingga hampir semua payudaraku menyembul keluar, termasuk putingnya. Sengaja aku diamkan hal ini untuk mengetahui reaksi Wahyu kepadaku. Wahyu beberapa kali mencuri pandang ke payudaraku dan mulai terangsang, hal ini karena aku mulai merasakan tonjolan keras di selangkangan Wahyu yang menempel di perutku.

“Bu, maaf baju Ibu sedikit bergeser, sehingga maaf payudara Ibu sedikit keluar” kata Wahyu mengingatkanku. “Tolong benerin dong sayang .....” kataku kepada Wahyu dengan sedikit menggoda. Wahyu menghentikan sejenak gerakan dansa, dan membetulkan baju di bagian dadaku dengan cara sedikit memegang payudaraku. “Maaf Bu ...” kata Wahyu dengan suara sedikit bergetar.
“Menurutmu apakah aku masih cantik dan seksi Wahyu ??” tanyaku
“Maksud Ibu ?” jawab Wahyu. “Apakah aku masih terlihat cantik dan seksi dengan usiaku seperti sekarang ini” tanyaku kembali. “Maaf Bu, orang yang bilang kalau Ibu tidak cantik dan seksi berarti orang itu pasti buta Bu.” jawab Wahyu.




Hatiku tambah berbunga-bunga mendengar jawaban Wahyu. Kemudian kami melanjutkan dansa kembali. Tidak berapa lama payudaraku menyembul lagi karena gesekan tubuhku dan Wahyu. Aku rasakan tonjolan di selangkangan Wahyu tambah keras menekan perutku. Aku tahu pasti Wahyu ingin memegang payudaraku kembali. Sengaja aku gerakkan gaunku sehingga agak melorot melewati bahuku. Wahyu semakin terangsang terlihat dari nafasnya yang mulai tidak beraturan.

“Ibu cantik sekali malam ini. Kalau diijinkan saya ingin mencium kening Ibu” kata Wahyu dengan nada bergetar menahan gejolak nafsunya. Aku tambah senang dengan pujian dan perlakuan Wahyu ini. Ternyata dia sangat gentle dan meminta ijin dulu meskipun aku sudah berada di pelukannya. Aku diam saja dan menambah ketat pelukanku di badannya. Akhirnya saat-saat yang kunantikan datang juga, Wahyu dengan lembut mencium keningku. Baru kali ini aku diperlakukan sebagai seorang wanita yang begitu bernilai dan berharga oleh seorang laki-laki, berbeda dengan keseharianku yang selalu dihargai sebagai seorang pimpinan.

“Terima kasih Wahyu” kataku sambil menengadahkan wajahku untuk memandang wajahnya. Wajahnya begitu tulus dan penuh kasih sayang. Setelah itu aku beranikan untuk mendekatkan bibirku ke bibirnya. Wahyu menyambutku dengan ciuman lembut di bibirku. Ciuman yang lembut dan penuh perasaan. Kami berciuman cukup lama sambil memainkan lidah kami berdua. Sejenak aku menghentikan kegiatan ini untuk memandang Wahyu dan memberikan senyum yang terindah untuknya.

“Maaf Bu saya sudah lancang berbuat seperti ini, tapi Ibu sangat cantik sekali dan saya sangat bangga dan bahagia bisa memeluk serta mencium Ibu seperti ini ...”

Aku tempelkan jari telunjukku dibibirnya untuk memintanya tidak berkata-kata lagi. Kemudian kami berciuman lebih mesra lagi. Tangan Wahyu mengusap-usap punggungku yang tidak tertutup oleh gaunku. Tanganku meraba-raba dada bidang Wahyu yang tegap dan berotot. Ciuman Wahyu lambat laun turun ke leherku ... aku cuma merintih merasakan sensasi nikmat yang dilakukan oleh Wahyu. Tak berapa lama ciuman Wahyu turun ke bahuku yang putih mulus ..... ciuman lembut itu semakin menaikkan gairahku. Rintihanku semakin menjadi-jadi . Usapan Wahyu sekarang berpindah dari punggungku ke arah bawah menuju pantatku. Sampai sini dia sedikit kaget karena tidak ada tanda-tanda bahwa aku mengenakan CD dibalik gaunku.

Ciuman Wahyu di bahuku berpindah dari bahu kiri, leher, bahu kanan berulang-ulang, sambil memberikan usapan dan sedikit remasan-remasan lembut di pantatku. Aku semakin tidak tahan dengan perlakuan lembut dari Wahyu. Aku mulai membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan Wahyu. Akhirnya tanganku bisa merasakan langsung dada Wahyu yang tegap dan berotot. Usapanku berhenti sebentar di bawah pusar Wahyu untuk melepaskan ikat pinggang dan kancing celananya. Wahyu juga tidak tinggal diam dengan hal ini. Tangan Wahyu mulai menurunkan gaunku dengan menggeser tali yang ada di bahuku. Pelan namun pasti gaunku melorot melewati kedua bahuku, berhenti sejenak melewati kedua tanganku dan akhirnya lepas jatuh ke bawah melewati kedua kakiku. Aku benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di tubuhku.

Wahyu menghentikan sejenak ciuman di bahuku untuk memandang dan memperhatikan setiap bagian tubuhku.

“Ibu benar-benar cantik dan sempurna, tubuh Ibu sangat indah sekali.” bisik Wahyu kepadaku dengan nada bergetar. Aku benar-benar senang dengan pujian Wahyu. Kemudian Wahyu menundukkan wajahnya untuk mencium payudaraku sebelah kiri. Ah .... begitu lembut dan nikmatnya ciuman Wahyu.. Putingku dikulum dan dimainkan dengan lidahnya. Aku cuma bisa pasrah merasakan kenikmatan ini. Tangan kanan Wahyu meremas lembut payudara kanan ku, dan tangan kiri Wahyu mengelusi kedua belah pantatku secara bergantian. Hal ini dilakukan juga bergantian untuk payudara kananku.

Oh ... betapa nikmatnya perasaan ini. Baru kali ini aku diciumi dan diperlakukan dengan lembut seperti ini. “Sayang ..... kita pindah ke kamar saja ....” ajakku kepada Wahyu. Wahyu tersenyum kemudian membopongku masuk ke dalam kamar. Sambil menggendongku dia tidak henti-hentinya mencium bibir, leher, bahu dan payudaraku. Sampai kamar dia meletakkan aku dengan penuh hati-hati .....

“Ah .... kamu curang Wahyu ..... bajumu belum dibuka ....” kataku sambil tertawa. Wahyu membuka baju dan kaos dalamnya, sedangkan aku membantu menurunkan celana panjang dan CD-nya. Akhirnya kami sama-sama telanjang bulat. Baru kali ini aku melihat laki-laki selain suamiku telanjang bulat di hadapanku, demikian juga ini kali pertama aku telanjang di hadapan laki-laki selain suamiku.

Batang kemaluan Wahyu ternyata sangat panjang dan keras, lebih besar dari kepunyaan suamiku. Aku pegang dengan kedua tanganku secara bergantian. Urat-uratnya begitu terasa di telapak tanganku, dan kepalanya mirip jamur sangat menarik perhatianku.

“Ibu suka mencium punya Bapak ??” tanya Wahyu kepadaku. “Aku belum pernah melakukkannya. Jangan panggil Ibu .... aku ingin kamu memanggilku sayang, malam ini aku milikmu sepenuhnya sayang .....” jawabku.

“Sayang mau mencobanya ?? ” kata Wahyu. Aku mulai memberanikan menciumi batang kemaluan Wahyu yang panjang dan keras. Mula-mula memang rasanya aneh ..... tapi lama kelamaan asyik juga. Batang kemaluan Wahyu tidak bisa masuk semua ke mulutku, aku gerakkan pelan-pelan maju mundur. Wahyu merasa keenakan dan sedikit meremas-remas rambutku. “Ah ..... enak sekali sayang .......”

Setelah cukup lama ..... Wahyu memintaku untuk menghentikan kulumanku. Wahyu mencium bibirku sambil mendorongku untuk rebahan di kasur. Kami berciuman dengan penuh perasaan, tangan wahyu meremas lembut payudaraku secara bergantian. Kemudian ciuman Wahyu bergeser ke leher .... bahu dan kedua payudaraku. “Sshh...... enak sekali sayang ......” rintihku kepada Wahyu. Ciuman Wahyu bergerak turun ke bawah .... melewati pusarku .... berhenti sejenak untuk menciumi perutku yang rata. Aku tambah menggelinjang tak karuan merasakan sensasi nikmat ini.

Ciuman Wahyu terus bergeser ke bawah pusarku .... mendekati vaginaku yang bersih tanpa bulu (habis dicukur sore harinya) ..... tak berapa lama aku merasakan Wahyu menciumi vaginaku dengan lembutnya. Kakiku sedikit dilipat agar lebih memudahkan Wahyu untuk mengeksplorasi organ intimku. Kadang lidah Wahyu menjilat .... klitorisku digaruk dan digigit kecil dengan gigi Wahyu ....... Oh .... benar-benar nikmat sekali. Baru kali ini aku merasakan nikmat yang tiada tara.... “Eh ...m... ..... enak Wahyu ..... terus Wahyu .....” Ciuman, jilatan dan gigitan Wahyu terus dilakukan terhadap organ intimku .... sampe aku merasakan nikmat yang tiada tara dan rasanya ada sesuatu yang akan keluar ....”Ssh ..... sayang .... terus sayang ..... aku mau keluar .....” Akhirnya aku keluar sambil menjepitkan kedua pahaku dikepala Wahyu. Pantatku aku tekan-tekankan ke mulut Wahyu seakan-akan tidak mau kehilangan ciuman Wahyu di vaginaku.

“Oh ..... nikmat sekali sayang ..... kamu pintar sekali membuat aku merasakan puncak kenikmatan seperti ini.” Badanku serasa lemas, aku lihat batang kemaluan Wahyu masih tegak berdiri dengan gagahnya. Wahyu terdiam sejenak untuk memberikan aku waktu memulihkan tenagaku.

Setelah cukup, Wahyu mulai mencium payudaraku lagi secara bergantian. Dikulum dan dijilatnya putting payudaraku sehingga menaikkan gairahku kembali. Tangannya secara lembut mengelusi vaginaku yang sudah basah oleh cairan orgasmeku. Tak henti-hentinya dia memuji diriku yang masih tetap cantik dan menggairahkan. Aku semakin tersanjung dan merasa dihargai di hadapan Wahyu.

Pelan namun pasti Wahyu mengarahkan batang kemaluannya ke vaginaku. Aku pasrah dan menunggu dengan harap-harap cemas merasakan batang yang besar itu akan memasuki lobang vaginaku.

“Sudah siap sayang ??” kata Wahyu sambil menciumi leher dan payudaraku. Aku mengangguk dan tersenyum mesra kepadanya. Perlahan-lahan aku merasakan batang yang besar itu masuk ke lobang vaginaku.... “Ahhhh ..... besar sekali sayang ....”. Wahyu menghentikan sebentar gerakan batang kemaluannya. Hal itu dilakukan berulang-ulang ... dengan penuh kesabaran dan perasaan agar aku tidak merasa sakit. Akhirnya masuk semua batang kemaluan Wahyu yang besar itu ke dalam lobang vaginaku. Lobangku terasa sesak dan berkedut-kedut. “Ohhhh........ punyamu serasa sampe ulu hati sayang ... besar sekali ....” kataku. “Iya sayang ...... memek sayang sangat nikmat .... sesuai dengan kecantikan sayang .... selain itu masih sempit sekali sayang ...” kata Wahyu memujiku.

Setelah beberapa saat, Wahyu menggerakkan batang kemaluannya maju mundur secara perlahan-lahan .... sensasi yang aku rasakan tidak dapat aku katakan. Tanganku melingkar ke leher Wahyu, sambil sesekali Wahyu mencium bibir, leher dan payudaraku secara bergantian. Tangan Wahyu juga tidak tinggal diam, meremasi dengan lembut kedua payudaraku.

“Orgh...... nikmat sekali sayang ..... ssshs,.... enak sekali sayang ...... “

Gerakan Wahyu kadang-kadang pelan kadang-kadang cepat, beberapa tusukan pendek dan sekali tusukan dalam membuat aku semakin tidak tahan menerima perlakuan ini.

“Argh ....terus sayang .... terus sayang .......”



Tak terasa sudah 20 menit kami mengayuh biduk cinta kami. Peluh dan keringat membasahi tubuh telanjang kami. Meskipun ruangan kamar menggunakan AC tetapi tidak sanggup meredam gelora panas permainan kami. Tak berapa lama ....”Argh ..... aku hampir keluar sayang .... lebih dalam lagi sayang” erangku. Wahyu semakin mempercepat kocokan kemaluannya di vaginaku. ...... “Aarggh........ aku keluar ....... sayang ........” Aku mendapatkan puncak kenikmatanku yang kedua. Memang hebat Wahyu ini, dia belum ada tanda-tanda mau keluar sedangkan aku sudah 2 kali. Wahyu memberikan waktu untuk aku beristirahat tanpa mencabut batang kemaluannya dariku. Diciumnya bibirku dengan penuh perasaan .... “Aku sayang kamu Ibu Vera ......sudah lama aku memimpikan seperti ini .... aku sangat mencintaimu ....”

Kemudian Wahyu memintaku untuk berbalik dengan posisi menungging, sepertinya dia ingin bermain dari belakang. Dengan posisi ini batang kemaluan Wahyu semakin terasa sesak di kemaluanku. Tusukan kemaluan Wahyu kadang-kadang cepat ... kadang-kadang lambat. Aku mengimbanginya dengan memutar-mutar pantatku sambil gerakan maju-mundur .... “ahh.... nikmat sekali ......” Kedua tangan Wahyu meremas lembut kedua payudaraku ......”Uggh....... terus sayang ..... terus ....burungmu enak sekali .....”. “Sssshh .....memekmu sangat nikmat sayang ...... aku ingin terus menyetubuhimu sayang .....” erang Wahyu yang semakin menambah gairahku. Tak berapa lama aku merasakan ada dorongan hebat di kemaluanku ......”Arghg.... aku nggak tahan sayang ...... aku mau keluar lagi ......” jeritku .... akhirnya ....”Arghg ........ aku sampeee sayang. .......”

Aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa, selama ini aku nggak pernah bisa orgasme lebih dari 1 kali. Tapi kali ini aku benar-benar dibuat bahagia oleh Wahyu. Batang kemaluan Wahyu masih menancap di vaginaku. Punggungku diciumi oleh Wahyu dengan lembut dan penuh perasaan. Kadang-kadang digigit-gigit kecil sehingga memancing gairahku lagi. Tangan Wahyu masih tetap meremasi kedua payudaraku.

“Enak sayang ...??” bisik Wahyu kepadaku.
“Kamu hebat sekali sayang ...... “ jawabku sambil mencium bibir Wahyu. Cukup lama kami berciuman tanpa Wahyu menggerakkan batang kemaluannya yang masih menancap di vaginaku. Hanya tangan Wahyu yang aktif meremasi dan kadang-kadang memelintir putting payudaraku sehingga gairahku naik lagi.

“Kamu belum keluar ya sayang ...... sekarang gantian aku yang akan memuaskanmu.” kataku sambil melepaskan batang kemaluannya dari vaginaku. Wahyu aku minta untuk rebahan di kasur dan aku bergerak untuk mengangkangi kemaluan Wahyu.

Argh ..... besar sekali batang kemaluan ini ...... Aku gerakkan pantatku memutar, maju mundur, ke atas bawah .... benar-benar seperti cowboy lagi menunggang kuda. Aku benar-benar menikmati permainan ini. Semakin lama gerakanku semakin cepat .... Tangan Wahyu memegang pinggangku untuk membantu gerakanku naik turun. Sesekali diciumnya payudaraku sambil digigit-gigit kecil ......

“Kamu cantik sekali sayang .... tubuhmu sangat mulus dan indah .... aku ingin selalu menikmati tubuh indahmu sayang .....” bisik Wahyu kepadaku. Aku sangat senang dengan pujian Wahyu. Hal ini menambah gairahku untuk semakin memuaskan Wahyu. “Arggh ...... terus sayang .... jepit sayang ......” teriak Wahyu ...... sekitar 20 menit aku rasakan batang Wahyu tambah membesar ..... mungkin ini saatnya Wahyu ejakulasi. Aku mempercepat goyangan dan gerakan pantatku karena aku juga mulai merasakan sesuatu yang akan keluar dari vaginaku. Vaginaku terasa berkedut-kedut seakan-akan menyedot kemaluan Wahyu ..... Oh ...... benar-benar nikmat sekali yang kurasakan.

“Sshh ....sayang ..... kita keluar sama-sama ..... “ erangku. Tangan Wahyu memegang pinggangku dengan kuat agar batang kemaluannya lebih tertekan masuk ke vaginaku. “Arggh ..... aku keluar cantik ......” Pada saat bersamaan aku juga berteriak ....”Aku keluar lagi sayang ..... ssh......h..s...” Batang kemaluan Wahyu berkedut dan menyemprotkan spermanya ke dalam rahimku. Lebih dari 8 kali kurasakan semprotan sperma Wahyu. “Oh ...... nikmat sekali sayang .....” badanku rebah menindih tubuh Wahyu. Keringat kami bercucuran dan menambah erotis pemandangan bagi siapapun yang melihatnya. Wahyu memelukku dengan erat dan mencium bibir dan leherku dengan gemas.

Kami terdiam beberapa lama untuk menikmati surga dunia yang barusan kami lalui bersama. Kemaluan Wahyu masih tertancap di lobang kemaluanku. Benar-benar pengalaman senggama yang melelahkan dan membahagiakan. Kami berciuman dengan mesra bagaikan sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Tangan wahyu sesekali mengelusi punggung dan pantatku. Kemudian Wahyu mencium keningku ...”Aku sayang kamu Ibu Vera ...... aku ingin selalu menikmati keindahan dan kecantikan tubuhmu ....”

“Aku juga sayang kamu Wahyu ...... aku benar-benar merasakan indahnya sex bersamamu.” jawabku.

Cukup lama kami berpelukan sambil saling mengelusi tubuh kami berdua. Sesekali tangan Wahyu dengan nakal memilin puting dan meremas lembut payudaraku. Kadang-kadang bibir Wahyu juga ikut merasakan kekenyalan dan keindahan payudaraku. Gigitan wahyu meninggalkan tanda merah di kedua payudaraku. Oh .... indahnya malam ini ..... batinku. Kulirik jam dinding, jarumnya menunjukkan pukul 11.30 malam. Ternyata cukup lama juga kami bermain cinta. Wahyu benar-benar lelaki sejati yang bisa membuatku sangat bahagia.

Setelah itu aku mengajak Wahyu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di sana kami berdua saling menyabuni dan mengelusi. Tangan Wahyu menyabuni tubuhku. Wahyu paling suka mengusap-usap kedua payudaraku yang menurutnya sangat indah. Ukurannya 34B dengan puting berwarna merah muda yang menurutnya sangat pas, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Kamipun melakukan persetubuhan lagi di kamar mandi .... di shower dan dilanjutkan di bathub.

Sekitar jam 02.00 pagi Wahyu mohon ijin untuk pamit pulang ke rumahnya. Sebenarnya aku menahannya agar bermalam dan tidur menemaniku malam ini. Aku ingin tidur dipelukannya dan merasakan kasih sayang dari Wahyu. Aku ingin menghabiskan malam ini berdua saja dengan Wahyu dan tentunya bermain cinta. Wahyu menyampaikan bahwa sebenarnya dia juga ingin tinggal dan menemaniku malam ini bahkan kalau bisa selamanya. Tetapi karena khawatir akan ada kecurigaan seadainya pembantu atau keluargaku ada yang datang lebih awal maka lebih baik kalau dia pulang ke rumahnya saja.

Wahyu mencium keningku sambil berkata “Aku sayang kamu cantik ......”.
“Aku juga sayang kamu Wahyu .....” jawabku sambil memeluknya.
“Oya .... aku ingin ini dan ini cuma jadi milikku.” candanya sambil meremas payudaraku dan vaginaku.
“Iya sayang .... aku juga berharap cuma kamu yang menikmati tubuhku ini. Dan ..... aku juga ingin batang perkasa ini selalu memenuhi lobang memekku sayang .....” jawabku sambil meremas batang kemaluannya.

Kami berdua tersenyum dan berpelukan seakan tidak ingin terpisah. “Aku akan merindukanmu Wahyu ...” kataku. “Aku juga merindukanmu cantik ......” kata Wahyu. “Bobo' yang nyenyak ya sayang .... bye ...” sambung Wahyu sambil mencium keningku sekali lagi.

Aku menunggu di depan rumah sampai mobil Wahyu tidak kelihatan lagi di tikungan jalan. Oh ... betapa indahnya malam ini. Aku seperti seorang gadis yang baru menemukan cinta pertamanya, rasa sayang yang tulus dari seorang laki-laki.

Aku sayang kamu Wahyu ......

Permainan Istriku Ketika Di Pijat



Sudah sekitar 2 bln terakhir ini gw sering berfantasi yg mungkin bs dibilang nakal. Yakni merasa lbh horny jk melihat istri gw ML sm cowok lain. Ya.., mungkin krn khdpn seks yg monoton. Seiring dengan berjalannya waktu gw berhasrat ingin mencoba merealisasikan fantasi gw tsb.

Istri gw tergolong alim & pemalu. Pernah gw pancing ide gila ini sewaktu sedang ML dengannya. Walhasil... do’i marah bro.

Hingga suatu hari muncul ide yg mnrt gw cocok untuk merealisasikan fantasi gw tsb.

Awalnya gini, untuk menjaga kebugaran & vitalitas tubuhnya, istri gw sering dipijat. Tp selama ini yg mijat adl ibu2x tua. Ya.., namanya juga tukang pijat beneran.

Sedikit info ttg istri gw, usianya 29 th, tingginya 165cm, ukrn bra 36B. Kulit kuning langsat. Facenya sepintas spt Dina Lorenza.

Kejadian ini berawal ketika suatu hr gw pernah baca iklan dikoran tentang pijat refleksi. Bermodalkan info tsb, lalu gw ketempat pemijatan tsb. Singkat cerita, setelah mendapatkan info yg gw butuhkan, akhirnya gw membuat janji dgn pengurus panti pijat tsb mengenai kapan, siapa yang yg memijat & dipijat, kategori pemijatan & tempatnya.

Di hari & tempat yg telah dipersiapkan, sekarang gw tinggal menunggu waktunya sj. “Jam berapa Mas pijatnya?” tanya F istri gw. “Jam 9”. “Kok ga suruh Bi Tika sj sih yg pijat. Kaya’ biasanya?” “Pijat yg satu ini lain. Namanya juga refleksi. Bukan spt pijat urut biasa. Tp fungsi utamanya utk merelekskan otot2x yg kaku. Bahkan bs menyembuhkan penyakit tertentu jika rutin”.

Tepat jm 9 lwt 10 menit sang pemijat pun datang.

“Malam Mas T. Maaf sy sdkt terlambat.” “Ndak apa2x. Kebetulan anak2x sdh tidur, jadi ga ada yg ganggu. Maklum msh kecil2x.”

Setelah perkenalan sejenak dgn istri gw, lalu acara pemijatan pun dimulai.

Sengaja gw pilih ruang kamar tidur khusus tamu dlm proses pemijatan kali ini. Karena sebelumnya gw sdh memasang hidden cam di salah sudut kmr tsb. Jd nanti gw bs leluasa memantau seluruh isi ruangan.

“Bisa dimulai skrng Mbak F” tanya A kepada istri gw. Sdkt info lagi, pemijat yg gw pilih memang usianya lebh muda 3 th dr istri gw. Dan face-nya pun lumayan ganteng. Kulitnya kuning, tinggi sktr 170 cm.

Istri gw berbaring telungkup diranjang yg memang khusus utk 1 orang. Dia hanya berbalut kain tp msh menggunakan bra & cd.

A memulai aksinya. Pijatan dimulai dari telapak kaki. Gw memperhatikan dgn seksama setiap gerakannya.
“Kalo terasa sakit, bilang ya Mbak,” ucap B kepada istri gw. “Iya,” jwb F singkat.
Sambil memijat B berusaha bersikap sopan baik dlm berbicara maupun bertindak. Dan untuk mencairkan suasana, kami bertiga pun terlibat perbincangan ringan.

Hampir 10 menit berlalu, tahap pemijatan berhenti didaerah lipatan dengkul. Kemudian B beralih ke punggung.

“Maaf Mbak F, sy buka bra-nya ya. Soalnya mau diberi minyak?” Dengan posisi kepala yg miring, Istri gw melirik kearah gw. Dan gw pun mengangguk pelan. “Buka sj A, biar nggak mengganggu,” jwb gw.

F mulai kelihatan rileks. Dan dia mulai menikmati pijatan B didaerah punggungnya.

“Aku ke WC dulu Ma, udah kebelet nich,” kata gw pura2x. Padahal disinilah awal fantasi gw bermulai. Lalu gw meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.

Keluar dr kamar gw tdk menuju ke WC melainkan ke ruang tamu sambil menghidupkan alat perekam dr hidden cam yang sdh gw pasang.

Video receiver & recorder yg gw beli cukup kecil tp lumayan canggih. Selain kualitas gambar yg cukup bgs, alat ini juga dilengkapi dgn audionya.

Sungguh pemandangan yg bs bikin horny melihat istri gw disentuh & diraba oleh pria lain. Apalagi ketika A minta izin istri gw utk menurunkan sdkt cd-nya krn akan memijat daerah pantat.

Gw semakin horny ketika melihat aksi A yang agak menekan-nekan jarinya didaerah pangkal tulang ekor pantat istri gw. Dan istri gw pun kelihatannya semakin rileks dan menikmati setiap sentuhan & pijatan A.

Gw mengambil inisiatif utk cari alasan keluar rumah supaya mereka bisa lebih leluasa. Dgn berpura-pura keluar dr WC, gw msk lagi kedalam kamar.

Pemandangan yang indah. Kini cd F sudah berada di daerah dengkulnya. Meskipun pantatnya tertutup kain.

“Ma., aku keluar sebentar mau beli nasi goreng. Mama mau nggak?” Istri gw hanya menjawab dgn gelengan pelan dengan mata yg terpejam.

Kelihatannya dia sudah benar2x rileks. Lalu gw pun keluar dgn menghidupkan motor. Dan berlalu.

Beberapa meter dr rumah, gw mematikan mesin. Lalu gw kembali lg kerumah. Dan masuk lewat pintu belakang yg sengaja tdk gw kunci. Dari dlm dapur, gw mulai menonton aksi A.

Pemandangan yg gw lihat semakin indah. Kini cd F sudah terlepas dari tubuhnya. Samar-samar gw bisa mendengar percakapan mereka krn gw sengaja mengecilkan volume audionya.
A sekarang memijat bagian paha F. Ketika kamera zoom-nya diperbesar, gw dpt melihat dgn jelas ada sesuatu yang menonjol dibalik training A.

“Jika terasa sakit, bilang ya Mbak.” F hanya mengangguk pelan. Tangan A semakin naik keatas pangkal paha F. Terlihat jelas posisi F yang mulai berubah. Dia mungkin sdng menahan geli atau juga merasakan sensasi tertentu ketika jari2x A terkadang dengan sengaja menyentuh vaginanya.





Posisi kaki F sekarang tidak serapat pada saat mulainya pemijatan. Sedikit demi sedikit mulai melebar baik sengaja atau pun karena akibat pijatan A yg membuatnya bergeser.

“Enak Mbak F?” Istriku hanya terdiam. Mungkin karena agak malu.
“Mas T beli nasi gorengnya di mana mbak?” “Di daerah L” balas F.

Jarak tempuh dr rumah ku ke daerah L sekitar 15 menit PP. Proses pemesanan kira2x 15 menit. Jadi ada wktu 30 menit. Mungkin itu yg ada dalam benak A.

A menuangkan sedikit minyak di atas bongkahan pantat F. Dan mulai memijat lembut lalu turun kearah anus F. Mendapat sentuhan itu F secara reflek menggoyangkan pantatnya.

A merasa mendapat angin segar. Tampak sekali A berusaha merangsang F dgn sentuhan2xnya baik didaerah anus maupun daerah vagina F. Dan sekarang tanpa malu2x lagi bahkan lebih intensif. F istri gw pun tampak semakin menikmatinya.

Suasana horny didalm ruangan gw ganggu sejenak dgn bunyi sms yg sengaja gw kirim ke F yg beritanya bahwa ban motor gw bocor. Jadi mungkin agak lama br bs kembali kerumah.

Jawaban yg gw terima sedikit mengejutkan. “Iya..., ndak apa2x. Sebentar lagi pijatannya udah selesai”. Setelah mengirimkan sms, A melanjutkan lagi pemijatannya.

Kali ini di mulai memijat daerah leher. A berdiri tepat di atas kepala F yang sekarang kepalanya disuruh menghadap sejajar ranjang.

Dengan memijat2x lembut sesekali tangan A mengelus punggung F. Dengan posisi mata tetap terpejam, F nampak sekali menikmati setiap sensasi yang dirasakannya.

Tangan kiri memijat lembut pangkal leher F dan tiba2x tangan kanannya mengelus dan mengusap vagina F yang menurut gw pasti sudah sangat basah.

“Ach...., ach.., terdengar desahan F. “Nikmati saja mbak” ucap A sambil mulai memasukan jarinya kedalam vagina F. “Hmm..., ackh....” Nafas F semakin tidak teratur.

Lalu.., A menarik tangan kanannya dan tiba2x mengeluarkan kontolnya. Kini pemandangan yg kulihat benar2x dahsyat. Dengan posisi berdiri diatas kepala F, kontol A berada tepat dihadapan mulut F. Meskipun F belum menyadarinya karena sedari tadi matanya terpejam. Setelah itu, A memainkan kembali tangannya di daerah vagina F.

“Mbak.., tolong buka matanya,” pinta A. Lalu perlahan F membuka matanya. F sempat kaget mendapati ada sebuah torpedo yang mengacung tegak dan jelas lebih besar & panjang dari punya gw berada tepat didepan mulutnya.

Dengan nafas sedikit memburu, tanpa diperintah, dengan perlahan F mulai mencium dan menjilat kontol A. A memajukan sedikit posisi berdirinya agar F dapat dengan mudah memasukan kontolnya kedalam mulutnya.

Sungguh diluar dugaan gw. Ternyat F yg selama ini gw kenal agak sedikit berbeda. Dengan lembut F mulai mengulum & menghisap batang kontol A. Mendapat perlakukan spt itu, A menyuruh F berbaring terlentang tanpa melepaskan kontolnya dari mulut F.

Lalu A mulai meraba dan menjilat toket F.
Mereka melakukan aksi seperti itu sekitar 5 menit. “Boleh sy masukan mbak?”
F mengangguk pelan. “Jawab dong mbak,” ucap A pelan sambil mulai mencium bibir F. Karena pengaruh libido yg sdh tidak terkendali, gw melihat F mulai bertindak diluar kendalinya.
“Boleh,” ucap F lirih.

Kemudian A memposisikan kontolnya didepan vagina F. Dengan sekali dorongan halus, perlahan-lahan kontol A masuk kedalam memek F. “Aacchhh...,” desah F.

A mulai memompa pantatnya secara perlahan. F yang dalam kendali birahi seolah-olah mengimbanginya.

Oohh., nikmat sekali memekmu mbak. Sempit sekali. Bagaimana kontolku mbak. Nikmat? Tanya A. “Iya...,” “Apanya mbak? Pancing A. “Kontolmu nikmat. Besar & panjang.” Nikmat mana dengan punya suamimu mbak?
“Eh...ackh.. nik..mat kontolmu.”

“Yeaach..., nikmatilah Mbak, nikmatilah kontolku.”
Uch...achk, Terdengar desahan F Istri gw.

“Agak cepat A. Genjot yg cepat. Ack..., yah..., genjot yg keras A.” Teriak F. “Apanya yg digenjot Mbak?” Pancing A. “Memekku A. Genjot memekku.”

“Aa....aaack....., aku hampir sampai A. Terus...., yg cepat..” nafas F semakin memburu.
Perkiraan gw sebentar lagi F pasti akan merasakan orgasmenya. Namun beberapa detik kemudian, ternyata A mencabut kontolnya dari vagina F.

“Jangan dicabut A, please..., aku belum dapet. Please.., masukan lg kontolmu A. Aku mohon...,” pinta F.

“Tenang aja mbak. Pasti aku masukan lagi. Tapi, kita ganti posisi dulu. Sekarang mbak nungging ya..? perintah A.
Demi meraih orgasme dan karena dipengaruhi birahi yg tinggi, F istri gw seolah-olah melupakan statusnya sekarang.

Tanpa diperintah kedua kalinya, F langsung mengambil posisi menungging.
Melihat lubang memek F yang menganga, A langsung mengarahkan kontolnya.
Blezzz.., kontol A yang panjangnya ge perkirakan 20 cm langsung lenyap ditelan memek F istri gw.

“Ackh..., pelan-pelan A,” erang F. Tapi A tdk menghiraukan ucapan F. Begitu kontolnya amblas, langsung digenjotnya cepat-cepat.

“Oh.., yeach.., nikmat sekali memekmu F. Legit.”
Nafas F kian memburu mendapat perlakuan sedikit kasar dari A.
“Terus.., genjot terus yang cepat. Ackh..., ackh...., oohhh..,” F kian meracau.

“Semakin cepat A. Aku udah mau sampe..., ackh..”
Mendengar ucapan F, A tiba-tiba langsung mencabut kontolnya dari lubang memek F.

“Aduh.., please A jangan dicabut. Please..., masukan lagi,” terdengar suara F sedikit menghiba.

Lalu A membalikan tubuh F. Disuruhnya F mengangkang. Kemudian..., Blezzz, kontol A masuk lagi.

Sambil melumat bibir F, dengan genjotan berirama dan pelan A mulai memompa pantatnya.

Gw yang sedari tadi melihat kejadian ini, jadi ikut-ikutan ngos-ngosan menahan nafsu.
Terus terang, gw jadi sangat horny melihat F istri gw di perlakukan sedemikian rupa oleh pria lain.

Hampir 5 menit berlalu, bibir F dan A masih tetap berpagutan, saling hisap dan menjilat. Dan mulai tampak tanda-tanda F akan segera orgasme.

Ciumannya semakin kuat. “Ackh...., ackh...., mmph..., te..rrus.., agak cepat A.”
“Mbak...F,” terdengar pelan suara A sambil mengurangi kecepatan genjotannya.
“Mbak F...., kalo’ mbak pengen sampe, mbak F harus menuruti semua keinginan saya.”

F terdiam sejenak. Birahinya mengalahkan akal sehatnya. Lalu mengangguk pelan.

“Baiklah..., saya akan buat mbak F orgasme dengan syarat mbak harus mau menelan sperma saya. Bagaimana mbak F ?” tanya A sambil tetap memompa pantatnya.

Gila.., batinku. F pasti tidak akan meu melakukan hal itu. Selama ini dia tidak pernah mau jika gw akan ejakulasi di mulutnya. Apalagi menelan sperma.

“Terserah kamu A. Yang penting sy bisa sampe. Puaskan sy sekarang A, please...” pinta F.
Mendengra ucapan F, gw sempat terperanjat. Tapi gw juga penasara, apa betul f mau melakukan hal tersebut.

“Baiklah mbak.” Lalu A mulai menaikan kecepatan genjotannya. Sambil menjilat puting F.

“Yeach..., terus A. Ter..russs., yang cepat A.”
“Ackh..., nikmat sekali mbak memekmu. Ayo mbak..., ucapkan mbak kalo mbak mau menelan sperma sy. Katakan mbak,” perintah A.

“Saya mau sperma kamu A.” “Mau apa mbak? Ucapkan yg jelas.”
“Saya mau menelan sperma kamu A.” “Kamu haus...?” “Iya..., A. Sy haus dan mau menelan perma kamu.”

“Terus...., ohh...., nikmat sekali kontolmu A. Genjot yg cepat A. Sy udah mau sampe...., lebih cepat lagi A.”
“Saya akan memberikan orgasme terhebat yg belum pernah kamu rasakan mbak,” balas A.

Melihat tanda-tanda F akan segera klimaks..., “Nah..., sekarang tahan nafasnya mbak,” perintah A.

F menuruti perintah A. Dia segera menahan nafasnya. “Tahan terus mbak, jangan dikeluarkan dulu sampai mbak sampe,” perintah A lagi.

Beberapa detik kemudian....
“Aaacchkkkk..............,” teriak F. Sungguh pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Mata F terpejam begitu dia memperoleh orgasmenya. Nampak sekali dia merasakan suatu kenikmatan ML yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tubuhnya bahkan menegang keras berbarengan dengan orgasme yang diperolehnya.

Tidak lama setelah F orgasme, tiba-tiba A mencabut kontolnya. Dan mengarahkan ke mulut F.

Sambil mengocok kontolnya dengan cepat, “Sekarang..., buka mulutnya mbak,” pinta A.

Dugaan gw meleset. Gw kira F tidak bakalan mau melakukan itu. Tapi yang gw lihat ternyata sungguh diluar dugaan. F menuruti perintah A.

“Hisap kepala kontol sy mbak,” perintah A. Sambil mengocok dengan semakin cepat, A menghisap dengan kuat kepala kontol A.

“Aa....ackhh....., ackh...., telan mbak. Telan semuanya.” “Tanpa ragu F istri gw menuruti semua perintah A dengan menelan semua sperma A.

Setelah semua spermanya diperas keluar, perlahan A menarik keluar kontolnya dari mulut F.


“Bagus mbak..., bagaimana rasanya ? Nikmat bukan. Sy yakin pasti mbak suka dengan rasa sperma sy. Karena saya bukan perokok.

F hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.

“Orgasme yg mbak alami tadi itu namanya A Little Death. Nikmat nggak?”
“Iya..., sy belum pernah orgasme senikmat itu. Ini pengalaman yg luar biasa,” jawab istri gw.

Setelah beristirahat sejenak, lalu mereka pun berpakaian kembali. Dan gw segera pura-pura kembali dari membeli nasi goreng.

“Ohh.., udh selesai mijatnya,” tanya gw pura-pura. “Udah Mas,” jwb A. Dan setelah ngobrol sebentar, lalu A berpamitan pulang.

“Gimana Ma ? Enak nggak ?” pancing gw. “Lumayanlah,” balas istri gw datar berusaha menutupi kejadian yg sebenarnya.

“Kalo rutin tiap minggu mau nggak ?” pancing gw lagi. “Terserah Mas aja.”

Nah lo......




Pengalamanku



Siang itu cuaca mendung menambah dingin dalam kamarku, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Masih terbayang pijatan majikanku tadi siang, begitu takut, aneh dan juga nikmat, terus terang ini pengalamanku yang pertama dimana tubuhku dijamah tangan laki-laki. Rasa yang menjalar di semua pori-pori kulit, kurasakan keanehan yang terjadi dalam tubuhku yang berujung pada suatu kenikmatan. Aku bingung dan bertanya-tanya, apakah yang terjadi dalam diriku? Ketika di dalam kamar mandi, betapa kagetnya aku, kulihat celana dalamku dalam keadaan basah, padahal tadi tidak merasa ingin buang air, kenapa basah? Setelah aku cium ternyata tidak berbau, air apa yang keluar?


Sebelum kulanjutkan ceritaku ini, perkenalkan namaku Menuk, umurku menginjak 18 tahun dan aku anak bungsu dari lima bersaudara yang kesemuanya wanita. Kakak-kakakku juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ibuku sudah tiada sejak aku berusia dua tahun, sehingga ayahku menikah lagi tetapi tidak mempunyai keturunan. Ketika kakak-kakakku pergi merantau, tinggal aku bersama ayah dan ibu tiriku di desa terpencil pantai utara Jawa Tengah.

Sejak setahun lalu aku bekerja pada sebuah keluarga muda dengan satu orang putri yang baru berusia dua tahun. Majikan perempuanku yang kupanggil ibu adalah seorang karyawati, sedang majikan laki-lakiku seorang pegawai negeri sebuah instansi pemerintah. Kehidupan di dalam rumah tangga majikanku dapat dikatakan harmonis, itu yang membuatku kerasan tinggal bersama mereka. Ibu majikan seorang wanita yang baik, begitu pula dengan suaminya.

Hari Sabtu dimana ibu bekerja, sedang bapak setiap Sabtu dan Minggu libur. Di rumah tinggal bapak, aku dan anaknya. Aku merasa tidak enak badan sejak hujan-hujanan kemarin waktu aku pergi ke pasar. padahal malam harinya aku sudah minum obat, tetapi hingga pagi hari ini aku merasa sakit disekujur tubuh. Walau begitu tetap kupaksakan diri untuk bekerja, karena sudah kewajibanku sehari-hari dalam keluarga ini.

Setelah anaknya tidur, kurebahkan diriku di kamar. Cuaca mendung bulan November, setengah terpejam sayup-sayup kudengar bapak memanggil namaku, tetapi karena badan ini terasa berat, aku tak sanggup untuk bangkit, sampai bapak datang ke kamarku. Bapak terkejut melihat kondisiku, dihampirinya aku dan duduk ditepi ranjang. Aku berusaha untuk bangkit walau kepala ini seperti dibebani ribuan batu, tiba-tiba tangan bapak menyentuh dahiku kemudian merengkuh bahuku untuk memintaku tiduran kembali.

Bapak bilang kalau tubuhku demam, kemudian dia memijit keningku, mataku terpejam menikmati pijitan itu, terasa sakit di kepala dan lemas sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat bapak menyuruhku untuk telungkup, akupun menurutinya. Kuraskana kain bajuku disingkap ke atas oleh bapak, kemudian tali pengait behaku dicopotnyanya. Aku terkejut, tetapi karena lemas aku pasrah saja, kurasakan pijitan bapak dipunggungku. Disinlah awal keanehan itu terjadi. Walaupun kondisi demam, tetapi perasaan itu tetap saja kurasakan, begitu hangat, begitu damai, begitu takut dan akhirnya begitu nikmat, mata kupejamkan sambil menikmati pijatan bapak.

Umur bapak sudah tigapuluhan dan kuakui kalau bapak mempunyai wajah yang awet muda. Disaat aku merasakan pijitan bapak, tiba-tiba kurasakan resluiting celana pendekku di belakang diturunkan oleh bapak. Aku ingin berontak dan membalikkan badan, tetapi ditolak oleh bapak dengan mengatakan bahwa bagian bawahpun harus dipijat, akhirnya aku mengalah walau disertai rasa malu saat bapak melihat pantatku.

Jujur, yang ada di dalam benakku tidak ada prasangka lain selain aku dipijit bapak. Setelah agak lama, bapak menyudahi pijitannya dan aku diberi lagi obat demam yang segera kuminum, bapak kemudian meninggalkan kamarku. Sebelum tidur kuputuskan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Seperti yang telah aku ceritakan di atas, bahwa celana dalamku basah, dan ternyata bukan pipis. Aku raba dan rasakan ternyata berlendir dan agak lengket, aku tidak tahu hubungan basah ini dengan pijatan bapak tadi. Aku tak mampu berpikir jauh, setelah dari kamar mandi, kuputuskan untuk tidur di kamar.

Sore hari gerimis turun, ketika aku tidur, siang tadi ibu majikan dan anaknya pergi kerumah famili serta menginap di sana karena ada hajatan, sementara bapak tinggal di rumah sebab besok Minggu ada acara di komplek. Setelah sesiang tadi aku tidur, kurasakan tubuhku agak mendingan, mungkin karena pengaruh obat turun demam yang aku minum tadi, sehingga aku berani untuk mandi walau dengan air hangat. Selesai mandi terdengar suara bapak dari ruang TV memanggil namaku, aku bergegas kesana.

Bapak menanyakan keadaanku yang kujawab sudah baikan. kemudian bapak menyuruhku membuatkan teh hangat untuknya. Teh kubuat dan kuhidangkan di meja depan bapak, kemudian bapak menyuruhku duduk di bawah depan tempat duduk bapak, kuturuti perintahnya. Ternyata bapak sedang menikmati TV, kemudian bapak memegang pundaku serta memijit perlahan-lahan dan bertanya apakah pijitannya enak, kujawab enak sekali sembari tersenyum, sembari tetap memijat pundakku kami berdua membisu sambil menonton TV.

Lama-kelamaan perasaan aneh itu menjalar lagi, aku merasakan sesuatu yang lain, yang ku tak paham perasaan apa ini, kurasakan sekujur bulu tubuhku mermang. Tiba-tiba kurasakan hembusan nafas di samping leherku, aku melirik, ternyata wajah bapak telah sampai di leherku, aku merasakan getaran-getaran aneh yang menjalar kesemua tubuhku, aku tidak berontak, aku takut, tetapi getaran-getaran aneh itu kurasakan begitu nikmat hingga tanpa kusadari kumirngkan kepalaku seakan memberi keleluasaan bapak untuk mencumbunya.



Tak terasa aku memejamkan mata dan menikmati setiap usapan bibir serta lidah bapak di leherku. Getaran itu kini menjalar dari leher terus turun ke bawah, yang kurasakan tubuhku melayang, tidak mempunyai beban, terasa ringan sekali seolah terbang. Otakku seakan buntu, tidak dapat berpikir jernih, yang kutahu aku mengikuti saja karena pengalaman ini belum pernah aku rasakan seumur hidup, antara takut dan nikmat. Tangan bapak masih memijat pundakku sementara dia masih mencumbui leherku, tak lama kemudian kurasakan tangan itu meraih kancing baju depanku dan membukanya satu persatu dari atas ke bawah.

Setelah semua kancing bajuku terlepas, kembali tangan bapak memijat bahuku, semua itu aku rasakan dengan melayang-layang, perlahan tapi pasti kedua tangan bapak menyentuh ke dua payudaraku, aku kaget. Kedua tanganku lalu memegang tangan bapak, bapak membisikkan supaya aku menikmati saja pijitannya, tanganku akhirnya terlepas dari tangan bapak. Lagi-lagi kurasakan sesuatu getaran aneh, hanya getaran ini lebih dahsyat dari yang pertama, payu daraku diremas tepatnya daripada dipijit, walau masih memakai bh.

Kemudian tangan bapak kembali kepundakku, ternyata diturunkannya tali bhku, perlahan-lahan diturunkan sebatas lengan, sementara ciuman bapak masih di leher, kadang leher kiri, kadang leher kanan. Aku melayang hebat, dimana kedua tangan bapak meraih payudaraku dari bagian atas turun ke bawah, sesampai di putingku remasan berubah menjadi pilinan dengan jari, aku sempat membuka mata, tetapi hanya sesaat, getaran aneh berubah menjadi sengatan. Sengatan kenikmatan yang baru ini kualami, dipilin-pilinnya kedua putingku, tak sadar ku keluarkan desahan pelan.

Secara tidak kusengaja, tangan kiriku meraba celana dalamku sendiri, kurasakan gatal disekitar kemaluaku, ternyata kemaluanku basah, aku tersentak dan memberontak. Bapak kaget, kemudian menanyakan ada apa, aku tertunduk malu. Setelah didesak aku menjawab malu, kalau aku ngompol. Bapak tersenyum dan berkata bahwa itu bukan ompol, lalu bapak berdiri dan membimbingku duduk di sofa.

Bapak menanyakan padaku, yang kujawab bahwa ini pengalamanku yang pertama, kemudian bapak mengatakan ingin memberi pengalaman selanjutnya dengan catatan supaya aku tidak menceritakan pengalaman ini pada siapa saja. Aku hanya mengangguk dan menunduk, tak berani kutatap mata bapak karena malu. Di luar hari sudah berganti malam, gerimis pun berubah menjadi hujan, tetapi aneh, hawa di ruang TV berubah menjadi hangat, apakah ini hanya perasaanku saja?

Sementara aku duduk di sofa, bapak malah jongkok dihadapanku. Aku rikuh dan menundukkan kepalaku. Tiba-tiba bapak maju menuju payu daraku dan menciuminya, seperti bayi menetek ibunya. Aku berkata malu, tetapi di jawab bapak untuk menikmati saja. Sengatan itu kembali menyerangku ketika ciuman bapak berubah menjadi jilatan dan kuluman di putingku, aku kembali terpejam dan mengerang, tak kusadari tanganku berada di kepala bapak, mengelus dan sedikit menjambak rambut bapak. Aku tidak kuat menyangga tubuhku, perlahan dan pasti tubuhku terjatuh di sofa, bapak membetulkan posisiku sehingga tiduran disofa. Kemudian jilatan bapak berlanjut diperutku, sementara tangan kiri bapak di payudaraku, tangan kanan meraba dari betis naik ke paha serta menyingkap rok yang kukenakan.

Aku sudah kehilangan akal sehat, hanya bisa diam dan menikmati setiap jilatan dan elusan bapak. Aku terkejut pada saat jilatan bapak sampai ke celana dalamku, aku mengatakan bahwa itu kotor dan pesing, tetapi dengan sabarnya bapak menenangkanku untuk tetap saja menikmatinya. Aku hanya terdiam dan pasrah, di antara takut dan malu serta rasa nikmat yang tak kuduga sebelumnya. Perlahan bapak membuka rok serta mencopot celana dalamku dan menciumi rambut kemaluanku, Takut bercampur geli berkecamuk di dalam dadaku, kurapatkan kedua pahaku menahan geli, tetapi keanehan terjadi lagi, lama kelamaan tanpa kusadari kedua pahaku membuka dan semakin lebar.

Posisi ini memudahkan bapak untuk mencumbu lebih dalam. Tiba pada bagian tengah atas kemaluanku, kurasakan ujung lidah bapak menyengat yang lebih dahsyat lagi, tanpa kusadari kunaikkan pantatku ke atas ke bawah, aku meracau tidak karuan, sukar kulukiskan dengan kata-kata perasaan ini. Kurasakan dunia gelap dan berputar, sayup-sayup kudengar suara kecipakan di sekitar selangkanganku, hingga ada suatu desakan dari dalam kemaluanku, desakan itu tak dapat kutahan, sesuatu yang akan meledak keluar, seperti bila ingin pipis, tetapi ini lebih dari itu. Tanganku tak dapat kukendalikan, kujambak rambut bapak sambil menekan kepalanya pada kemaluanku. Aku melonjak, mengjan. menahan, meracau, tiba-tiba sesuatu itu keluar dari dalam kemaluanku, kemaluanku basah... bahkan banjir... kurasakan aku ngompol...

Setelah itu tubuhku lemas, keringat membanjiri tubuhku, tulang-tulangku terasa lepas dari tempatnya... perasaan apa ini? antara nikmat... kebelet pipis... dan lemas... Kulihat bapak tersenyum dan mengelus rambutku, bapak menanyakan apa yang aku rasakan. Kubalas dengan tatapan yang bertanya-tanya, tetapi aku tidak dapat berkata-kata, diantara nafasku yang masih memburu, aku hanya tersenyum dan memandangnya sayu.

Bapak berlutut di sampingku, melepas sarungnya, meraih tanganku dan membimbingnya untuk memegang tengah celana dalamnya, kuturuti, kuraba dari luar celana dalam bapak, ini pun pengalaman pertamaku memegang kemaluan laki-laki. Kurasakan sesuatu menonjol keras ke atas di tengahnya, bapak menikmati elusanku dan kuliirik mata bapak setengah terpejam.

Tak lama, dia menurunkan celana dalamnya, sesaat kuterpekik melihat benda yang baru kali ini kulihat. Bapak mengajariku untuk mengurut benda itu dari atas ke bawah, aku geli memegang benda itu, empuk tapi keras... keras tapi lentur... Bapak membangkitkanku dari rebahan, kemudian menyuruhku untuk menjilat benda itu, karena tadi bapak sudah menjiltati kemaluanku, apa salahnya kalo sekarang aku menjilati kemaluannya, pikirku.

Pertama memang kujilati benda itu, lama-kelamaan kumasukkan benda itu ke dalam mulutku, aku ingat masa kecilku ketika menjilati es krim. Benda itu berdenyut-denyut di dalam rongga mulutku, aku merasa aneh tetapi senang, seperti anak keci mendapat makanan kesukaannya. Tiba-tiba bapak mengerang sambil menarik kepalaku, benda itu berkeduk hebat, aku heran ada apa ini, tetapi benda itu tak dapat kulepaskan, karena kepalaku ditahan tangan bapak, kemudian kurasakan suatu cairan terasa di mulutku yang akhirnya daripada tersedak, cairan itu kutelan habis, terasa amis... gurih... sedikit asin. Kulihat bapak mendengus, seperti habis lari jauh, nafasnya tersengal-sengal. Dia tersenyum dan memelukku, aku merasa damai dalam pelukannya.



Bapak mengajakku ke kamar mandi, sebelum kami masuk, bapak melucuti sisa pakaianku dan juga pakaiannya. Aku merasa heran, aku menurut tanpa ada perlawanan, mungkin karena nikmat yang baru saja pertama kali aku dapat. Di dalam kamar mandi, bapak memandikanku, bapak mengagumi bulu-bulu yang tumbuh di ketiak dan selangkanganku dan berpesan agar aku tetap memelihara dan melarang memotongnya.

Pada saat bapak menyabuniku, getaran-getaran aneh menyerangku lagi. Geli bercampur nikmat menyelimuti seluruh tubuhku, sehingga tak terasa aku mulai mendesis lagi, bapak bilang bila aku tidak tahan keluarkan saja erangan itu, tapi aku malu.


Setelah aku selesai disabuni, bapak menyuruhku menyabuninya, dengan rasa takut-takut kusabuni punggung sampai kakinya, pada giliran tubuh bagian depan, kulihat kemaluan bapak yang tadinya lemas tampak kokoh berdiri. Bapak mengatakan enak disabuni olehku, dia meraih wajahku dan mencium mulutku, aku merasakan getaran semakin hebat ketika lidah bapak bermain di dalam rongga mulutku, aku hanya terdiam dan menikmati permainan lidah bapak, perlahan kuimbangi permainan lidah bapak dengan lidahku sendiri, kami saling berpagutan.

Bapak membimbing tanganku untuk menyentuh kemaluannya yang masih terbalut sabun, aku merasakan licin serta mengocoknya. Payudaraku pun menyentuh dada bapak yang licin oleh sabun, terasa mengeras di kedua putingku, kami berpelukan... berciuman dan saling bergesekan... aktivitas ini menimbulkan gelinjang kenikmatan yang tiada tara bagiku. Setelah tubuh kami berdua tersiram air dan bersih dari sabun, bapak menyuruhku untuk menghadap wastafel setengah menunduk sembari kakiku direnggangkannya, bapak jongkok membelakangiku dan mulai menjilati pantatku, aku menengok ke belakang dan bapak hanya tersenyum.

Pada saat lidah bapak menyentuh dan mempermainkan duburku, aku tersentak dan sedikit mengangkat kakiku, kurasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan, aku mendesis, kemaluanku basah dan lengket, sehingga tangan kiriku tak sadar meraba daging bulat kecil yang mengeras di tengah kemaluanku sembari mengosok-gosok dan menekannya, secara naluri bagian itu yang kurasakan dapat memberi kenikmatan yang tiada terkira.

Tak lama berselang aku berasa ingin pipis lagi. Tangan kananku mencengkeram erat bibir wastafel, mengerang hebat, tangan kiriku kutekan kuat pada benjolan kenikmatanku, aku meladak lagi, nafasku memburu tidak karuan, sesaat aku merasa lemas dan seakan hilang pijakan tempatku berdiri. Bapak menangkapku kemudian membopongku menuju kamarku.

Direbahkannya diriku di tempat tidur, bapak duduk di tepi tempat tidurku sembari mengelus rambutku, tersenyum dan mengecup keningku, hatiku tentram, nafasku mulai teratur kembali. Setelah semuanya kembali normal bapak merebahkan dirinya di sisiku, tanpa bicara, bapak meraba payudaraku, serta menjilatinya. Getaran-getaran itu datang kembali menyerangku, aku menggelinjang serta mengeluarkan suara-suara desisan, kuremas kepala bapak sembaru kutekan ke arah dalam payudaraku.

Bapak naik ke atas tubuhku, menyodorkan kemaluannya untuk kujilat lagi, kuraih dan kukulum kemaluan bapak seperti layaknya menjilati es krim, bapak memaju-mundurkan pantatnya sehingga kemaluan bapak keluar masuk dalam mulutku. Aku menikmati keluar masuknya kemaluan bapak di dalam mulutku. setelah beberapa saat, bapak melepaskan kemaluannya dari mulutku. Bapak menggeser tubuhnya, kedua pahaku di kesampingkannya, perlahan-lahan kemaluan bapak didekatkan pada kemaluanku sambil berkata bila terasa sakit aku harus bilang.

Pertama menyentuh kulit luar kemaluanku, aku agak tersentak kaget, mulailah rasa sakit itu timbul setelah kemaluan bapak mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginaku. Aku menjerit kesakitan yang kemudian diikuti dengan dicabutnya kemaluan bapak, bapak mencium bibirku sembari membisikkan kata supaya aku menahan rasa sakit tersebut sembari mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Kemudian bapak mulai menusuk lagi, walau kemaluanku sudah basah total. tapi rasa sakit itu tak terkira, aku tak sanggup mengaduh karena mulutku tersumbat mulut bapak.

Tak terasa air mataku meleleh menahan sakit yang tak terkira, kedua tanganku mencengkeram erat pinggang bapak, Akhirnya kemaluan bapak menembus lubangku... diusapnya air mataku, kemaluan bapak masih tetap tertancap dalam lubangku. Bapak berhenti menggoyang, setelah dilihatnya aku agak tenang, mulailah bapak memaju-mundur kemaluannya lagi secara perlahan, aku sempat heran, rasa sakit itu berangsur hilang digantikan dengan nikmat.

Aku merasa kemaluanku berkedut-kedut dengan sesuatu benda asing di dalamnya, sementara itu air lendirku juga sudah membasahi liang kemaluanku, sehingga rasa sakit itu hilang tergantikan oleh kenikmatan yang sukar dikatakan. Tidak begitu lama kemudian aku merasa ingin pipis kembali, aku peluk bapak, aku naikkan pantatku seolah ingin menelan semua kemaluan bapak. Aku kejang, aku melenguh panjang, aku menggigit pundak bapak, sesuatu yang nikmat aku rasakan lagi, dunia berputar-putar, semua terlihat berputar, sungguh kejadian ini nikmat sekali.

Aku terhempas lemas setelah aku mengalami apa yang baru aku alami, rasa sakit sudah hilang. Bapak menghentikan aktifitas seakan memberi kesempatan diriku untuk menikmati puncak kenikmatan yang baru saja kualami. Setelah beberapa saat, dengan kemaluan yang masih mengacung ke atas, bapak mencabut kemaluannya dan menyerahkannya kedalam mulutku lagi, aku kulum kemaluan bapak, tak lama kemudian bapak melenguh... dan cairan itu kembali mendera mulutku, karena pengalaman tadi, semua cairan itu aku telan tanpa tersisa sedikitpun.

Bapak merebahkan tubuhya disampingku, dan mengucapkan terima kasih, dia mengatakan bahwa perawanku telah hilang. Aku tercenung kulihat ke bawah, sprei tempat tidurku ternoda merah darah perawanku, tetapi aku tidak menyesal, karena hilang oleh orang yang aku kagumi sekaligus aku sayangi, Aku tidur di dalam pelukan bapak, kami kelelahan setelah mengarungi perjalanan puncak kenikmatan bersama, dalam tidurku, aku tersenyum bahagia, kulirik bapak, dia terpejam sembari tersenyum juga.

Seperti kebiasaanku sehari-hari dalam rumah tangga majikanku ini, aku bangun pada pukul 5, kulihat bapak masih tertidur lelap, kami masih dalam keadaan bugil, karena semalam tidak sempat berpakaian karena kelelahan. Aku turun dari tempat tidur, selangkanganku masih berasa perih seakan benda tumpul panjang itu masih mengganjal di dalam lubangku.

Dengan agak tertatih aku menuju kamar mandi, kubersihkan seluruh tubuhku beserta lendir-lendir yang mengering bercampur bercak darah di sekitar kemaluan dan bulu-buluku, sembari mandi aku bersiul gembira. Kuraba lubang kemaluanku, masih terasa sisa-sisa keperihan di dalamnya, aku mengerti sekarang, dimana perbedaan antara air seni dengan lendir hormon yang keluar dari kemaluanku bila dirangsang, Aku tersenyum geli memikirkan kebodohanku selama ini.

Selesai mandi, aku membereskan rumah seperti kewajibanku sehari-hari, setelah itu aku buatkan segelas kopi panas dan kubawa ke kamarku, dimana bapak masih terlelap di sana. Perlahan kuletakkan kopi di atas meja, aku melangkah ke arah tempat tidur, kuperhatikan wajah bapak yang tertidur. Betapa tenang, betapa damai, betapa gantengnya, perlahan kuusap pipi bapak serta kubelai rambutnya, dengan sedikit takut... kucium sudut bibir bapak.

Pandanganku menyapu dada bapak, kemudian turun ke salangkangannya yang tertutup selimut, kulirik benda asing yang semalam telah memaksa masuk ke dalam lobangku. Aku tersentak kaget, walau tertutup selimut kulihat jelas benda itu tegak berdiri mengeras, ku usap perlahan sembari tertawa geli dalam hati. Perlahan kusingkap selimut itu, sekarang terpampang jelas benda itu dimana pantulan cahaya lampu menerpa ujung kepala kemaluan bapak yang seperti helm itu.



Kudekatkan wajahku ke benda itu agar terlihat lebih jelas lagi, perlahan kugenggam, kukocok, kujilati dan kumasukkan ke dalam mulutku. Bapak bergerak perlahan, aku terkejut dan berhenti mengulumnya, tetapi bapak melihat padaku dan menyuruh untuk meneruskan aktivitasku, kembali kuulangi kuluman kemaluan bapak sembari tersenyum, dielusnya rambutku sembari kudengar erangan bapak.

Bapak bergeser sedikit, tangannya meraih pantatku serta menyingkapkan dasterku ke atas, perlahan diusapnya belahan dalam pantatku, dengan tangan kanan kuraih tangan bapak di selangkanganku, ternyata kemaluanku sudah basah kembali. Aku pun kembali terangsang dengan usapan tangan bapak di kemaluanku, sedikit kugoyang pantatku kekiri dan kekanan tanpa melepaskan kulumanku pada kemaluan bapak.

Beberapa saat kemudian, bapak meminta untuk menghentikan aktifitasku, bapak bangkit dari tempat tidur, dan menyuruhku untuk menunggi di tepi tempat tidur. Dari arah belakang, perlahan bapak memasukkan kemaluannya ke dalam lubangku, aku heran, gaya apa lagi yang bapak berikan untukku, kuraih bantal untuk mengganjal kepalaku, sementara dari belakang, bapak memaju-mundurkan pantatnya.

Sensasi baru kurasakan, dengan posisi yang belakangan kuketahui bernama doogy style itu, seakan dapat kuatur jepitanku pada kemaluan bapak. Aku merasa ingin pipis lagi, kugigit bantal sembari mengerang dahsyat, otot-ototku kakiku mengejang sampai ke arah pantat, sedikit kujinjitkan kakiku, kucoba bertahan semampuku, kujambak speri di sampingku.

Aku tak tahan lagi, dengan kedutan-kedutan hebat, jebolah pertahananku, aku teriak dan mendesis kugigit bantal sekeras-kerasnya, pantatku berkedut-kedut ke atas bawah, aku lemas, aku jatuhkan tubuhku ke atas kasur sembari nafasku haru memburu. Kulihat bapak tersenyum ke arahku, kemaluannya semakin berkilat akibat lendirku tertimpa cahaya dari luar kamar.

Kuraih kemaluan bapak, kukocok-kocok sembari aku mengatur nafasku, tangan bapak merengkuh rambutku, diusap-usapnya kepalaku, diciumnya keningku. Setelah nafasku teratur, kuraih kemaluan bapak dan kukulum lagi, tidak berapa lama, bapak mengejang dan mengeluarkan cairan dari kemaluan bapak yang kutelan habis tanpa bersisa.

Bapak kemudian pergi mandi, sementara aku kembali kekesibukanku hari ini yaitu memasak. Pukul delapan pagi, kulihat bapak selesai mandi dan bersiap untuk menghadiri acara komplek. Setelah berpamitan padaku, aku meneruskan memasak, hari ini kubuatkan masakan spesial untuk bapak, semua bahan telah tersedia di dalam kulkas yang kubeli hari Jumat kemarin di pasar.

Pukul 12 siang, bapak kembali dari acara di komplek, aku sedang menonton acara TV setelah selesai masak, kemudian bapak menyuruh membuatkan es teh manis untuknya, aku bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan bapak. Di saat aku sibuk mengaduk gula, tiba-tiba dari arah belakang bapak memelukku, aku tersentak karena melihat bapak tidak mengenakan pakaian selembar pun.

Tanpa bicara, dicumbuinya diriku dari belakang, aku menggelinjang kegelian, diusapnya leherku dengan lidah bapak sampai ke telingaku dan digigit-gigitnya daun kupingku. Aku tersentak kegelian, tanganku menyenggol teh yang sedang kubuat, gelas jatuh dan air di dalamnya tumpah membasahi dasterku. Tanpa memeperhatikan peristiwa itu, bapak melahap mulutku dengan ciuman-ciuman ganasnya, aku terpengarah tidak siap, sedikit kehabisan nafas melayani ciuman bapak.

Dengan tidak melepas ciumannya, tangan bapak mencopot dasterku, kemudian dengan terburu-buru, dilepasnya beha dan celana dalamku, aku hanya pasrah menghadapi kelakuan bapak. Sedikit membopong, didudukannya aku di atas meja makan, kemudian bapak melebarkan selangkanganku serta menjilati kemaluanku. Dengan berpegang pada tepi meja, aku menggelinjang keenakan, kurasakan sapuan-sapuan lidah bapak dikemaluanku sebagai sensasi yang tiada duanya.

Mungkin karena sebentar lagi aku merasa akan datang bulan, sehingga nafsu yang ada dalam diriku sedang dalam puncak-puncaknya. Aku pipis lagi, kujambak rambut bapak dengan tidak sungkan lagi, kutekan kepala bapak ke dalam kemaluanku, kurasakan lidah bapak menembus di dalam lobangku, aku menjerit tertahan, meledaklah kenikmatanku, bapak menyedot habis semua lendir nikmatku sampai tuntas serta menjilati rambut lebatku.

Dengan menahan posisiku, bapak berdiri dan memasukkan kemaluannya ke dalam lobangku, perlahan tapi pasti kemaluan bapak masuk. Aku membisikkan sesuatu ke bapak, aku mengatakan bila ingin merasakan semprotan cairan bapak di dalam rongga kemaluanku, bapak menanyakan apakah aku subur atau tidak, aku jawab bila dalam dua atau tiga hari ke depan akan datang bulan. Setelah bapak mendengar pengakuanku, dia tersenyum dan semakin bersemangat untuk menusukan kemaluannya di lobangku.

Ternyata bapak lama juga mengalami puncak, kebalikannya dalam diriku, aku merasakan suatu kedutan nikmat lagi dan berasa ingin pipis kembali. Aku peluk bapak, kucium bibirnya, sementara kedua kakiku menjepit pinggang bapak. Dengan berpangku pada tepi meja makan, bapak bertambah kencang volume memaju - mundurkan kemaluannya di dalam lobangku. Aku terpekik, aku menjerit, aku mendekap erat-erat tubuh bapak, kurasakan ledakan kembali menyerang dalam lubang kenikmatanku.

Sementara bapak kulihat semakin cepat dan berkata bila kita berdua akan mencapai puncak secara bersama-sama. Tapi aku sudah tidak tahan lagi, aku mengerang... mengejang... kugigit bibir bapak, ternyata demikian pula dengan bapak. Kami berdua mencapai puncak tinggi bersamaan, kurasakan cairan hangat bapak dan cairanku menyatu di dalam lubang kemaluanku. Aku berkedut, bapak berkedut, kami semakin erat berpelukan, peluh membanjiri seluruh tubuh, jepitan kakiku di pinggang bapak, diimbangi pelukan tangan bapak di tubuhku, kami berdua sesak, kami berdua klimaks, kami berdua memejamkan mata sesaat tidak peduli dengan sekitar.

Sampai pada suatu ketika, ibu mengunjungi orang tuanya di lain propinsi, ibu berangkat dengan anaknya menggunakan kereta Api sementara bapak tidak ikut karena tidak dapat cuti. Ibu pergi sekitar lima hari.

Pagi hari sesuai dengan tugasku sehari-hari, aku mengepel ruangan, sengaja kulepas bh dan celana dalamku, aku hanya mengenakan daster saja tanpa dalaman. Kulihat kamar majikanku masih tertutup pintunya, kuketuk pintu dengan maksud ingin mengepel kamar majikanku, kemudian bapak membukakan pintu, aku masuk dan langsung mengepel, sementara bapak masuk kekamar mandi yang terletak juga di lama kamar majikanku.

Sengaja agak berlama-lama mengepel dengan maksud memancing reaksi bapak, kutarik dasterku lebih agak ke atas, sehingga kedua pahaku terlihat jelas. Pancinganku mengena, bapak keluar dari dalam kamar mandi dan mengomentariku bahwa pahaku tampak putih mulus, kubalikkan badan sengaja menghadap ke arah bapak, dengan posisiku mengepel akan terlihat jelas kedua payudaraku yang tak tertutup beha.

Bapak tersenyum menghampiriku dan berkata bila aku sengaja memancing dirinya, kubalas senyuman bapak dengan berkata memang aku sengaja, karena aku ingin disetubuhi bapak lagi. Kulihat bapak menurunkan sarungnya, yang ternyata juga tidak mengenakan celana dalam, terlihat kemaluan bapak sudah berdiri tegang.

Setelah pamit untuk mencuci tanganku, kuhampiri bapak, aku elus kemaluan itu, bapak duduk ditepi tempat tidur, sementara aku jongok di antara kedua paha bapak, perlahan tapi pasti, kemaluan bapak aku cium dan kumasukkan kedalam mulutku. Terdengar desisan bapak, sementara tangan kiriku menyentuh kemaluanku, ternyata sudah basah, terus kuelus perlahan kemaluanku.

Bapak merengkuh bahuku, menarik supaya aku berdiri, dan memposisikan aku jongkok di atas kemaluan bapak. Dengan perlahan kuturunkan pantatku dan dibantu dengan tangan bapak untuk mengarahkan kemaluannya menuju lobang kemaluanku, pertama agak susah untuk masukkan kemaluan bapak, kucoba memasukkannya sedikit demi sedikit. Setelah posisi dan kedalaman kemaluan bapak sudah pas, mulailah kuturun-naikan pantatku, tangan bapak tidak tinggal diam, diarihnya dasterku untuk dilepas, kemudian diremas-remaslah kedua payudaraku.

Lama-kelamaan aku merasakan sengatan yang luar biasa, kupercepat goyanganku, kugesek-gesek kemaluanku, dan tak lama kemudian aku tak sanggup lagi menahan kebelet pipisku, kupeluk bapak dengan posisi masih tertancap kemaluan bapak, jebolah pertahananku, aku kebanjiran lagi. Kami bertukar posisi, aku sekarang di bawah, ditepi ranjang, sedang bapak berdiri di sisi ranjang,

Sebelum bapak memasukkan kemaluannya dia bertanya kapan aku mens, kujawab kira-kira lima hari lagi aku mens. Setelah tahu jawabanku, bapak segera mengangkat kedua kakiku dan perlahan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluanku, digoyangkannya pantat bapak maju-mundur, sensasi kemasukan kemaluan bapak di dalam kemaluanku terulang lagi, aku merasa terangsang lagi, kubantu dengan menggoyangkan pantatku.

Aku klimaks lagi, tetapi bapak mengajak untuk bersama-sama karena beliau juga sudah hampir. setelah beberapa saat kutahan, akhirnya jebol lagi pertahananku, kulihat hampir bersamaan pertahanan bapak juga jebol, akhirnya kami dapat mencapai klimaks secara bersamaan. Lama posisi kemaluan bapak tertancap dalam kemaluanku, akupun tidak dapat berbuat apa-apa karena nikmat, setelah beberapa saat kami terdiam, baru dicabutlah kemaluan bapak.

Kami berdua mandi bersama layaknya suami istri, aku bilang kepada bapak bila aku sayang kepadanya, dijawab dengan senyuman bapak. Setiap hari semenjak kepergian ibu, kami selalu memadu kasih, tetapi jelas setelah bapak kembali dari kantor. Kadang di kamarku, di kamar bapak, di dapur, di ruang belakang, bahkan pernah di garasi dan di dalam mobil. Hatiku senang, tentram, hingga ibu pulang dari luar kota.

Hingga suatu malam aku tidak dapat tidur, udara sangat panas sehingga membuatku kegerahan, kucopot beha dan celana dalamku, hingga hanya memakai daster saja, kondisi seperti ini membuat aku menjadi terangsang. Kugosok-gosok kemaluanku dan kuraba-raba payudaraku sambil membayangkan kejadian-kejadian yang kulalui bersama majikan laki-lakiku.

Tiba-tiba aku mendengar suara desahan dari kamar tidur majikanku, aku keluar dan jongkok di bawah jendela mendengarkan desahan-desahan nikmat kedua majikanku, letak kamar majikanku tidak jauh dar kamarku, hanya dibatasi oleh gudang. Aku terdiam mendengarkan kegiatan di dalam kamar majikanku, kutaksir posisi ibu di atas tubuh bapak. Suara-suara itu membuat tegang seluruh tubuhku, kuraba selangkanganku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku meremas payudaraku.

Aku terhanyut, mataku terpejam membayangkan kenikmatan itu, tanpa terasa gosokan tangan kanan di kemaluanku semakin cepat, dan jari tengahku sudah masuk kedalam kehangatan kemaluanku, terasa melayang diriku. Tak lama datanglah klimaks, posisiku sudah selonjor kenikmatan, sementara suara-suara di dalam kamar juga tambah seru, tak lama kudengar bapak dan ibu telah mencapai klimaks, kemudian hening.

Aku terhuyung kembali ke kamarku dan berbaring di tempat tidurku, nafasku masih tersenggal, sisa-sisa kenikmatan masih terasa, aku melap kemaluanku dengan celana dalamku. Setelah nafasku teratur, kurasakan hatiku sakit, cemburukah aku. dadaku bergejolak, seakan tidak rela bila kedua majikanku bersetubuh.

Perasaan ini tidak boleh jawab hati kecilku, tetapi perasaanku tidak dapat dibohongi, aku telah jatuh cinta kepada bapak majikanku. Pikiranku bergejolak, antara logika dengan perasaan, yang aku rasa tidak akan mencapai titik temu, bagaimanakah ini?

Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pekerjaanku, semula ibu menahan dengan menjanjikan gajiku dinaikkan, tetapi aku menolak, kukatakan bahwa aku akan mencari pengalaman di tempat lain. Malamnya bapak mengintrogasiku, menanyakan kenapa aku pindah dari keluarga itu. Aku bilang bila aku mulai menyukai dan mencintai bapak serta tidak rela bila bapak berdua sama ibu, bapak sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, kemudian ia mencium pipiku lama sekali, tak terasa menetes air mataku.

Besoknya aku pergi dari rumah itu, bapak memberiku uang tujuh kali gajiku, untuk modal katanya yang pasti tanpa sepengetahuan ibu. Sebetulnya berat hatiku meninggalkan keluarga ini, tetapi hati kecilku memberontak, terhadap orang yang aku sayangi. Keputusanku sudah bulat, mungkin nanti suatu saat aku mendapatkan jodoh yang juga menyayangiku seperti bapak.


If Only




Aku gak tau kenapa aku melakukannya. Gak ada yang spesial dari wanita ini.
Tubuhnya aja hitam oleh matahari, badannya kotak, dan rata seperti pintu jati didepan rumah kami. Dan usianya, ya Tuhan sudah menginjak 45 trahun....!!

Mungkin benar kata pepatah jawa yang bilang bahwa TRESNO IKU JALARAN SAKA KULINA. Cinta itu datang karena telah terbiasa....

Aku selalu melihatnya, walaupun tidak menggoda tapi melihatnya setiap hari membuatku jadi terobsesi untuk setidaknya....mencobanya.

Dia mertua wanitaku. Kami semua menyebutnya mama. Mama adalah orang desa yang lugu yang hampir menghabiskan seluruh waktunya kalo tidak di sawah ya di dapur. Pengabdian 100 persen untuk suaminya, papa mertuaku.



Dan keinginan yang menggelegak dalam darahku ini bermula ketika disuatu pagi yang dingin, dengan hujan gerimis yang turun perlahan, dan saat ku terjaga untuk memulai aktivitasku hari ini dengan mandi, aku melihatnya, hanya berselempang handuk menutupi tubuhnya, mengangkat panci besar berisi nasi dari pawon (kompor kayu bakar) menuju amben kecil dibelakangnya dimana dia meletakkan bakulnya.

Nggak ada yang spesial, sumpah! Dia benar2 kotak seperti pintu jati di depan rumahku, dan aku tidak merasakan apapun memandangnya hingga sang syetan meniupkan angin kecil yang dingin menghampirinya.

Dalam posisi berdiri, kedua tangan memegang panci besar panas yang membuatnya sedikit membungkuk saking beratnya, si angin nakal telah mengibarkan handuknya dan membuatnya merosot pelan meninggalkan tubuhnya.

Aku tertegun.

Aku adalah seorang pengingat yang buruk, aku bahkan nggak bisa mengingat nomer hpku sendiri, atau kodepos rumahku, atau nomer rekening bank ku, tapi pemandangan yang terhampar didepanku saat itu seperti sebuah film dvd yang bening, yang siap berputar kapanpun aku memikirkannya.







Mama agak terhenyak melihatku melihatnya dalam keadaan seperti itu, tapi gimana lagi? kedua tangannya sibuk membopong panci dan dia nggak bisa menutupi ketelanjangannya.

Dan dengan anggun dia melangkah melewatiku, telanjang bulat, nyaris sambil memejamkan mata, dan bisa kurasakan aromanya menusuk kelelakianku yang segera meronta dari tidur panjangnya.

Payudaranya masih kencang untuk ukuran wanita seusianya, badannya yang kotak terlihat lebih bergelombang, dan harum kesegaran wangi sabun ditubuhnya sesaat membius otakku, membuatku mematung beberapa saat lamanya.

Dengan suara gemetar mama berkata dari belakangku,
"Den, tolong ambilin handuk mama..."

Dan itu adalah awal obsesiku terhadap mertua wanitaku...

******
Sejak saat itu yang ada dalam otakku adalah bagaimana caranya agar aku bisa melakukan sex dengan mama. Bahkan ketika aku menggumuli istrikupun yang ada dalam pikiranku adalah mama. Mama yang telah menghipnotisku dengan ketelanjangannya pagi itu.

Suatu waktu, saat libur tahun baru tiba, dan semua keluarga berkumpul di rumah ini, aku akhirnya dapat menyelesaikan dahagaku dengan tuntas.

Saat itu semua orang sedang berkumpul di ruang tengah menyaksikan acara pergantian tahun di televisi, sementara mama seperti biasa sibuk di dapur menyiapkan hidangan istimewa untuk seluruh keluarga.

Pukul 23.15
Dewi, istriku, sudah terlelap setelah capek menyusui anakku yang baru 5 bulan dikamarnya. Papa sedang ngobrol dengan keluarga besar di ruang tivi sementara mama yang kelelahan tertidur di amben dapur.

Aku baru saja memasukkan motorku, yang karena ketersediaan lahan, cuma mendapatkan tempat parkir di samping dapur.

Rok mama tersingkap oleh angin yang lagi-lagi ditiupkan sang syetan.

Dan aku tertegun. Seperti kebanyakan orang desa yang lain, mama tidak pernah memperhatikan penampilan dan baju-baju yang dikenakannya. Aku melihat celana dalam yang dipakainya sudah bolong dibeberapa bagian, yang memudahkan aku untuk mendapatkan pandangan yang jelas tentang bentuk kewanitaannya di temaramnya lampu 5 watt yang menerangi ruangan itu.

Posisi mama tidur miring kekiri dengan sebagian kakinya terjuntai di tanah. Hampir-hampir seperti posisi favoritku kalo sedang bercinta dengan istriku.

Daging yang terhimpit kedua pahanya tampak kehitaman, seperti kebanyakan vagina yang kurang terawat. Bulu-bulu yang terurai keluar keriting dan luar biasa lebat, membuatku merinding, tapi juga terangsang luar biasa.

"Den...." Bisik mama.

Aku terhenyak. Apakah mama melihatku? Aku buru-buru menyandarkan motorku dan bergegas pergi.

"Den...."

Lagi. Tidak, mamaku belum terjaga. Dia sedang bermimpi Deni. Begitu kata syetan dalam hatiku.
Akupun mengurungkan langkahku, dan beranjak mendekat.

Iya, dia masih terlelap.

"Hhhh...Den...."

Apa yang diimpikannya? Kenapa ada aku?

Aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Ketegangan di kelelakianku hampir mencapai puncaknya. Aku sudah sampai pada tahap rangsangan dimana seolah apabila aku tidak segera mendapatkan pelampiasan, aku akan meledak oleh nafsu yang memenuhi rongga dadaku.

Dan perlahan tanganku menyentuhnya. Aku duduk di sampingnya, mama membelakangiku. Aku menatap gundukan daging yang selama ini menghantuiku, membelainya pelan.

Apa mama memimpikanku ma? Bisikku sambil gemetar tanganku menelusuri belahan kewanitaannya.

Suara keramaian di ruang tivi sesaat mengagetkanku, terompet-terompet dibunyikan, petasan, dan teriakan2 selamat tahun baru membuat suasana hiruk pikuk.

Tapi mama cuma melenguh pendek dan meneruskan tidurnya. Jelas dia keletihan oleh banyaknya pekerjaan siang tadi dan tidak akan mau terganggu tidurnya oleh apapun.

Aku menyingkap roknya lebih melewati pahanya...

Tidak sehitam yang kubayangkan. Pahanya nyaris putih, agak meremang oleh bulu-bulu halus tapi tidak hitam. Pahanya mulus dan lembut ditelapak tanganku.

Sebuah gerak halus pada pundaknya membuatnya terlentang. Masih terlelap dalam tidurnya.




Sebenarnya aku bisa meninggalkannya saat itu. Karena tekanan gairah dan adrenalin telah meledakkanku dan aku ejakulasi dicelanaku. Begitu saja.

Begitu dahsyatnyakah wanita ini hingga bisa membuatku klenger tanpa menyentuhku sama sekali?

Aku berdiri. Lebih baik aku segera membersihkan diri dan pergi ke istriku. Itu akan lebih sehat to?

"Jangan pergi Den...."

Walaupun cuma bisikan tapi aku jelas sekali mendengarnya. Aku menengok ke bawah dan mamaku yang terlentang dengan rok tersingkap nampak mengerjapkan matanya.

"Ma...?"

Mama menarik tanganku dan menjatuhkanku menindihnya.

Aku diam tak bergerak. Aku berbisik lirih sambil mencoba untuk tetap berpikiran sadar.

"Ma, apa ini gak papa?"

Mama tak menjawab. Dia cuma memejamkan mata dan menaikkan pahanya ke bibir amben tanpa suara.

Andai saat itu ada orang yang masuk ke dapur dan melihat kami dalam posisi ini pasti dia akan jatuh pingsan.

Aku setengah berdiri, dengan posisi menindih mama yang seolah setengah meminta agar aku berbuat lebih jauh, sejauh-jauhnya....

Jadi aku sampai pada titik kewarasanku dan aku memulainya dengan begitu menggebu-gebu.

Aku lupakan dulu itu foreplay, pemanasan atau apalah itu namanya....Yang kutahu diujung kelelakianku ada rasa gatal yang begitu menyiksa yang menuntut pelepasan sesegera mungkin atau aku akan meleleh dan menguap oleh panas yang meradang.

Aku menyingkap roknya, menarik celana dalamnya dengan kasar, dan tanpa menunggu responnya aku membuka celanaku sendiri, menarik keluar kelelakianku dari sela-sela celana dalamku dan langsung menghujamnya. Sedalam-dalamnya aku bisa.

Dia mengeluh pendek, tapi tidak membuka matanya.

Aku terhenyak sesaat oleh sensasi hangat yang kurasakan menyelimuti penisku, sebelum mulai mengayunkannya dengan cepat.

Vagina tua itu sudah basah dan lembab saat aku memasukinya, dan daya gesek dinding-dindingnyapun tidak begitu menggigit. Tapi aku dibutakan oleh sensasi adrenalin yang terus memacu syarafku hingga aku seperti terbang diawang-awang ketika aku menggagahi mertua wanitaku.

Yang ada cuma derit amben dan suara kecap becek dari pertemuan tubuh kami.

Dengan nafas memburu aku meraih payudaranya dari balik bajunya dan meremas gemas sambil berbisik keras,

"Ya Tuhan....cuma kaya gini aja rasanya kok aku sampai keedanan to ma....."

Mamaku tak menjawab. Kelopak matanya bergerak-gerak dan mulutnya setengah terbuka tapi dia tak mengucapkan satu patah katapun padaku.

Aku meneruskan ayunanku dengan keras dan dalam, mencoba masuk lebih dalam lagi untuk mencapai dan menggesek semua isi dari vagina yang beberapa hari ini selalu membayangi pikiranku.

Mama melenguh menerima hujaman terdalamku beberapa kali, lalu tiba-tiba mencengkeram pantatku untuk berhenti berayun. Aku menampik tangannya dan bahkan berayun semakin cepat dan dalam. Kukorbankan tenagaku malam ini seluruhnya untuk menikmatimu mama....

Mama mulai mendesis dan menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.

"ssssh.....udah den.....aduh.....mama pengen pipissss......." Bisiknya sambil mencoba mendorong badanku.

Tapi aku menampik lagi tangannya. Tangan kiriku menelusup masuk meraih payudaranya sementara tangan kananku mencari klitorisnya dan menekannya dengan kencang.



Biasanya istriku langsung jebol kalo aku udah melakukan hal ini. Dan like mother like daughter, mamapun langsung meledak.

Diiringi pekikan kecil dia meronta terakhir kalinya sebelum mengejang dan mencengkeram punggungku dengan kedua tangannya menahan sensasi orgasme luarbiasa yang melandanya.

Aku merasakan pancaran-pancaran air menyembur membasahi selangkanganku, sementara kedutan-kedutan lembut memijit-mijit batang penisku dengan mama meracau dalam setengah sadar menikmati puncaknya.

Aku tidak berhenti lama, aku punya gunung lain yang harus dikejar, gunung kenikmatanku sendiri. Ejakulasi pertamaku tadi membuat penisku tahan lebih lama dalam liang kewanitaan mama, dan dengan setengah memburu aku berpacu sendiri menuju puncak.

Mama masih terus menggeliat-geliat, menahan rasa geli dan ngilu di vaginanya tiap kali aku menghujam masuk. Dan aku mulai bisa merasakannya. Seperti ada sesuatu yang merangkak naik dari ujung-ujung kakiku.....berdesir dengan panas hingga mencapai sukma terdalamku dan akupun.....

"Mama aku keluar......arkh......"

Entah berapa kali aku ejakulasi di dalam liang rahimnya, yang jelas aku sendiri sampai bergidik dengan sensasi yang timbul dari pelepasan itu, dan setelah sejenak rohku seperti melayang naik ke awan, aku lantas terjerembab tanpa daya diatas tubuh mertuaku yang setengah telanjang itu.

Napas kami terengah-engah. Tapi kami tak punya kesempatan untuk menatanya atau berkomentar tentang percumbuan kami itu karena tau-tau sebuah suara dari ruang tivi membbuat kami melonjak kaget.

"Ma....air panasnya habis ma, masak air lagi ya, cepetan...."

Itu suara papa yang berjalan mendekat dari ruang tivi.

Dengan kecepatan luar biasa aku memakai lagi celanaku dan segera menyelinap bersembunyi di balik motorku yang terparkir tak jauh dari dapur.

Mama sendiri bergegas bangun dan dengan limbung berjalan ke arah suara sambil berkata lirih.

"Iya pa, udah papa disitu aja, ntar kalo dah panas mama antar kesitu."


*******

Itulah awalnya. Setelah itu kami jadi makin sering melakukannya. Aku tahu ini salah, begitu juga mama. Tapi kami juga tahu kalo ini benar-benar enak, dan kami ketagihan untuk terus melakukannya setiap hari, setiap kali ada waktu yang luang dan sepi.

Kami terus melakukannya hingga kini mamaku hamil lagi. Papa cuma geleng kepala mendengar hal ini.

" Dulu Dewi juga gitu Den, kebobolan, eh sekarang ternyata kebobolan lagi.....Kondom jaman sekarang emang payah....." Begitu komentar papa.

Inilah rahasiaku, semoga saja ini tetap jadi sebuah rahasia.

Pencarianku

Aku menikah pada usia 24 tahun, satu semester sebelum kujalani hari wisudaku sebagai seorang insinyur. Bukan, bukan karena hamil duluan, tapi justru karena aku ingin memiliki hubungan yang syah sebelum aku biarkan seorang laki-laki mengakhiri keperawananku.



Aku menikah dengan pria pilihanku sendiri. Walaupun dia bukanlah pria yang paling kucintai, karena waktu itu, sebenarnya aku sedang menunggu seorang pria lain, yang tak kunjung memberikan kepastian. Akhirnya pria yang kunikahi, adalah pria pertama yang bersedia memberikan komitmen.

Cinta tumbuh bersamaan dengan berjalannya perkawinan kami. Dua tahun menikah, kami dikarunia anak pertama. Karena tugas belajar ke luar negeri, akhirnya aku tinggalkan suami dan anakku untuk beberapa waktu. Tapi perkawinan kami tetap bahagia, selama berjauhan, tidak terbersit sedikitpun pikiran untuk berselingkuh, walaupun godaan seksual sangat kuat. Sepulang tugas belajar, kami dikaruniai anak kedua. Semua berjalan lancar, sampai kemudian pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hatiku, semakin membuahkan tanda tanya yang cukup besar dalam benakku.

Sepuluh tahun perkawinan, tak pernah sekalipun aku merasakan orgasme dari suamiku. Hubungan seksual kami selalu berlangsung sangat singkat, sehingga tidak pernah ada kesempatan bagiku untuk bisa mencapai puncaknya. Diam-diam aku bermasturbasi untuk menuntaskan kebutuhanku seorang diri.

Lalu aku mencari informasi, aku baca buku-buku, aku cari artikel-artikel. Baru aku sadari bahwa ternyata suamiku penderita ejakulasi dini. Permasalahan sudah kutemukan, tapi bagaimana aku harus memberitahu dia ? Bagaimana aku harus mengajaknya mencari solusi ? Sedang dia sendiri pun sepertinya tidak menyadari permasalahan ini, karena aku tidak pernah mengeluh.

Suamiku adalah tipe pria yang bertanggungjawab, dia ayah yang baik bagi anak-anaknya. Tapi dia tidak pernah menjadi kekasih yang hangat untuk istrinya, walaupun segala kebutuhanku secara materi sangat tercukupi, apalagi karena aku sendiri juga bekerja. Dia hanya mencumbuku menjelang persetubuhan yang hanya berlangsung beberapa menit saja. Di luar itu, jarang sekali dia menyentuhku, walaupun hanya pelukan, elusan, apalagi ciuman. Hal-hal ini akan dia lakukan, hanya kalau aku memintanya.

Aku, perempuan 34 tahun, dengan status menikah, tetapi selalu merasa kesepian karena terbenturnya hasrat yang tak ada jalan keluarnya. Akhirnya kuputuskan untuk menemui seorang psikiater.

Kuceritakan semua pertanyaanku dan keluh kesahku kepada Pras, sang psikiater. Dia mendengarkan dengan seksama, memberiku masukan dan nasehat.

"Saya bahkan tidak tahu apakah saya bisa mencapai orgasme pada saat berhubungan seks. Jangan-jangan saya ini tipe frigid", demikian ceritaku pada Pras dalam suatu sessi.

"Dari bermasturbasi kamu bisa mengalami orgasme kan ?", kata Pras, yang mulai akrab karena konsultasi sudah berjalan selama beberapa bulan.

"Dokter bilang masturbasi ok, asal tidak berlebihan. Dalam kasus saya, saya hanya bisa mencapai orgasme dari masturbasi yang saya lakukan sendiri. Apakah ini bukan kebiasaan yang kurang baik ?", tanyaku.

"Memang agak sulit kalau di pihak yang lain tidak menyadari persoalannya. Suamimu mungkin berpikir selama ini oke-oke saja".

"Barangkali harusnya saya berterus terang, tapi saya takut malah akan membuatnya tidak percaya diri, kalau dia tahu bahwa dia itu ejakulasi dini".

"Saya bisa memberimu kesempatan merasakan orgasme, kalau kamu mau", begitu kata Pras tiba-tiba. Sebuah statement yang entah datang darimana, tetapi sempat membuatku seperti disambar petir. Nggak salah nih psikiaterku memberikan pernyataan seperti itu ? Rupanya Pras menyadari kekagetanku, segera dia melanjutkan perkataannya.

“Tapi tidak di sini. Temui aku besok sore di Cafe O ya. Jam 5 bagaimana ?”, tanya Pras.

Aku tidak bisa menjawab. Dengan gugup kuraih tasku, dan meninggalkan ruang konsultasi psikiater Pras tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Besoknya di kantor, aku tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan. Pras, psikiaterku, apakah dia sudah gila. Tak dapat kusangkal, bahwa Pras memang seorang pria menarik. Usianya 2 tahun di atasku. Dia cerdas, wawasannya luas, dan pandai menjadi pendengar yang baik (tentu saja, dia dibayar untuk itu). Walaupun wajahnya tidak ganteng, tapi secara keseluruhan dia adalah pria yang sangat menarik.

Dan aku sendiri ? Apakah aku juga sudah gila, kalau sampai mau datang menemui Pras, di sebuah Cafe, bukan di tempat seharusnya aku menemui dia, di ruang prakteknya ? Selama ini tidak pernah terpikir dalam benakku untuk melakukan hubungan intim dengan pria lain, bahkan pada masa gadispun, aku tetap menjaga kesucianku sampai tiba perkawinanku. Kenapa sekarang tawaran seorang pria untuk mengajakku merasakan orgasme, benar-benar telah menyita pikiranku, membuatku tidak bisa memikirkan hal lain ?.

Waktu terasa berjalan amat sangat lambat. Jam 4.30, aku bilang ke sekretarisku untuk keluar duluan, karena harus menemani rekanan makan malam.

Cafe O tidak jauh dari kantorku. Jam 5 kurang 10 aku sudah sampai di sana. Tidak ada Pras, aku agak kecewa, berarti aku datang duluan. Atau jangan-jangan Pras tidak akan datang ?

Kupesan secangkir coklat dingin, untuk meredakan keteganganku. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih 5 menit. Pras tak kunjung muncul batang hidungnya. Aku mulai gelisah. Apakah Pras hanya main-main ? Bisa saja. Sangat mungkin. Mana mau seorang psikiater berkencan dengan pasiennya.

Tapi tiba-tiba, sosok Pras muncul di pintu Cafe, langsung menuju ke mejaku. Aku gugup tak bisa berkata apa-apa. Pras tersenyum dan menyalami tanganku.

“Maaf terlambat”, katanya. Lalu dia memesan minuman yang sama dengan yang sudah setengah cangkir kuhabiskan.

“Saya akan mengajakmu ke suatu tempat. Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa saya melakukan ini”, kata Pras, sambil meremas-remas tangannya sendiri. Rupanya dia gugup juga. Aku hanya mengangguk, tak berani melihat ke wajahnya.

“Kamu pasien istimewa saya. Saya ingin menunjukkan sesuatu yang saya nggak bisa gambarkan ke kamu”, kata Pras.

Kami meninggalkan Cafe O lima belas menit kemudian, dengan mobil Pras. Kami menuju kawasan utara yang dingin, menuju sebuah villa. Tidak ada percakapan selama dalam perjalanan, karena kami sama-sama gugup. This is gonna be my first time.

Villa itu tidak besar, hanya ada 1 kamar, tetapi bersih dan rapih. Letaknya juga terpencil dan terlindung oleh pohon-pohon rindang yang banyak tumbuh di halaman villa.

Pras, mendekatiku. Dielusnya rambutku. Kali ini kuberanikan diri memandang wajahnya. Lalu Pras mencium bibirku. Aku hampir terjatuh, tapi tangannya kuat menopang tubuhku. Kurasakan desiran hangat merayapi tubuhku. Bertahun-tahun aku tidak pernah merasakan hal ini. Kami berciuman lama dan penuh nafsu. Lidah kami berpagut, saling menjelajahi setiap bagian mulutnya dan mulutku.

“Pelan-pelan, sayang”, kata Pras sambil merebahkan tubuhku ke kasur. Sekarang dia menindihku. Sambil terus memagut bibirku. Kami berciuman lebih lama lagi.

Tangan Pras mengelus lenganku, lalu ke bagian samping tubuhku. Aku sendiri mulai memeluknya dan merabai punggungnya. Pras mulai membuka satu persatu kancing blouseku. Dikecupnya bagian atas buah dadaku.

“Kamu suka diapakan ?” tanya Pras.
“Aku suka dikulum, dijilat, digigit”
Lalu Pras mengeluarkan buah dada kananku dari bra-ku yang ¾. Diciumnya putingku, dijilatinya, lalu dikulumnya. Tangan kanannya mempermainkan puting kiriku. Kedua putingku ereksi. Aku mengerang.

“Aku suka kamu mengerang”, bisik Pras.
“Hmmmm”.
Sekarang Pras berpindah mengulum puting kiriku, sementara tangannya meremas-remas payudaraku. Eranganku makin tak kuasa kutahan. Tangannya lincah menggerayangi bagian tubuhku yang lain. Aku pun mulai membukai satu persatu kancing kemejanya. Aku permainkan puting susunya dengan tanganku.
Ciuman Pras bergerak menyusuri belahan dadaku, ke bawah, melewati pusarku, lalu sibuk membasahi daerah pubis yang selalu kucukur rapih dengan lidahnya. Aku tersentak ketika lidah Pras mengenai ujung klitorisku.





“Oh, Pras, aku nggak pernah ngerasain ini”.
“Suuttt, nikmati saja ya”, kata Pras sambil terus melanjutkan menjilati klitorisku. Aku nggak tahu sudah seberapa basah aku di bawah sana. Pras memasukkan jarinya ke dalam vaginaku, sambil terus menjilati klitorisku. Lalu turun lagi, dia buka vaginaku dengan jarinya, lalu disusupkannya lidahnya ke dalam vaginaku. Lidahnya memburu, mencari titik-titik sensitif yang tak pernah tersentuh. Aku menggelinjang. Pras makin rakus menjilati vagina dan mempermainkan klitorisku dengan jarinya. Beberapa saat kemudian, tubuhku menegang dan aku berteriak mencapai salah satu bentuk orgasme dahsyat yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Pras tersenyum puas. "Aku sangat suka, mendengar teriakanmu", katanya. Aku tertawa. Diciumnya kembali bibirku.

“Sekarang gantian kamu ya”, bisikku nakal. Sambil aku bangkit untuk menindih tubuh Pras. Ganti aku menciumi dan menjilati seluruh tubuh Pras. Puting susunya ereksi ketika kujilati, dada Pras tidak berambut. Jilatanku terus menyusuri tubuhnya ke arah bawah, sampai lidahku bertemu dengan ujung penisnya yang tegak berdiri dengan kerasnya. Penis Pras tidak sebesar penis suamiku, tapi coba lihat saja nanti bagaimana dia bisa beraksi.

Aku tunda mengulum penisnya. Tapi kujelajahi dulu daerah di sekitarnya dengan bibir dan lidahku. Pras mendesah.
“Enak, sayang”.

Aku makin aktif menyusuri pahanya bagian dalam, lalu ke atas lagi, kujilati bagian bawah testisnya. Pras menggelinjang. “Enak sekali sayang”.

“Kamu tahu ini namanya apa ?”, tanyaku.
“Scrotum ?”,
“Bukan, sayang. Daerah di bawah scrotum ini namanya Nifkin”, jawabku, sambil terus menjilati daerah nifkin Pras.
“Bagus sekali namanya dan enak sekali rasanya dijilat begitu.. oh...”, kata Pras.

Kutelusuri sepanjang penis Pras dengan lidahku, dari arah scrotum menuju ke ujung penis yang disunat. Baru sekarang dia boleh merasakan kuluman bibirku di kepala penisnya. Pras mengerang. Seluruh penisnya sekarang memenuhi mulutku. Lidahku berputar-putar mengelilingi batang penisnya, sambil pagutan bibirku melakukan gerakan naik turun sepanjang penis Pras. Kadang-kadang kuberi dia gigitan kecil.

“Oh enak sekali sayang, aku nggak tahan, oh... ", kata Pras. Aku tetap melanjutkan memberinya blow job. Tubuh Pras menghentak-hentak, menahan ejakulasi.

"Jangan buat aku ejakulasi dulu, sebelum aku kasih kamu orgasme vaginal”, kata Pras sambil mengangkat wajahku. Sebuah isyarat untukku berpindah posisi. Pras menyuruhku telentang, dia angkat kakiku ke atas bahunya. Pelan-pelan dimasukkannya penisnya yang sudah sangat tegang ke liang vaginaku yang masih basah. Dia lakukan gerakan pelan-pelan. Aku menggoyangkan pinggulku.

“Jangan bergoyang sayang, nanti aku cepat sampai. This is for you, kamu diam, nikmati saja”, bisik Pras. Aku merasakan sensasi yang luar biasa dari gerakan penis Pras di dalam vaginaku. Aku mulai berhitung, satu detik, dua detik, lima detik, sepuluh detik, sudah lewat batas yang biasa kuterima. Pras masih terus memompa penisnya di vaginaku. Satu menit, lima menit, tujuh menit. Gerakan Pras makin intens. Baru kali ini ada penis bertahan lebih dari sepuluh detik di dalam vaginaku.

Pada menit ke delapan, orgasme vaginal pertamaku datang. Tubuhku melenting, nafasku terengah-engah, aku berteriak. Pras memelukku.
“Kamu tidak frigid sayang. Bagaimana rasanya orgasme vaginal ?” Bisik Pras. Aku tertawa. Kukecup bibir Pras.

“Makasih ya. Rasanya luar biasa. Tak bisa kugambarkan, seperti kamu tak bisa menggambarkannya untukku. Tapi kayaknya aku masih ingin lagi, Pras”.
“Gantian aku yang di bawah ya, sayang”. Pras merebahkan tubuhnya. Aku menungganginya.
“Ajari aku ya, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya”, kataku.
“Santai saja, masukkan penisku ke vaginamu, lalu kamu bebas bergerak apa saja. You are in control now, aku ikutin saja gerakanmu”, kata Pras.

Lalu kami memulai lagi mendaki puncak asmara. Kugerakkan panggulku maju mundur. Pras mengulum buah dadaku yang menempel ke bibirnya. Lalu kutegakkan badanku di atas tubuh Pras, kubuat gerakan naik turun, depan belakang. Dalam posisi begini, terasa sekali penis Pras menggesek-gesek bagian sangat peka di dalam vaginaku. Rupanya Pras merasakan sensasi yang sama. Penisnya kadang terjepit, kadang terlepas di rongga tulang selangkanganku, mengikuti irama gerakan panggulku. Bibir vaginaku kadang kukontraksikan, untuk menambah rangsangan jepitan lembut di penisnya. Pras gelagapan menggapai napasnya. Diremas-remasnya buah dadaku yang terayun-ayun akibat gerakan tubuhku. Makin lama, aku makin mempercepat gerakan.

"Aku hampir sampai, Pras", kataku.
"Ayo sama-sama, ya.", kata Pras.
Dia remas buah dadaku. Tubuh kami mengejan bersama-sama, mencapai puncak kepuasan yang tiada tara.

Kurebahkan tubuhku di atas tubuh Pras, sama-sama kembali menormalkan napas dan aliran darah. Kupeluk tubuh Pras, seolah tak mau melepaskannya.

Kemudian kami berciuman. Lamaaaaaaaa..............