2Belas – Pilot

Bila ada orang yang memandang ke sebuah titik di tengah laut sana, akan terlihat sebuah pulau yang besar, terletak jauh dari pantai. Orang tidak akan bertanya-tanya pulau apakah itu, karena tidak terlihat ada tanda kehidupan di pulau itu. Tetapi jika ada orang yang melintas di atas pulau itu, akan terlihat sebuah dermaga dilanjutkan dengan jalan berliku, menembus hutan dan masuk ke tengah pulau tersebut. Jalan itu akan masuk ke sebuah gua, terus turun dan terhenti pada sebuah pintu baja besar, dengan kamera pengawas dan dikendalikan dari jarak jauh. Di balik pintu itu, terdapat ban berjalan yang dapat membawa orang-orang yang dapat masuk kedalam gua tersebut masuk lebih dalam lagi hingga tiba di ruangan yang ditata dengan selera tinggi seperti lobby hotel bintang lima. Dalam ruangan itu terdapat 13 pintu, dengan nomor 0 sampai 12 di atas masing-masing pintu tersebut. Dengan dilengkap dengan keypad pada masing-masing pintu, hanya orang yang mengerti sandi dari pintu tersebut yang dapat membukanya. Sekarang di dalam lobby tersebut ada 12 orang dengan topeng hitam yang menutupi mata mereka sehingga tidak ada yang bisa menebak siapa mereka sebenarnya. 12 orang itu mengenakan jubah mandi warna putih yang dibuat dari sutra. Mereka ditemani dengan 3 orang penjaga yang berbadan kekar, dengan raut muka yang menunjukan bahwa mereka bukan orang yang bisa diajak main-main dalam urusan ini. Salah seorang dari mereka menekan 12 digit nomor sandi di pintu dengan nomor 0, dalam sekejap pintu tersebut terbuka, dan mereka mempersilakan ke-12 orang tadi masuk diikuti oleh para penjaga. Ternyata ruangan yang ukurannya cukup besar sehingga 15 orang tersebut dapat berdiri dengan leluasa, adalah sebuah lif. Di dalam list tersebut ada tombol 0 sampai 12 diikuti dengan tombol A sampai E.

Lift tersebut kemudian berhenti ketika lampu pada angka 0 menyala. Dibalik pintu yang sekarang terbuka terlihat lorong terang. Di ujung lorong tersebut lagi-lagi terdapat pintu dengan keypad. Akhirnya, dua belas orang tersebut sampai ke dalam sebuah ruangan luas, di tengahnya terdapat 13 sofa mewah dengan nomor 0 sampai 12 di belakangnya, mengitari matras yang terlihat berkualitas paling baik. Di belakang kursi nomor 0 terdapat dua buah layar besar. Seseorang duduk di kursi nomor 0. Tubuhnya gempal, mukanya yang mengenakan topeng, tampak berparut. Ketiga penjaga tadi mempersilakan, 12 tamu tadi duduk sesuai dengan nomor yang tersemat di jas mereka. Setelah mereka duduk dengan nyaman di sofa mereka, baru mereka menyadari ada sesuatu di tengah matras yang ada di tengah mereka, diselubungi oleh kain hitam, dan bagi mereka yang awas, terlihat adanya sedikit gerakan di balik selubung hitam itu.

“Selamat malam, tuan-tuan sekalian, selamat datang di pulau kami.” pria yang duduk di kursi 0 akhirnya angkat bicara.

“Sesuai dengan pembicaraan kita sebelumnya, bahwa kami menjamin kerahasiaan, dari Anda semua, dan kami pun mengharapkan kemampuan Anda dalam menjaga rahasia ini.” lanjut pria itu. “Anda dapat memanggil saya Tuan 0 dan Anda juga dapat menggunakan nomor yang Anda dapatkan sebagai nama panggilan.”

“Ketiga orang di belakang saya ini, adalah orang yang dapat kita semua andalkan, agar semua keinginan kita semua dapat terlaksana dengan baik dan lancar.”

“Sebelum kita mulai dengan acara kita yang utama, perkenankan saya mengulang kembali hal-hal yang terkait dengan kelompok kita ini. Kelompok ini terdiri dari 12 orang, dengan ikatan anggota sepanjang 12 bulan. setelah 12 bulan, kita akan review apakah Anda semua masih dapat bergabung dengan kami, atau digantikan oleh calon anggota yang ada di daftar tunggu kami.”

“Setiap anggota dapat memilih target mereka masing-masing, sesuai dengan keinginan mereka, tanpa batasan status dan umur. Tapi tentu saja, target biasa dengan target public figure ataupun selebriti akan berbeda dari segi harga.”

“Setiap anggota dapat menggunakan fasilitas di ruangan yang ada di pulau kami ini, selama 30 hari, dan dapat menggunakan target mereka sesuka hati mereka, tanpa kecuali.”

Sebuah suara lirih terdengar dibalik selubung hitam itu, yang sekarang terlihat gemetar.

“Setelah waktu 30 hari habis, maka target akan menjadi hak milik kami, tertapi Anda tetap dapat menggunakan fasilitas yang tersedia bagi Anda selama 12 bulan.”

“Penggunaan target oleh semua anggota diperbolehkan, selama yang mengajak adalah anggota yang aktif pada bulan tersebut.

“Saya rasa, review singkat tersebut dapat diterima, mungkin ada pertanyaan dari Anda semua, sebelum kita mulai bisnis kita ini?”

12 orang tersebut hanya menganggukan kepala tanda mengerti, ada beberapa yang tampak tidak sabar untuk mengikuti acara selanjutnya.

“Baiklah jika Anda semua sudah mengerti.” Tuan 0 melanjutkan, “Tentu saja, kami tidak pernah hanya omong besar, tanpa memberikan bukti yang nyata. Sebagai tanda dimulainya bisnis kita ini, kami berikan sebuah sample dari apa yang akan Anda dapatkan dari kami.”

Tuan 0 melambaikan tangannya, dan salah satu pengawal tadi mendekat ke selubung tadi, lalu dengan cepat menariknya hingga semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, yang diterangi dengan sangat terang tapi dengan suhu yang ideal, dapat melihat apa atau siapa yang ada di balik selubung tadi.

12 orang tadi terkesiap, beberapa diantara mereka bahkan langsung merasakan penis mereka mengeras melihat sosok wanita, yang masih begitu muda, dengan rambut halus tergerai, kulit yang putih lembut dan tampak terawat, mereka bahkan dapat mencium wangi tubuh wanita itu dari sofa mereka. Tanpa mengenakan selembar benang pun, wanita itu bersujud di tengah matras dengan tangan terikat ke belakang dengan borgol hitam, di lehernya melingkar kalung dari kulit warna hitam yang dilengkapi dengan lingkara-lingkaran dari logam. Payudaranya bergerak naik turun ketika tangis yang tadi ditahan semakin tidak terbendung. Wanita itu menundukan kepalanya, tapi dengan cepat tiap orang dari mereka dapat mengenali siapa dia. Tetesan air mata, tampak menetes jatuh dari pipi wanita itu tapi hanya menambah nafsu 12 orang tadi untuk segera mendekat.

“Saya lihat semua familiar dengan sample yang kami tawarkan, saya harap sample dapat lebih membuat Anda yakin bahwa investasi Anda tidak akan sia-sia.”

Mereka mengangguk, dan beberapa tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol mereka.

“Target ini adalah permintaan khusus, dari klien kami, yang agak keberatan jika target masuk dalam lingkungan keluarga mereka dengan pernikahan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.”

Wanita itu hanya dapat menahan agar tangisannya tidak pecah lebih keras lagi dengan mengigit bibirnya.

“Karena ini adalah sample, tentu saja semuanya free of charge, tapi untuk dapat menentukan urutan dari Anda untuk dapat segera mendapatkan layanan dari kami, kami mohon Anda dapat memberikan jumlah uang muka yang dapat Anda serahkan untuk membayar jasa kami dalam mendapatkan target Anda. Harap diingat jumlah tawaran tidak dapat diubah, dan menentukan urutan Anda dalam mendapatkan target Anda.”

Penjaga tadi mengambil secarik kertas yang terlipat dan memasukan apa yang tertulis di masing-masing kertas tersebut pada komputer di bawah layar tadi. Dalam sekejap, terlihat urutan yang disusun berdasarkan besar tawaran dari mereka.

“Seperti Anda lihat, maka urutan final adalah, Tuan 7, Tuan 5, Tuan 9, Tuan, 8, Tuan 1, Tuan 2, Tuan 3, Tuan 11, Tuan 10, Tuan 4, Tuan 12, dan terakhir Tuan 6.”

Tuan 0 kemudian mengangkat telepon dan menunggu jawaban dari seberang sana.

“Selamat malam Tuan, kami disini sudah siap untuk mulai, apakah Tuan sudah siap menerima gambar dari kami?” Tuan 0 menunggu setelah itu mengangguk sambil berkata,”Tentu saja ini langsung Tuan, gambar akan Tuan terima dalam beberapa menit. Terima kasih.”

Dua orang pengawal yang tadi hanya berdiri, beranjak mengambil kamera video yang tampak berkualitas dan mengambil tempat di tepi matras sambil mulai mengambil gambar yang langsung terpancar ke layar besar tadi.

“Kamal, mulai!” perintah Tuan 0 pada penjaga yang menarik selubung hitam tadi.

Kamal mendekati wanita tadi yang tampak makin gemetar dan berusaha menyingkir, tapi kalah cepat karena tangan Kamal telah menjambak rambutnya dan membisikan kata-kata yang tampak tegas, yang membuat wanita gemetar ketika menganggukan kepalanya.

Perlu beberapa saat, yang dinanti dengan rasa tidak sabar dari 12 orang tadi , ketika wanita tadi mengangkat wajahnya dan memandang mereka. Suara yang keluar dari mulutnya penuh ketakutan.

“Nama saya Nia Ramadhani, umur saya 19 tahun, malam ini saya akan melayani Tuan semua, mohon ijinkan saya melayani Tuan semua.”

Pria yang dipanggil Tuan 6 langsung berdiri, dia tidak mau kehilangan kesempatan setelah tahu dirinya kalah dalam lelang urutan tadi, beberapa pria lain juga mengikuti dirinya. Tuan 6 langsung melepaskan jubahnya, dan menurunkan celana dalam yang dia kenakan. Penisnya mengacung dan bergoyang ketika ia melangkah diatas matras mendekati Nia. Nia memandang takut dan berusaha bangun menghindari Tuan 6, tapi terlambat, tangan Tuan 6 telah sampai dan mencengkeram kepalanya mengarahkan mulut Nia ke penisnya.

Nia Ramadhani

Nia Ramadhani

Nia memandang Tuan 6, mengharapkan dapat memohon belas kasihan, tapi ia hanya melihat sorot mata penuh nafsu, yang membuatnya membuka mulut dan menelan penis Tuan 6 yang terasa begitu keras memenuhi mulutnya. Nia membasahi batang penis itu dengan lidahnya, sembari menghisapnya perlahan. Ia memejamkan matanya.

“Lihat ke atas!” Tuan 6 menghardik.

Nia membuka matanya dan menatap dengan mata yang basah, sambil terus berusaha memuaskan pemilik penis yang bergerak keluar masuk di mulutnya itu. Nia melihat Tuan 6 tersenyum nikmat, menikmati setiap detik penis miliknya merasakan kehangatan mulut Nia.

Nia tersentak kaget ketika ia merasakan, tubuh lain menempel dipunggungnya, merabai punggungnya turun hingga pantatnya, kemudian meremas bongkahan pantat yang begitu kencang dan halus.

“Bener-bener kualitas nomor satu!” Nia mendengar suara pria lain yang berada di belakangnya. Hampir bersamaan, ia merasakan 2 orang pria mengapit dirinya, semuanya juga telanjang bulat, keduanya mengulurkan tangan mereka, mulai meremas buah dadanya yang ranum.

Nia mengerang lirih, hampir tak terdengar karena penis Tuan 6 yang makin cepat keluar masuk, ketika remasan itu dilanjutkan dengan pilinan di puting susunya, ia bergidik ketika merasakan mulut mereka menghisap dan menjilat puting susunya, yang tanpa kuasa mengeras dan mengacung.

“Ukurannya pas. Dan yang penting kencang!” pria di sebalah kanan Nia berkata, sambil terus menghisap sambil sekali-kali mengigiti puting susu itu hingga Nia kembali merintih.

Tuan 6 melihat mata Nia melebar ketika merasakan sebuah jari masuk kedalam belahan vaginanya. Ia berusaha melepaskan jari itu tapi tak berdaya, membuat Nia frustasi dan kembali melelehkan air mata. Nia merasakan, vaginanya mulai lembab, lalu menjadi licin membuat jari itu dapat leluasa bergerak masuk kedalam dan merangsang lebih dalam lagi.

Nia masih memandang Tuan 6 ketika ia melihat Tuan 6 memandang ke pria yang ada di belakangnya, sambil menganggukan kepala. Tangan Tuan 6 memegang kepala Nia, menahannya ketika ia melangkah mundur kebelakang. Sementara pria di belakang Nia memegangi pinggulnya, dan kedua pria lain yang ada di sisinya menahan pundaknya. Nia sekarang dalam posisi doggy style ditahan pada bagian bahu oleh 2 pria tadi. Pria di belakang tadi membuka kaki Nia, meremas pantatnya, dan menempelkan kepala penisnya ke bibir vagina Nia yang terlihat berkilat. Nia mengerang, meronta dan memohon, dengan mulut dipenuhi oleh penis Tuan 6, ia merasakan kepala penis yang sama kerasnya dengan yang ada di mulutnya, mulai membuka jalan masuk ke dalam liang kewanitaannya.

“Shit, sempit banget! Padahal dia udah gak perawan kayaknya.” suara di belakang Nia kembali terdengar sambil terus mendorong penisnya.

Tubuh Nia mengejang ketika penis itu akhirnya menang, ia merasakan ngilu bercampur sakit ketika dengan gerakan kasar penis itu mulai bergerak menyetubuhinya. Nia mendengar dengusan ketika pria itu menghentakan penisnya, keluar dan masuk, membuat tubuh Nia terdorong. Sebuah tangan meremas tangan kiri Nia sementara satu tangan lagi menahan pinggulnya, membuat tubuh Nia tetap dalam posisi doggy style walaupun sudah tidak ada yang memegangi pundaknya. Kedua pria tadi kembali menikmati buah dada Nia yang sekarang tergantung di depan mata mereka.

“Ayo lanjutkan!” Tuan 6 menghardik Nia yang berhenti menghisap penisnya ketika rasa sakit menyerang bagian bawah tubuhnya tadi.

Pria lain yang menunggu giliran, semuanya telah melepaskan jubah masing-masing dan mengusapi penis mereka yang sudah tegang, dengan tidak sabar menunggu giliran memandang pemandangan yang sangat merangsang dimana artis yang biasa mereka lihat di sinetron sekarang tengah mengejang dan mengerang melayani empat orang pria yang tanpa ampun menikmati setiap senti dari tubuhnya.

Dua pengawal tadi terus mengambil gambar dari sudut yang terbaik, yang langsung terpancar ke dua layar besar, yang sekarang sedang diamati oleh Tuan 0. Bunyi telepon hampir tak terdengar karena suara erangan 2 pria yang sedang merasakan kenikmatan dunia melalui tubuh Nia terdengar memenuhi ruangan itu. Tuan 0 mengangkat dan mendengarkan sambil tersenyum senang.

“Kami hanya memberikan yang terbaik saja Tuan, dan kami sudah membuktikan bahwa dana yang kami butuhkan untuk melaksanakan semua ini, tentu masih kecil dibandingkan dengan apabila dia masuk dalam keluarga Tuan dan mendapat bagian dari kekayaan Tuan.” jawab Tuan 0, “Terima kasih Tuan, selamat menikmati show kami ini, dan jika Tuan membutuhkan copynya, kami siap membantu.”

Tuan 0 tersenyum sambil menutup teleponnya. Layar monitor di samping tempat duduknya, berkedip dan terlihat informasi masuknya dana ke dalam rekening pribadinya, dengan jumlah digit lebih dari 9. Sementara di tengah matras, Tuan 0 tampak sudah tidak tahan untuk memuntahkan cairan cintanya ke dalam mulut Nia yang terus-menerus menghisap, menjilat dan bergerak merangsang penisnya yang dari tadi terus berkedut menahan orgasme. Sementara pria di belakang Nia, sekarang memegangi kedua tanngan NIa dan semakin brutal mendorong penisnya ingin memasukan penis miliknya sedalam mungkin kedalam liang kenikmatan itu. Rangsangan pada buah dada serta hentakan dan gesekan penis pada clitoris Nia, membuat Nia berkeringat, tubuhnya bergetar merasakan gelora yang mulai tak kuasa lagi dibendungnya. Ia meronta-ronta ketika gelora itu makin memuncak dan akhirnya Nia melengking ketika orgasme menghajar vaginanya, dan terus naik keseluruh tubuhnya membuatnya menggelepar dalam pegangan pria yang terus menyetubuhinya, seakan sedang berlomba ingin menyusulnya meraih orgasme yang dahsyat. Tuan 6 mengerang sambil menahan kepala Nia hingga penisnya masuk hingga kepala penisnya bisa merasakan gerakan otot tenggorokan Nia yang meronta-ronta ketika sperma menyembur dan langsung masuk ke dalam tenggorokan Nia.

Mata Nia membelalak memohon agar Tuan 6 melepaskan pegangannya tapi tanpa hasil sementara, hentakan di vaginanya kembali membawa dirinya diambang orgasme yang kedua, bersamaan dengan dengusan pria itu, Nia kembali tersapu orgasme yang lebih besar dan beruntun tanpa ampun. Kepalanya langsung tersungkur ke matras, ketika pria di belakangnya melepaskan pengangan tangannya. Nafas Nia tersengal-sengal, tubuhnya bergetar, vaginanya terasa ngilu setelah semua kenikmatan yang barusan ia terima secara beruntun. Tuan 6 dan pria tadi tersenyum puas, dan menghempaskan tubuh mereka ke sofa mereka masing-masing. Melihat dua pria yang tadi mengerjai buah dada Nia, membalikkan tubuh Nia hingga terlentang sekarang.

“Jangan… saya mohon, sakit… hentikan…” Nia berusaha menjauh ketika kakinya dibuka lebar oleh Tuan 4, sementara penis Tuan 8 sudah mengacung di depan mulutnya.

“Buka!” perintah Tuan 8

Nia membuka mulutnya yang terasa begitu kaku, setelah dipakai oleh Tuan 6, tapi Tuan 8 tidak peduli, dan langsung menggerakan kepala Nia membuat mulut Nia kembali menelan penis milik pria yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Tuan 8 menggeram nikmat ketika ia akhirnya merasakan kehangatan mulut Nia dengan lidahnya yang menyapu setiap bagian dari penisnya dengan begitu lembut. Tangan Tuan 8 terus meremasi buah dada Nia yang terlihat memerah. Sementara itu Tuan 4 menahan pinggul Nia ketika mulai melesakkan kepala penisnya kedalam vagina Nia.

“Neegghh, eeeghhh… hhhggkk…” Nia mengerang ketika penis itu menembus tubuhnya lagi, dan mulai merangsang vaginanya lagi.

Tuan 4 mengangkat kaki Nia hingga penisnya bisa masuk lebih dalam dan merasakan jepitan otot vagina yang meremas batang penisnya membuat ia mengerang nikmat. Kedua pria itu bergerak makin cepat, karena dari tadi mereka sudah menahan nafsu mereka dan ingin segara merasakan puncak kenikmatan dunia bersama artis yang tanpa perlawanan melayani mereka. Sama seperti mereka, Nia pun mengalami dorongan seksual yang kian lama kian memuncak dan untuk ketiga kalinya tubuhnya meledak dalam orgasme bersamaan dengan semburan hangat dari penis Tuan 4 di dalam vaginanya. Dua manusia berbeda umur dan kelamin itu mengerang dalam kenikmatan seksual yang sama sebelum akhirnya lemas.

Tuan 4 bangkit dan menuju sofanya, sementara tempatnya digantikan oleh Tuan 8 yang sudah puas menikmati mulut Nia. Tapi hanya sesaat Nia dapat menutup mulutnya karena sepasang kaki sudah ada dihadapannya, diikuti dengan turunnya batang penis lain depan mulutnya. Delapan pria berikutnya bergantian menikmati mulut dan vagina Nia, tanpa mempedulikan, erangan Nia, serta tangisan yang memohon mereka untuk berhenti sejenak agar dia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk redam dihajar oleh begitu banyak penis dan merasakan orgasme yang tiada henti. Kenikmatan orgasme itu sudah hilang digantikan oleh rasa ngilu setiap kali tubuhnya mengejang. Tuan 2 sedang menikmati goyangan pantat Nia yang sedang duduk diatasnya, berusaha segera mengakhiri siksaan itu, ketika Tuan 6 kembali bangkit, dengan penis yang sudah tegak berdiri. Tuan 6 merasa tidak puas sebagai satu-satunya orang yang tidak merasakan nikmatnya vagina Nia, mendorong Nia hingga dadanya menempel dengan dada Tuan 2. Nia menjerit panik ketika kedua tangan Tuan 6 membuka belahan pantatnya dan merasakan ibu jari Tuan 6 di lubang anusnya.

“Jangan, jangan, jangan disitu, jangan saya mohon. Jangan Tuan, jangaaakkhhh, hhhgggkkkk, aaaakkkkhhh, sakiiihhhkkk…” Nia menjerit kesakitan ketika Tuan 6 mendorong penisnya masuk ke lubang anus miliknya yang selama ini belum penrah dimasuki oleh apapun.

Lolongan Nia, disambut seringai dari semua pria yang ada di ruangan itu, sebagian menyemangati Tuan 6 agar terus mendorong. Tuan 2 mengerang nikmat karena Nia yang mengejan, menahan penis Tuan 6 membuat vaginanya meremas batang penisnya dengan begitu nikmat. Lengkingan Nia terputus ketika akhirnya penis Tuan 6 berhasil menerobos masuk dan terus mendorong hingga seluruh batang penis itu masuk ke dalam anus Nia. Dua pria itu kemudian mulai bergerak bersamaan, sementara Nia menjerit setiap mereka bergerak keluar masuk tubuhnya. Gerakan itu melambat ketika Kamal mendekati Nia, sambil membawa sebuah handphone. Ia berbisik pada telinga Nia, sambil menjambak rambutnya hingga Nia bisa melihat nomor yang ia tekan dan berbicara pada handphone tersebut.

Nia terlihat menggigit bibirnya ketika terdengar nada sambung dari speaker handphone tersebut.

“Halo, halo? Nia? Kamu dimana sayang? AKu hubungi beberapa hari ini gak pernah bisa. Halo? Halo?” suara pria terdengar dari speaker handphone tersebut.

“Hhkk..Mas Ardi..hhkk, aku gahk apa apa mas.. hkk..” Nia berkata sambil menahan hentakan Tuan 6 dan Tuan 2 yang terus menyetubuhinya.

“Kamu dimana sayang, halo? Kamu kenapa? Suara kamu kok beda… Sayang?”

“Mas Ardi, aku gak bisa bersama mas lagihhhkk, tolong lupakanhhkk aku mas.. Aku gak bisahh hggghhkk, mendampingi masshhkkk…”

“Apa maksud kamu, aku gak ngerti, papa sudah tanya kamu ter…”

“Lupakaan aku mass, lupakannn, aaahkk akggkkkk…”

Kamal menekan tombol untuk memutuskan hubungan. Melihat itu Tuan 2 dan Tuan 6 kembali menghentak dengan brutal untuk segera mengakhiri persetubuhan itu. Dan tak lama kemudian, kedua pria itu mengerang bersamaan, ketika mereka menumpahkan semua cairan cinta mereka ke dalam tubuh Nia. Nia hanya tersungkur, dengan nafas berat, matanya melihat kedua pria tadi duduk di soaf mereka masing-masing sambil tersenyum puas. Kepala Nia berputar, sebelum akhirnya ia pingsan kelelahan. Tuan 0 menepukan kedua telapak tangannya tanda kagum dengan pertunjukan yang baru ia saksikan. Kedua penjaga tadi membereskan kamera masing-masing dan kemudian membantu Kamal mengangkat tubuh Nia keluar ruangan.

“Kami ucapkan terima kasih atas apresiasi Tuan semua pada sample kami yang kami yakin sangat memuaskan bagi Tuan semua.” kata Tuan 0 ketika tubuh Nia sudah dibawa keluar dari ruangan itu. “Berikutnya Kahar akan membagikan amplop yang berisikan sandi untuk masuk ke ruangan yang sudah disediakan bagi Tuan semua. Tuan semua dapat mempergunakan ruangan itu kapan saja, selama masih menjadi anggota kami. Kami persilakan menggunakan cara yang tertera untuk dapat menghubungi kami, sehingga kami dapat menyediakan transportasi dari tempat Tuan ke pulau ini. Kami siap 24 jam untuk dihubungi oleh Tuan semua.”

12 pria tadi tersenyum menerima amplop yang dibagikan oleh Kahar.

“Kami rasa presentasi kami cukup jelas, kami menunggu kabar dari Tuan 7 mengenai target yang diinginkan, sehingga kami bisa mempersiapkannya dengan baik.”

Tuan 7 menganggukan kepala dan berjanji akan mengabari secepatnya. Akhirnya didampingi oleh tiga pengawal tadi, 12 pria tadi keluar ruangan meninggalkan Tuan 0 sendirian. Tuan 0 tersenyum puas dengan apa yang baru saja terjadi dan ia yakin rencana dirinya itu akan sukses besar dan ia dapat segera mencapai apa yang dia inginkan. Dengan cepat dan mudah. Nia membuka matanya, berusaha melihat sekelilingnya, sebelum akhirnya sadar ia ada di dalam sel tempat ia disekap selama ini. Tanganya masih terborgol kebelakang, bahu kanannya sakit karena menahan tubuhnya selama ia pingsan. Tubuh Nia sudah bersih dan harum kembali. Ia berbaring di atas matras kecil di dalam sebuah sel berukuran 5 x 5 meter. Ketika Nia sedang merenungi nasibnya, ia mendengar langkah kaki mendekat. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Tuan 0 beserta tiga pengawalnya ada di depan pintu sel.

“Selamat malam Nia, Aku rasa tidur selama 24 jam cukup bagi kamu kan.”

“Lepaskan saya, saya mohon, apa salah saya?”

“Berapa lama waktu yang kalian butuhkan mengajari dia jadi seperti kemarin?” tanya Tuan 0 pada Kahar.

“5 hari Bos.” jawab Kahar.

“Bagus, aku puas dengan hasil kerja kalian, sehingga presentasi kemarin bisa berjalan dengan lancar.” kata Tuan 0. “Aku rasa kalian pantas mendapatkan hadiah tambahan.”

Ketiga pengawal itu tersenyum lebar, salah satu dari mereka membuka kunci pintu sel itu lalu masuk mendekati Nia, diikuti oleh dua temannya. Nia berusaha bangkit dan menjauh dari mereka ketika mendengar pintu sel tadi berdentang menutup. Tuan 0 berjalan menuju lift sambil mendengarkan jeritan Nia yang meminta tolong dan memohon ampun pada ketiga pengawalnya yang tertawa ketika menikmati hadiah yang baru ia berikan.

By: Angelic Slut

Sumber : 2Belas

KISAH NYATA

Kembali ada sumbangan cerita dari seorang anggota^^ katanya ini kisah nyata miliknya....


eh....aku mau mandi dulu yah,”kataku pada rahma

tapi jangan ngintip ,’kataku menggodanya

wee....ngapain ngintip kamu,”jawabnya padaku merasa kurang senang

lalu aku pergi ambil handuk,sengaja ku buka pintu kamarku ketika aku membuka baju dan celanaku tinggal celana dalam yang tersisa.ku lirik ke rahma tapi kulihat seolah olah dia tidak melihatku.

di dalam kamar mandi otak mesumku mulai merencanakan untuk memcumbunya..

kupercepat mandiku.Sengaja aku nggak pake celana dalam agar mudah untuk take off nantinya. aku keluar kamar sengaja nggak pake baju,akal bulus ku mulai kumainkan. kudekati rahma dari belakang langsung kurangkul pinggangnya yang ramping,kucium lehernya mulai dari rambut sampai telingannya.dia merapatkan bahunnya merasakan geli bercampur nikmat karena kumisku.

jangan om,......”rintihnya sambil berusaha menghindar dariku

rahma.........oh.oh ,” sambil kugesekkan penisku yang tak terhalang oleh cd

rahma meronta melepaskan rangkulanku merapat ke dinding, karena nafsu yang mengebu kurapatkan badanku dari depan, sambil tangan ku begerilya ke balik baju kaos ketatnya meraih bra dan memainkan punting susunya, buah dadanya kecil dan kenyal.kulihat rahma mulai merasa terangsang menikmati rasa geli bercampur nikmat.kubuka roknya mulai memainkan vaginanya.

sssssssssssssssstttt.........,”napasnya tertahan

om.............jangan om,” suaranya tertahan menahan rasa kenikmatan.

duh...........om,” saat kumainkan klitorisnya,dia spontan merapatkan pahanya.

kulumat habis bibir tipisnya,semula dia hanya diam,namun lama kelamaan dia mulai bereaksi,menjulurkan lidahnya,justru aku yang jadi bulan bulanan kecupannya.

kurasakan napasnya tersengal sengal tak tahan saat ku maikan klitorisnya. kutarik celana merah muda yang selama ini tertutup rapi. kutuntun tangannya untuk mengenggam penisku yang dari tadi sudah tegang dan mengeras.

om......besar sekali ,” saat rahma mulai mengenggam penis ku.

ayo ma, mainkan , aku ingin ............,”suaraku terputus saat rahma mulai memasukkan penisku kedalam mulutnya, lidahnya mulai mengelitik penisku,menyedot, dan sesekali menjilati kepala penisku. aku merasakan sensasi yang luar biasa,meski mulut rahma serasa penuh oleh penisku tapi dia seolah olah menikmati es krim yang lezat.

om.............,masukin yah om, aku dak tahan lagi,”pintannya.

dia merebahkan badannya diatas karpet wol, yang baru saja kubeli tadi pagi. tubuh bugilnya membuat aku tambah tersangsang, kulit putih bersih, walau sedikit kurus tapi pantatnya berisi,buah dadanya bak buah yang ranum siap dipetik,vagina bersih tanpa bulu walau terasa sedikit kasar sepertinya baru di cukur. menonjol kemerahan lipatan vaginanya mulai basah dan berlendir.

saat penisku menyentuh vaginanya, terasa sekali sempit, berulang kali aku menusukkan kelubang vaginanya belum juga dapat masuk fuul.setelah bererapa saat mulai terasa penisku menyentuh dasarnya.

auwwwwwh....”jeritnya tertahan

pelan pelan om,”

tanpa menghiraukan rintihannya kegenjot terus penisku yang mulai lancar karena basah dilobang vaginannya.baru sekitar 15 menit dia mengejan menumpahkan sperma dia ,terasa hangat , lubang vaginanya menyedot nyedot penisku. uffffffffssssst .............,nikmat sekali.

kuanggat kakinya kugantung di pundakku,aku berjongkok untuk dapat lebih dalam lagi menusukkan penisku.

ma.....enak sekali memekmu......,” ku cuba menaikkan emosinya agar terpacu lagi gairahnya untuk yang kedua,sambil terus memainkkan klitorisnya. kepalanya mengeleng kekiri kekanan menahan rasa kenikmatan yang sulit dibayangkan. kubalikkan badannya kesamping aku ingin dia menerima sensasi dari samping ( posisi ini yang paling kusenangngi) karena jepitan vagina menyempit di kepala penis.

tak lama berselang rahma kembali menumpahkan spermanya membasahi kepala penisku.kubiarkan vaginanya menyedot penisku, membiarkan sebentar agar dia merasakan kenikmatannya.

om.........enak banget,” pelukannya makin rapat.

kubiarkan dia hanyut,untuk beberapa saat.

aku menyuruhnya untuk tengkurap, posisi ini juga merupakan yang kusukai. sensasi jepitan vagina ditambah dengan empuknya pantat yang dapat sesekali kuremas. kupercepat volume sodokkanku sambil menciummi leher dan telinganya.badanya gemetaran menahan geli dan nikmat,geli di lehernya saat kuusapkan kumisku ke lehernya,nikamat saat kumainkan puting susunya yang kenyal dan empuk. sungguh luar biasa memeknya meski sudah melahirkan anak vaginanya masih rapet, yang lebih membuat akau tak tahan memeknya berdenyut denyut,memainkkan penisku seolah olah memijit mijit,ahhhhhhhhhhh luar biasa sensasi kenikmatan yang kudapatkan.

satu jam hampir berlalu sengaja kutunggu orgamesnya yang ketiga,agar rahma mendapatkan kepuasan yang mungkin tak terlupakan. disaat puncakku hampir sampai semburan yang ketiga rahma kembali menghangatkan penisku. saat di puncak ku muntahkan spermaku di atas perutnya. aku tak mau dia hamil,

ohhhhhh................, “ ku kocok kocok penisku memuntahkan sisa sperma..

badanku ambruk disamping rahma. sekian menit berlalu kami membisu menikmati apa yang barusan terjadi.

om...........,” rahma mencium bibirku,pipiku

kenapa kamu suka,”kataku mengoda

senyum nya manis sekali,sepertinya dia sangat menikmati permainan ini.

om.......baru sekali ini aku merasakan nikmatnya bercinta,” bisiknya di telinggaku

\ kamu hebat sekali,” rahma memuji sambil merebahkan kepalanya di pundakku.

kucium rambutnya ,terasa segar dan harum.aku tertidur pulas entah berapa jam.

**********************

rahma adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan,hatinya begitu hancur karena baru saja menikmati hidup baru. 1,5 tahun dia mengurung dirinya, meratapi kesedihan atas apa yang terjadi padanya.

rahma seorang sosok wanita cantik di mataku,dia berkulit putih bersih,pipinya sedikit kemerahan, bodynya langsing berisi.siapapun yang melihat pasti tertarik.dia adalah istri temanku. hampir 1 tahun terakhir ini aku sering membantunya.memberinya uang untuk membeli susu anaknya, mencarikan dia pekerjaan, dan terkadang aku sering mengantarkan makanan disaat aku pulang kerja. semula niat baikku tak akan ternoda bila aku dapat menguasai diriku, tetapi aku hanyalah laki laki normal yang tak mampu menahan gejolak nafsu.apalagi karena seringnya kami berduan berboncengan diatas motor dan sesekali buah dadanya menempel di pungguku saat aku mengerem mendadak. dan seringkali kusengaja agar aku dapat merasakan buah dadanya yang mungil,padat dan berisi itu.

usianya 22 tahun saat itu,anda bisa bayangkan usia itu masih sangat muda,masih kuat di ingatanku saat dia naik pelaminnan wajah cantiknya sungguh mempesonaku diantara undangan lainnya.Andini pacarku saja masih jauh dari rahma meski dia sudah memiliki seorang anak berusia 1,2 bulan. rambutnya panjang terurai wangi dan berkilau saat ditimpa matahari.

aku merasa syok saat suatu malam aku bermimpi melihat wajah suaminya memandangku tajam, menunjukkan kemarahannya. seolah dia tak ihklas aku meniduri mantan isterinya. aku syok sekali bayangan wajah itu sering muncul setelah aku , bercinta dengan rahma. pernah kuceritakan pada rahma setelah usai kami bermain,ada sedikit kesedihan di matanya.. tapi setelah itu dia selalu menjawab

dia memang dulu suamiku,tapi apakah mungkin dia bisa memuaskan nafsuku sekarang ini,”jawabnya

dan lagi dia tidak sehebat kamu, dia cuma mampu 10 menit disaat aku baru mau mulai,” keluhnya

lima bulan berselang aku selalu menghindar dari rahma,setelah orang tua andini selalumendesakku untuk segera menikahi andini

walau sesekali aku masih memberi rahma kenikmatan yang dia minta, nafsu rahma termasuk tinggi.dan belum puas kalau belum orgamus yang ketiga.

*******************

saat kuceritakan ini, aku masih membayangkan rahma.walau saat ini aku sudah memiliki 2 orang anak . khabar terakhir dia menelponku dia mau menikah dengan seorang duda beranak dua. kujawab dengan sopan,baguslah kamu segera menikah .. agar hidupmu lebih terjamin.

selamat jalan, sahabat mohon maaf ku yang tak terhinnga.aku salah menjalankan amanatmu untuk melindungi anak dan isterimu.

kututup ceritaku besar harapan bayangan wajah sahabat,tentram di alam sana

di sudut kota,metro politan desember 2001

Silakan Perkosa Istriku


“MMMMPPFFFF….mmmpffff….” perempuan di atas ranjang itu mendesah tertahan karena mulutnya tersumpal celana dalamnya sendiri

Perempuan yang semasa gadis kukejar-kejar itu meronta-ronta tak berdaya. Kedua tangannya terikat terentang ke sebatang besi yang melintang. Kedua matanya tertutup sehelai kain hitam yang mengikat kepalanya. Dulu, ia jadi buruan banyak lelaki, termasuk aku. Reni namanya, umur 27 tahun, lima tahun lebih muda dariku, kulitnya putih mulus, rambut panjang agak bergelombang dan mata yang bulat indah. Ia seorang wanita yang terkenal alim sejak dulu, santun dalam tingkah laku, selera berpakaiannya pun tinggi, ia tidak suka mengumbar kemulusan tubuhnya walau dikaruniai body yang aduhai dengan payudara yang montok. Dari sekian banyak lelaki, akhirnya akulah yang beruntung mendapatkannya sebagai istri. Aku tahu, banyak lelaki lain yang pernah menidurinya dalam mimpi atau menjadikannya objek masturbasi mereka. Tetapi, aku bukan hanya bermimpi. Aku bahkan betul-betul menidurinya kapanpun aku mau. Ia juga membantuku masturbasi saat ia datang bulan. Cintaku padanya belum berubah, yang berubah hanya caraku memandangnya. Tiba-tiba, entah kapan dan bagaimana awalnya, aku selalu membayangkan Reni dalam dekapan lelaki lain. Entah aku sudah gila atau bagaimana, rasanya benar-benar excited membayangkan payudara dan vaginanya dalam genggaman telapak tangan pria lain, terutama yang bertampang kasar dan status sosialnya di bawahnya. Reni istri yang setia, jadi tentu saja, dalam imajinasiku itu, Reni tidak sedang berselingkuh. Aku mungkin gila membayangkannya menderita lantaran diperkosa! Dan kini imajinasiku itu menjadi kenyataan. Di depanku, seorang lelaki tengah memeluknya dari belakang. Sebelah tangan lelaki itu meremas-remas payudaranya. Sebelah lagi dengan kasar melakukan hal yang sama pada pangkal pahanya. Tiga lelaki sedang bersiap-siap memperkosa Reni, seorang istri setia yang alim. Itu semua terjadi di depan suaminya sendiri dan atas perintahnya. Tentu saja, Reni tak tahu hal itu terjadi atas rancangan aku, suaminya. Itu sebabnya, kedua matanya kini terikat. Tiga lelaki itu adalah orang yang kupilih untuk mewujudkan fantasi gilaku.

Setelah melalui beberapa pertimbangan dan pembicaraan-pembicaraan santai yang makin mengarah ke serius, akhirnya kudapatkan juga tiga orang yang kurasa pas untuk mewujudkan kegilaanku. Orang pertama, Aldo, adalah office boy di kantor tempatku bekerja. Orangnya masih berumur 23 tahun, berperawakan kurus tinggi dengan kumis tipis. Dia sering membantuku dan tugas-tugas yang pernah kupercayakan padanya pun selalu rapi. Pada jam istirahat atau lembur kami sering ngobrol dan merokok bersama, dan dalam suatu obrolan lah aku mengungkapkan ide gilaku padanya. Sifatnya agak pemalu dan pendiam sehingga tidak banyak teman.Menurut pengakuannya, ia belum pernah berpacaran apalagi main perempuan.

“Ya boleh juga lah Bos, sapa tau seperti kata Bos, bisa bikin saya lebih berani ke cewek hehehe” katanya menanggapi permintaanku.

Orang kedua Bob, seorang temanku di perusahaan tempatku bekerja dulu, seorang pria berusia 40 tahun lebih. Aku berpikir dia pas untuk tugas gila ini begitu melihatnya terutama perutnya yang gendut. Aku memang kadang mengkhayalkan wajah Reni yang lembut dikangkangi seorang lelaki gendut. Bob mengaku tertarik dengan tawaranku lantaran ia punya seorang karyawati cantik yang belum berhasil ditaklukannya. Ia memperlihatkan foto gadis itu kepada kami yang memang harus diakui cantik. Kata Bob, ia sudah berulangkali mencoba merayu gadis itu untuk melayaninya, tetapi gadis itu selalu menolaknya.

“Setelah bermain-main dengan Reni, aku ingin kalian membantuku memperkosa si Lia ini” katanya.

Orang ketiga bernama Jaelani yang direkomendasikan oleh Bob. Ia adalah sopir perusahaan di tempat kerja Bob, tubuhnya kekar, kulitnya hitam, kumis di atas bibirnya menambah sangar wajahnya yang memang sudah seram itu. Melihatnya, aku langsung membayangkan Reni menjerit-jerit lantaran vaginanya disodok penis pria seperkasa Jaelanni ini.

“Saya udah lima tahun cerai, selama ini mainnya sama perek kampung aja kalau lagi sange, kalau ngeliat yang cantik kaya istri Abang ini wah siapa ga kepengen Bang” sahutnya antusias ketika kuperlihatkan foto Reni di HP-ku.

“OK deh, minggu depan kita beraksi. Silakan kalian puaskan diri dengan istriku. Nanti hari H min satu kita atur lagi lebih dalam rencananya! kataku mengakhiri pertemuan.

***

H – 1

Sehari sebelum hari yang direncanakan tiba, kami berempat berkumpul lagi di rumah kontrakan Jaelani untuk membahas apa yang harus dilakukan. Akhirnya, ide Bob yang kami pakai. Idenya adalah menculik istriku dan membawanya ke villa Bob yang besar dan terletak di luar kota. Bob menjamin, teriakan sekeras apapun tak akan terdengar keluar villanya itu, selain itu suasananya pun jauh dari keramaian kota sehingga aman untuk melakukannya. Kami semua sepakat dan mulai membagi tugas. Aku tak sabar menunggu saatnya mendengar jeritan kesakitan Reni diperkosa ketiga pria ini.

***

Hari H

Hari yang disepakati pun tiba. Aku tahu, pagi itu Reni akan ke rumah temannya. Aku tahu kebiasaannya. Setelah aku berangkat kantor, ia akan mandi. Hari itu ia memakai gaun terusan krem bermotif bunga-bunga. Sebenarnya aku tidak ke kantor, tetapi ke rumah Bob. Di sana, tiga temanku sudah siap. Kamipun meluncur ke rumahku dengan mobil van milik Bob. Sekitar sepuluh menit lagi sampai, kutelepon Reni.

“Sudah mandi, sayang ?” kataku.

“Barusan selesai kok” sahutnya.

“Sekarang lagi apa?”

“Lagi mau pake baju, hi hi…” katanya manja.

“Wah, kamu lagi telanjang ya ?”

“Hi hi… iya,”

“Cepat pake baju, ntar ada yang ngintip lho !” kataku.

“Iya sayang, ini lagi pake BH,” sahutnya lagi.

“Ya udah, aku kerja dulu ya, cup mmuaachh…” kataku menutup telepon.

Tepat saat itu mobil Bob berhenti di samping rumahku yang tak ada jendelanya. Jadi, Reni tak akan bisa mengintip siapa yang datang. Bob, Aldo dan Jaelani turun, langsung ke belakang rumah. Kuberitahu mereka tentang pintu belakang yang tak terkunci. Aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kulihat Aldo sudah kembali dan mengacungkan jempolnya. Cepat kuparkir mobil Bob di garasiku sendiri.

“Matanya sudah ditutup Do?” kataku.

“Sudah bos. Mbak Reni sudah diikat dan mulutnya disumpel. Tinggal angkut” katanya.

Memang, kulihat Bob dan Jaelani sedang menggotong Reni yang tengah meronta-ronta. Istriku yang malang itu kini terikat tak berdaya. Kedua tangannya terikat ke belakang. Aku siap di belakang kemudi. Kulirik ke belakang, tiga lelaki itu memangku Reni yang terbaring di jok tengah.

“Ha ha… step one, success!” kata Bob.

Aku menelan liurku ketika rok Reni disingkap sampai ke pinggang. Tangan mereka saling berebut menjamah pahanya yang putih mulus. Bob bahkan telah menurunkan bagian dada Reni yang agak rendah sehingga sebelah payudaranya yang masih terbungkus bra hitam menyembul keluar. Lalu, ia menurunkan cup bra itu. Mata ketiganya seolah mau copot melihat payudara 34B Reni yang bulat montok dengan puting coklat itu. Bob bahkan langsung melumat bongkahan kenyal itu dengna bernafsu embuat Reni merintih-rintih. Gilanya, aku malah sangat menikmati pemandangan itu.

“Udah Bang, sekarang berangkat aja dulu” kata Jaelani sambil jarinya mulai merambahi selangkangan Reni dan mengelusi vaginanya dari luar celana dalamnya.

***

Villa Bob

Setelah empat puluh menit perjalanan tibalah kami di villa Bob yang besar. Kami mengikat Reni di ranjang dengan tangan terentang ke atas. Si sopir, Jaelani, tengah memeluknya dari belakang, meremas payudara dan pangkal pahanya.

“Pak Bob merokok kan? Reni benci sekali lelaki perokok. Saya pingin ngelihat dia dicium lelaki yang sedang merokok. Saya juga pengen Pak Bob meniupkan asap rokok ke dalam memeknya,” bisikku kepada Bob.

Bob mengangguk sambil menyeringai. Aku lalu mengambil posisi yang tak terlihat Reni, tapi aku leluasa melihatnya. Kulihat Bob sudah menyulut rokoknya dan kini berdiri di hadapan Reni. Dilepasnya penutup mata Reni. Mata sendunya berkerjap-kerjap dan tiba-tiba melotot. Rontaan Reni makin menjadi ketika Bob menjilati pipinya yang halus. Apalagi, kulihat tangan Jaelani tengah mengobok-obok vaginanya. Pinggul Reni menggeliat-geliat menahan nikmat.

“Bang nggak bosen-bosen mainin memek Mbak Reni,” tanya Aldo yang duduk di sebelahku sambil memainkan penisnya.

“Lho, kok kamu di sini. Ayo direkam sana!” kataku menepuk punggungnya.

“Oh iya. Lupa!” kata Aldo sambil cengengesan.

Bob menarik lepas celana dalam Reni yang menyumbat mulutnya.

“Lepaskaaaan…. mau apa kalian… lepaskaaaan!” langsung terdengar jerit histeris Reni yang marah bercampur takut.

“Tenang Mbak Reni, kita cuma mau main-main sebentar kok,” kata Bob sambil menghembuskan asap rokok ke wajah cantiknya.

Kulihat Reni melengos dengan kening berkerut.

“Ya nggak sebentar banget, Mbak. Pokoknya sampe kita semua puas deh!” kata Aldo.

Ia berjongkok di hadapan Reni. Diarahkannya kamera ke bagian bawah tubuh Reni, ia mengclose-up jari tengah Ben yang sedang mengobok-obok vagina istriku.

“Memek Mbak rapet sih. betah nih saya maenan ini seharian,” timpal Jaelani.

“Aaakhhh… binatang…lepaskaaann…nngghhhh!” Reni meronta-ronta dan menangis

Telunjuk Aldo ikut-ikutan menusuk ke dalam vaginanya. Kulihat Bob menghisap rokok Jie Sam Soe-nya dalam-dalam. Tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Reni yang telah terbuka

“Lepaskaaaan… jangaaann….setaan….mmmfff…..mmmmfffff….mmmpppfff… .” jeritan Reni langsung terbungkam begitu Bob melumat bibirnya dengan buas.

Mata Reni mendelik. Kulihat asap mengepul di antara kedua bibir yang berpagut itu. Al

mengclose-up ciuman dahsyat itu. Ketika Bob akhirnya melepaskan kuluman bibirnya, bibir Reni terbuka lebar. Asap tampak mengepul dari situ. Lalu Reni terbatuk-batuk.

“Ciuman yang hebat, Jeng Reni. Sekarang aku mau mencium memekmu,” kata Bob.

Reni masih terbatuk-batuk. Wajahnya yang putih mulus jadi tampak makin pucat. Bob berlutut di hadapan Reni. Jaelani dan Aldo membantunya membentangkan kedua kaki Reni lebih lebar.

“Wow, memek yang hebat,” kata Bob sambil mendekatkan ujung rokok yang menyala ke rambut kemaluan Reni yang tak berapa lebat.

Sekejap saja bau rambut terbakar menyebar di ruangan ini. Bob lalu menyelipkan bagian filter batang rokoknya ke dalam vagina Reni. Istriku masih terbatuk-batuk sehingga terlihat batang rokok itu kadang seperti tersedot ke dalam. Tanpa disuruh, Aldo meng-close-upnya dengan handycam. Bob lalu melepas rokok itu dari jepitan vagina Reni. Dihisapnya dalam-dalam. Lalu, dikuakkannya vagina Reni lebar-lebar. Mulutnya langsung merapat ke vagina Reni yang terbuka.

“Uhug…uhug…aaaakkhhh… aaaaakkhhh….aaaaakkkhhhh…” Reni menjerit-jerit histeris. Bob tentu sudah mengembuskan asap rokoknya ke dalam vagina istriku.

“Aaakhhhh… panaaassss….adududuhhhh….” Reni terus menjerit dan meronta-ronta. Kulihat Bob melepaskan mulutnya dari vagina istriku.

Sementara Aldo mengclose up asap yang mengepul dari vagina Reni. Reni semakin menangis ketakutan.

Bob bangkit dan menjilati sekujur wajahnya. Lalu dengan gerak tiba-tiba ia mengoyak bagian dada istriku. Reni memekik ketika Bob merenggut putus bra-nya yang telah tersingkap. Ia terus menangis saat Bob mulai menjilati dan mengulum putingnya. Kulihat Jaelani kini berdiri di belakang istriku. Penisnya yang besar itu telah mengacung dan siap beraksi. Ia menoleh ke arahku, seolah minta persetujuan. Aku mengacungkan ibu jari, tanda persetujuan. Tak sabar aku melihat istriku merintih-rintih dalam persetubuhan dengan lelaki lain. Kuberi kode kepada Aldo, si office boy, agar mendekat.

“Tolong tutup lagi matanya. Gua pengen ingin dia menelan sperma gua soalnya selama ini dia belum pernah” kataku

Al mengangguk dan segera melakukan perintahku. Setelah yakin Reni tak bisa melihatku, aku pun mendekat.

“Aaakkhhh….aaakkkhhh….. jangaaaannn….!” Reni menjerit lagi, kali ini lantaran penis Jaelani yang besar mulai menusuk vaginanya.

Kulihat baru masuk setengah saja, tapi vagina Reni tampak menggelembung seperti tak mampu menampung penis itu. Kulepaskan ikatan tangan Reni tapi kini kedua tangannya kuikat ke belakang tubuhnya. Penis si sopir masih menancap di vaginanya. Jaelani kini kuberi isyarat agar duduk di lantai. Berat tubuh Reni membuat penis Jaelani makin dalam menusuk vaginanya. Akibatnya Reni menjerit histeris lagi. Tampaknya kali ini ia betul-betul kesakitan. Aku sudah membuka celanaku. Penisku mengacung ke hadapan wajah istriku yang cantik ini. Reni bukannya tak pernah mengulum penisku. Tapi, selalu

saja ia menolak kalau kuminta spermaku tertumpah di dalam mulutnya.

“Jijik ah, Mas,” katanya berkilah.

Tetapi kini ia akan kupaksa menelan spermaku. Kutekan kepalanya ke bawah agar penis si sopir masuk lebih jauh lagi sehingga Reni makin histeris. Saat mulutnya terbuka lebar itulah kumasukkan penisku, jeritannya pun langsung terbungkam. Aku berharap Reni tak mengenali suaminya dari bau penisnya. Ughhhh… rasanya jauh lebih nikmat dibanding saat ia mengoral penisku dengan sukarela. Kupegangi bagian belakang kepalanya sambil kugerakkan maju mundur pinggulku. Sementara Jaelani juga sudah semakin ganas menyentak-nyentak penisnya pada vagina istriku. Reni mengerang-erang, dari sela kain penutup matanya kulihat air matanya mengalir deras. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kutahan kepalanya ketika akhirnya spermaku menyembur deras ke dalam rongga mulut istriku yang kucintai. Kutarik keluar penisku, tetapi langsung kucengkeram dagunya yang lancip. Di bawah, Bob dan Aldo menarik kedua puting istriku.

“Ayo, telan, banyak proteinnya nih Mbak, sehat loh” kata Bob.

Akhirnya memang spermaku tertelan, meski sebagian meleleh keluar di antara celah bibirnya. Nafas Reni terengah-engah di antara rintihan dan isak tangisnya. Ben masih pula menggerakkan pinggangnya naik turun.

Aku duduk bersila menyaksikan istriku tengah dikerjai tiga pria bertampang jelek. Penis Jaelani masih menancap di dalam vagina Reni. Kini Bob mendorong dada Reni hingga ia rebah di atas tubuh tegap sopir itu. Ia kini langsung mengangkangi wajah Reni. Ini dia yang sering kubayangkan. Wajah cantik Reni terjepit pangkal paha lelaki gendut itu. Kuambilalih handycam dari tangan Aldo, lalu kuclose up wajah Reni yang menderita. Reni menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjerit-jerit. Tetapi, jeritannya langsung terbungkam penis Bob. Kedua tangan kekar Jaelani menggenggam payudara Reni. Meremas-remasnya dengan kasar dan berkali-kali menjepit kedua putingnya. Dari depan kulihat, tiap kali puting Reni dijepit keras, vaginanya tampak berkerut seperti hendak menarik penis Ben makin jauh ke dalam. Aldo tak mau ketinggalan. Ia kini mencari klitoris Reni. Begitu ketemu, ditekannya dengan jarinya dengan gerakan memutar. Sesekali, bahkan dijepitnya dengan dua jari. Terdengar Reni mengerang-erang, tubuhnya mengejang seperti menahan sakit.

“Boleh aku gigit klitorisnya?” tanya Aldo padaku sambil berbisik.

“Boleh, asal jangan sampai luka,” sahutku sambil mengarahkan handycam ke vagina istriku.

Office boy pemalu ini betul-betul melakukannya. Mula-mula dijilatinya bagian sensitif itu. Lalu, kulihat klitoris istriku terjepit di antara gigi-gigi Aldo yang tidak rata. Ditariknya menjauh seperti hendak melepasnya. Kali ini terdengar jerit histeris Reni.

“Aaaaakkhhhh….saakkkkiiiittt…” rupanya Bob saat itu menarik lepas penisnya lantaran Jaelani ingin berganti posisi. Jaelani memang kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Reni pada kedua pahanya. Penisnya yang besar masih menancap di vagina istriku. Terus terang aku iri melihat penisnya yang besar itu. Reni terus menjerit-jerit dalam gendongan Jaelani yang ternyata membawanya ke atas meja. Diturunkannya Reni hingga kini posisinya tertelungkup di atas meja. Kedua kakinya menjuntai ke bawah dan kedua payudaranya tepat di tepi meja.

“Kita teruskan lagi, ya Mbak. Memek Mbak kering sekali, jadi lama selesainya,” kata si sopir

Ia menusukkan dua jari ke vagina Reni sehingga tubuh istriku itu menggeliat.

“Sudaaahh…. hentikaaan…kalian…bangsat!” teriaknya di sela isak tangisnya.

“Iya Mbak, maafkan kami yang jahat ini ya?” sahut Jaelani sambil kembali memperkosa istriku.

Suara Reni sampai serak ketika ia menjerit histeris lagi. Tapi tak lama, Bob sudah menyumpal mulutnya lagi dengan penisnya. Dalam posisi seperti itu, si sopir betul-betul mampu mengerahkan kekuatannya. Tubuh Reni sampai terguncang-guncang. Kedua payudaranya berayun ke muka tiap kali Ben mendorong penisnya masuk. Lalu, kedua gumpalan daging kenyal itu berayun balik membentur tepi meja. Payudara Reni yang putih mulus kini tampak memerah. Jaelani terlihat betul-betul kasar, mungkin Reni adalah wanita tercantik yang pernah disetubuhinya sehingga tak heran ia begitu bernafsu. Saat ia terlihat hampir sampai puncak, Bob berseru kepadanya,

“Buang ke mulutnya dulu. Nanti putaran kedua baru kita buang ke memeknya,” kata Bob.

Jaelani mengangguk lalu ia bergerak ke depan Reni. Vagina Reni tampak menganga lebar, tetapi sejenak saja kembali merapat. Bob dengan cepat menggantikan posisi Jaelani. Penisnya kini menyumpal mulut Reni. Ia menggeram keras sambil menahan kepala Reni.

“Ayo, telen spermaku ini… Uuughhhh….yah…. telaaannn…..” si sopir meracau.

Jaelani baru melepaskan penisnya setelah yakin Reni benar-benar menelan habis spermanya. Reni terbatuk-batuk, sopir itu mengusapkan penisnya yang berlumur spermanya sendiri ke hidung Reni yang mancung.

“Uuggghhh….nggghhhhhh…..” Reni merintih.

Tak menunggu lama, kini giliran Bob menyetubuhi Reni. Reni tampaknya tak kesakitan seperti saat diperkosa si sopir. Mungkin karena penis Bob lebih kecil.

“Aiaiaiaiiiii…. jangaaan…. aduhhhh…. sakiiit….” tiba-tiba Reni mendongak dan menjerit kesakitan.

“Anusmu masih perawan ya ? Nanti aku ambil ya ?” katanya.

Ternyata, sambil menancapkan penisnya ke vagina Reni, Bob menusukkan telunjuknya ke anus Reni.

Kudekati Bob seraya berkata,

“Jangan sekarang, pak Bob. Aku juga ingin merasakan menyodominya. Aku belum pernah memasukkan kontolku ke situ,” bisikku.

“Oke, setelah suaminya, siapapun boleh kan?” sahutnya juga dengan berbisik.

Aku mengangguk. Bob tak mau kalah dengan Jaelani. Ia juga menancapkan penisnya dengan kasar, cepat dan gerakannya tak beraturan. Bahkan, sesekali ia mengangkat sebelah kaki Reni dan memasukkan penisnya menyamping. Saat bersetubuh denganku, biasanya posisi menyamping itu bisa membuat Reni melolong-lolong dalam orgasme.

Tapi, kali ini yang terdengar adalah rintihan dan jerit kesakitan. Saat aku mulai merasa kasihan padanya, jeritan itu berhenti. Aldo kini membungkam mulutnya dengan penisnya. Peluh membasahi sekujur tubuh Reni. Bob sudah menumpahkan sperma ke dalam mulutnya. Tubuh Reni terkulai lemas karena kelelahan, keringat bercucuran di tubuhnya yang mulus. Tetapi, kulihat ia masih sadar. Aldo membopongnya ke kasur busa yang tergeletak di lantai. Reni diam saja ketika ikatan tangannya dilepas.

“Sebentar ya Mbak. Bajunya dilepas aja semua biar lebih enak ngentotnya” katanya sambil melucuti seluruh pakaian yang masih tersangkut di tubuh Reni. Reni kini berbaring terlentang di kasur busa tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Hanya arloji Fossil, kalung dan cincin kawin yang masih tersisa di tubuhnya. Ia tampak terisak-isak. Aldo kemudian mengikat kembali kedua tangan Reni menjadi satu ke kaki meja. Aku tertarik melihat Aldo yang sikapnya lembut dan agak malu-malu kepada Reni.

“Aduh kasihan, tetek Mbak sampai merah begini,” katanya sambil membelai-belai lembut kedua payudara istriku.

Dipilin-pilinnya juga kedua puting Reni dengan ujung jarinya. Reni menggeliat merasakan rangsangan menjalar ke seluruh tubuhya dari wilayah sensitif itu.

“Siapa yang menggigit ini tadi ?” tanya Aldo.

“Alaaaa, sudahlah, banyak cingcong amat kau ini…cepat masukkan kontol kau tuh ke memek cewek ini,” terdengar Bob berseru.

“Ah, jangan kasar begitu. Perempuan cantik gini harus diperlakukan lembut. Ya, Mbak Reni?” Al terus membelai-belai vagina Reni yang ditutupi bulu-bulu hitam lebat.

Kali ini ia menyentil-nyentil puting Reni dengan lidahnya, sesekali dikecupnya. Biasanya, Reni bakal terangsang hebat kalau kuperlakukan seperti itu dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh kelembutan Aldo setelah sebelumnya menerima perlakuan kasar.

“Unngghhh…. lepaskan saya, tolong. Jangan siksa saya seperti ini,” mohonnya.

Aldo tak berhenti, kini ia malah menjilati sekujur permukaan payudara istriku. Lidahnya juga terus bergerak ke ketiak Reni yang mulus tanpa rambut sehelaipun. Reni menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai mengganggunya. Aldo mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya. Aku sempat heran, katanya dia belum pernah menyentuh wanita, tapi kok mainnya sudah ahli begini, apakah kebanyakan nonton bokep? pikirku

“Jangan khawatir Mbak. Bersama saya, Mbak akan merasakan nikmat. Kalau Mbak sulit menikmatinya, bayangkan saja wajah suami Mbak,” kata Aldo sambil melanjutkan mengulum puting Reni. Kali ini dengan kuluman yang lebar hingga separuh payudara Reni terhisap masuk.

“MMmfff….. ouhhhhh….tidaaakk… saya tidak bisa… ” sahut Reni dengan isak tertahan. “Bisa, Mbak… Ini suami Mbak sedang mencumbu Mbak. Nikmati saja… ” Aldo terus

menyerang Reni secara psikologis.

Jilatannya sudah turun ke perut Reni yang rata. Dikorek-koreknya pusar Reni dengan lidahnya. Reni menggeliat dan mengerang lemah.

“Vaginamu indah sekali, istriku…” kata Aldo sambil mulai menjilati bibir vagina istriku. Reni mengerang lagi. Kali ini makin mirip dengan desahannya saat bercumbu denganku. Pinggulnya kulihat mulai bergerak-gerak, seperti menyambut sapuan lidah office boy itu pada vaginanya. Ia terlihat seperti kecewa ketika Aldo berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat pemuda itu dengan pandainya menjilat bagian dalam pahanya. Aku acungkan ibu jari pada Aldo, itu memang titik sensitifnya. Aldo menjilati bagian dalam kedua paha Reni, dari sekitar lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Reni merapatkan pahanya mengempit kepala si office boy dengan desahan yang menggairahkan.

“Iya Reni, nikmati cinta suamimu ini,”

Aldo terus meracau, direnggangkannya kembali kedua paha Reni. Kini lidahnya langsung menyerang ke pusat kenikmatan Reni. Dijilatinya celah vagina Reni dari bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitoris.

“Ooouhhhhhh…. aahhhh…. am…phuuunnn….” Reni merintih menahan nikmat. Apalagi, Aldo kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke dalam sejauh-jauhnya.

Reni makin tak karuan. Kepalanya menggeleng-geleng. Giginya menggigit bibirnya, tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi Aldo kemudian dengan intens menjilati klitorisnya.

“Ayo Mbak Reni, nikmati…. nikmati… jangan malu untuk orgasme…” kata Aldo, lalu tiba-tiba ia menghisap klitoris Reni. Akibatnya luar biasa. Tubuh Reni mengejang, dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuh istriku terguncang-guncang ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.

“Bagus Mbak, puaskan dirimu,” kata Al, kali ini sambil menusukkan dua jarinya ke dalam vagina istriku, keluar masuk dengan cepat.

“Aaakkhhhh….aaauuunnghhhhhh…” Reni melolong, lalu ia menangis merasa terhina karena menikmati perkosaan atas dirinya.

Aldo memperlihatkan dua jarinya yang basah oleh cairan dari vagina istriku. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istriku. Dijilatnya pipi istriku.

“Oke Mbak, kamu diperkosa kok bisa orgasme ya ? Nih, kamu harus merasakan cairan memekmu” katanya sambil memaksa Reni mengulum kedua jarinya.

Reni hanya bisa menangis. Ia tak bisa menolak kedua jari Aldo ke dalam mulutnya. Dua jarikupun masuk ke dalam vagina Reni dan memang betul-betul basah. Kucubit klitorisnya dengan gemas.

“Nah, sekarang aku mau bikin kamu menderita lagi,” kata Aldo yang lalu menempatkan dirinya di hadapan pangkal paha Reni.

Penisnya langsung menusuk jauh. Reni menjerit kesakitan. Apalagi Aldo memperkosanya kali ini dengan brutal. Sambil menyetubuhinya, Aldo tak henti mencengkeram kedua payudara Reni. Kadang ditariknya kedua putting Reni hingga istriku menjerit-jerit minta ampun. Seperti yang lain, Aldo juga membuang spermanya ke dalam mulut istriku. Kali ini, Reni pingsan saat baru sebagian sperma office boy itu ditelannya. Aldo dengan gemas melepas penutup mata Reni, lalu disemburkannya sisa spermanya ke wajah cantik istriku.

*******************************

Satu jam kemudian

Reni sudah satu jam pingsan, aku menghampiri tubuhnya yang terkulai lemas dan sudah berlumuran keringat dan sperma itu.

“Biar dia istirahat dulu. Nanti suruh dia mandi. Kasih makan. Terus lanjutkan lagi kalau kalian masih mau,” kataku sambil menghisap sebatang rokok.

“Ya masih dong, bos. Baru juga sekali,” sahut Jaelani sambil tangannya meremas-remas payudara Reni.

“Iya, gua kan belum nyoba bo’olnya” timpal Bob sambil jarinya menyentuh anus Reni. “Oke, terserah kalian. Tapi jam dua siang dia harus segera dipulangkan,” kataku.

Tiba-tiba Reni menggeliat. Cepat aku pindah ke tempat tersembunyi. Apa jadinya kalau dia melihat suaminya berada di antara para pemerkosanya? Kulihat Reni beringsut menjauh dari tiga temanku yang hanya memandanginya. Rambut panjangnya yang indah sudah agak berantakan, ia menyilangkan tangan menutupi tubuh telanjangnya. Tentu itu tak cukup untuk menutupinya malah membuat ketiga pria itu semakin bergairah padanya. Jaelani berdiri mendekatinya, lalu mencengkeram lengannya dan menariknya berdiri.

“Jangan… saya nggak sanggup lagi. Apa kalian belum puas?!” Reni memaki-maki.

“Belum ! Tapi sekarang Mbak harus mandi dulu supaya memeknya ini bersih!” bentak sopir itu sambil tangan satunya mencengkeram vagina Reni.

Reni menjerit-jerit waktu pria itu menyeretnya ke halaman belakang. Ternyata mereka akan memandikannya di ruang terbuka. Kulihat Jaelani menarik selang panjang dan langsung menyemprotkannya ke tubuh telanjang Reni. Reni menjerit-jerit, berusaha menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. Bob lalu mendekat, menyerahkan sepotong sabun kepada Reni.

“Kamu sabunan sendiri apa aku yang nyabunin?” tanyanya.

Reni tampak ragu.

“Cepat, sabunan Mbak, kan dingin” seru Aldo.

Semprotan air deras diarahkannya tepat mengenai pangkal paha Reni. Reni perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terpaksa menuruti perintah mereka untuk juga menyabuni payudara dan vaginanya.

Tak tahan hanya menonton saja, Bob akhirnya mendekati istriku.

“Begini caranya nyabunin memek!” katanya sambil dengan kasar menggosok-gosok

vagina Reni.

Reni menjerit kecil ketika Bob mendekap tubuhnya dan tangannya mulai menggerayangi tubuhnya yang licin oleh sabun. Mulut pria gemuk itu juga menciumi pundak dan leher istriku. Tak lama kemudian, acara mandi akhirnya selesai. Mereka menyerahkan sehelai handuk kepada Reni. Reni segera menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.

“Hey, itu bukan untuk nutupin badanmu. Itu untuk mengeringkan badan,” bentak Jaelani.

“Kalau sudah bersih, kita terusin lagi ya Mbak, enak sih!” kata Aldo

“Aiiihhh…” Reni memekik karena Aldo sempat-sempatnya mencomot putingnya.

“Kalau sudah handukan, susul kami ke meja makan. Kamu harus makan biar kuat,” lanjut Bob sambil meremas bokong Reni yang bundar!

Kulihat Reni telah selesai mengeringkan tubuhnya. Ia mematuhi perintah mereka, tanpa mengenakan apapun ia melangkahkan kakinya ke ruang makan. Betul-betul menegangkan melihat istriku berjalan di halaman terbuka dengan tanpa mengenakan apapun. Sensasinya makin luar biasa karena dalam keadaan seperti itu ia kini berjalan ke arah tiga lelaki yang tengah duduk mengitari meja makan. Mereka betul-betul sudah menguasai istriku. Kulihat Reni menurut saja ketika diminta duduk di atas meja dan kakinya mengangkang di hadapan mereka. Posisiku di belakang teman-temanku, jadi akupun dapat melihat vagina dan payudara Reni yang terbuka bebas. Bob mendekatkan wajahnya ke pangkal paha Reni. Kulihat ia menciumnya.

“Nah, sekarang memekmu sudah wangi lagi,” katanya.

Reni menggigit bibirnya dan memejamkan mata.

“Teteknya juga wangi,” kata Aldo yang menggenggam sebelah payudara Reni dan mengulum putingnya.

“Ngghhh… kenapa kalian lakukan ini pada saya,” rintih Reni.

“Mau tahu kenapa ?” tanya Bob, jarinya terus saja bergerak sepanjang alur vagina Reni.

Aku tegang. Jangan-jangan mereka akan membongkar rahasiaku.

“Sebetulnya, yang punya ide semua ini adalah Mr X,” kata Bob.

Aku lega mendengarnya.

“Siapa itu Mr X ?” tanya Reni.

“Kamu kenal dia. Dia pernah disakiti suamimu. Jadi, dia membalasnya pada istrinya,” jelas Bob.

“Tapi Mr X tak mau kamu mengetahui siapa dia. Itu sebabnya tiap dia muncul, matamu ditutup.” lanjut Bob.

“Sudah, Bos, biar Mbak Reni makan dulu. Dia pasti lapar habis kerja keras,” sela Ben.

“Maaf ya Mbak Reni. Kami nggak punya nasi. Yang ada cuma ini,” kata Ben sambil menyodorkan piring berisi beberapa potong sosis dan pisang ambon. Ben lalu mengambilkan sepotong sosis.

“Makan Mbak, dijilat dan dikulum dulu, seperti tadi Mbak mengulum kontol saya,” katanya.

Tangan Reni terlihat gemetar ketika menerima sepotong sosis itu. Dengan ragu-ragu ia menjilatinya, mengulumnya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong. Habis sepotong, Aldo mengupaskan pisang Ambon lalu didekatkannya dengan penisnya yang mengacung.

“Pilih pisang yang mana, Mbak ?” goda Aldo, “ayo ambil,” lanjutnya.

Reni menggerakan tangannya hendak mengambil pisang namun Aldo menangkap pergelangannya dan memaksa Reni menggenggam penisnya.

“Biar saya suap, Mbak pegang pisang saya saja,” katanya.

“Tangannya lembut banget nih” kata Aldo.

Jaelani tak mau kalah, ia menarik sebelah tangan Reni dan memaksanya menggenggam penisnya yang besar. Sementara Reni menghabiskan sedikit demi sedikit pisang yang disuapkan Aldo. Sepotong pisang itu akhirnya habis juga. Bibir Reni tampak belepotan. Bob yang sedang merokok kemudian mencium bibir Reni dengan bernafsu. Reni mengerang-erang dan akhirnya terbatuk-batuk saat Bob melepaskan ciumannya.

“Sudah…uhukkk… sudah cukup,” kata Reni dengan nafas terengah-engah.

“Eee ini masih banyak. Sekarang kita haus nih, Mbak harus temenin kita minum,” kata Bob.

“Tapi gelasnya kurang ya?” sahut Jaelani sambil merenggangkan paha Reni.

Reni meronta-ronta tetapi Aldo dan Bob memeganginya. Jaelani membuka sebotol bir lalu menumpahkan seluruh isinya ke tubuh telanjang Reni hingga basah.

“Hmmm…ini baru maknyus namanya!” kata Bob sambil mendorong tubuh Reni hingga terbaring telentang di meja.

Reni terisak-isak, ia merasakan dinginnya bir itu di sekujur tubuhnya, juga jilatan-jilatan lidah dan tangan-tangan para pria itu yang merangsang setiap titik di tubuhnya. Bob menyeruput bir yang tertumpah di vagina gadis itu hingga terdengar bunyi sruput yang rakus.

“Cara baru minum bir, suegerr!!!” sahut Jaelani yang asyik menyeruput bir pada payudara istriku.

Adegan selanjutnya tak urung membuatku kasihan pada Reni. Mereka membawanya ke halaman belakang dan memperkosanya di atas rumput secara beramai-ramai. Sperma mereka bercipratan bukan saja di dalam vagina Reni, tapi juga di tubuhnya. Begitu usai, mereka membaringkan Reni yang sudah tak sadarkan diri di atas sofa. Kulihat kondisi Reni sudah betul-betul berantakan, bekas-bekas cupangan terlihat di kulitnya yang putih terutama di payudara, leher dan pundaknya, sperma berceceran di hampir seluruh tubuhnya mulai dari vagina hingga wajahnya, rambut panjangnya pun tidak luput dari cipratan cairan kental itu. Kami mengangkut tubuh telanjang Reni ke kamar mandi dan membersihkannya dengan shower lalu memakaikan kembali pakaiannya. Reni masih belum sadar akibat perkosaan brutal tadi. Kami menaikkannya ke mobil dan kembali ke ibukota. Sampai di Jakarta, Reni mulai bangun, terdengar suara melenguh dari mulutnya. Matanya masih dalam keadaan tertutup karena aku tidak ingin dia melihatku. Bob mengancamnya agar tidak menceritakan kejadian hari ini pada siapapun kalau tidak ingin rekaman perkosaan tadi bocor dan mempermalukan dirinya dan keluarganya. Reni hanya bisa mengangguk dengan terisak-isak. Kami menurunkannya di depan rumah lalu aku segera tancap gas menjauhi rumahku.

**************************

Jam sembilan malam

Aku tiba di rumah dan setelah memarkirkan mobil di garasi aku masuk ke rumah dan memanggil nama istriku, berpura-pura seolah tidak terjadi apapun.

“Ren…Renn!!” aku mengeraskan suaraku karena tidak ada yang keluar ataupun membalas sahutanku

“Renn…lu dimana!” panggilku lagi

‘Cklik!” tiba-tiba kamar mandi lantai satu di sebelahku membuka, Reni keluar dari sana.

“Iya Mas, sori saya sakit perut” katanya, “O ya mas, hari ini gak sempat masak, tadi di jalan pulang macet banget, jadi beli makanan di luar, saya panasin sekarang ya Mas”

Kulihat matanya sembab, tapi ia berusaha tersenyum di depanku. Ketika makan malam ia lebih diam dari biasanya namun berusaha menanggapi obrolanku. Kupeluk pinggangnya yang ramping ketika ia sedang mencuci piring sehabis makan dan kubisikkan kata-kata mesra di telinganya. Biasanya aksi ini berlanjut hingga ke hubungan intim baik kilat maupun long time. Namun kali ini ia menepisnya.

“Jangan Mas, jangan hari ini, saya cape, tolong ya…please!” katanya dengan tatapan memohon.

Akupun mengerti karena tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kupeluk dia dengan mesra dan kucium keningnya

“I love you honey!” ucapku dekat telinganya

“Sori banget Ren, lu emang istri yang baik, ga mau orang lain ikut cemas dan susah, gua janji ini ga akan terjadi lagi” kataku dalam hati sambil mempererat pelukanku.

Binalnya Istriku

Nana

Nana

Akhirnya kuselesaikan juga tugas dinasku selama empat bulan penuh di Australia. Aku pulang mem-bawa setumpuk laporan hasil kerja yang nantinya kuserahkan pada boss. Beruntung tadi malam aku masih sempat jalan jalan di pusat kota Perth dan tak lupa mengunjungi sex shop terbesar disana seperti yang dipromosikan teman teman. Kubeli beberapa sextoys dan puluhan dvd bokep sebagai cenderamata buat istri tercinta dan beberapa kolega. Harganya relative lebih murah dibanding beli di dalam negeri. Pukul enam pagi waktu setempat aku terbang kembali ke negeri tercinta. Setelah transit di beberapa bandara akhirnya jam empat sore aku mendarat dibandara A Yani. Setelah kudapatkan semua barang bawaanku, aku selekasnya beranjak keluar. Kulihat istriku berdiri di ujung koridor. Mengenakan kaus ketat tanpa lengan yang dipadu blouse mini setengah paha membuat ia terlihat sangat cantik dan meng gairahkan. Ada sebatang rokok tergamit di jarinya. Kami berpelukan sejenak melepas setumpuk kerinduan. Lalu kukecup bibirnya. Setelah itu aku bermaksud mengajaknya pulang.
“ Kenalin dulu, Ko! ini Edo….” Ujar istriku menunjuk pada seorang pria muda yang berdiri tepat disisinya, sembari menghisap dalam dalam rokok A mild mentholnya.
“ Jay…” kataku sambil mengulurkan tangan.
“ Edo” balasnya.
“ Jemput siapa nih, Do?”
“ Justru gue lagi nunggu jemputan, Bro…. Sejak tadi gue kontak kantor cabang tapi engga nyambung terus. Linenya lagi rusak kali “
“ Dimana sih tujuan elu?”
Dia menyebut sebuah kantor di jalan Gajah Mada.
“ Kebetulan itu searah dengan kami…. Mau ikut?” aku menawarkan diri.

Edo setuju lalu kami berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan selama yang memakan waktu kurang lebih duapuluhan menit kami saling ngobrol saling mengakrabkan diri. Ia ternyata dari Indonesia Timur. Seorang manager pada sebuah perusahaan pembiayaan yang berpusat dikotaku ini. Meski warna kulitnya hitam keling namun terlihat wajahnya sangat ramah dan bersahabat. Ia tidak ganteng tapi cukup menarik. Edo bilang kalau dua tiga tahun sekali ia harus terbang kekantor pusat untuk memberi laporan hasil pekerjaannya dikantor cabang di NTT sana. Kuturunkan dirinya tepat di depan gedung yang ditujunya. Dan sebelum berpisah kami sempat bertukar nomor hape. Kemudian aku meneruskan perjalanan kerumah.
“Kayaknya sekarang kamu banyak berubah deh Say….” Ujarku.
“Maksud Koko?” tanyanya sembari mengerinyitkan dahi.
Lalu aku sampaikan padanya kalau dulunya istriku tidak suka mengenakan pakaian yang sexy ditempat umum kecuali di acara pesta. Dulu ia juga bukan pecandu rokok. Dan dulu ia kurang welcome dengan orang asing tapi tadi kayaknya ia begitu cepat akrab dengan Edo seperti sudah kenal bertahun tahun saja.
“ahh…Koko terlalu sensi saja…. Tapi bolehkan kalau aku sedikit merubah gaya?” tanyanya sembari menghembuskan asap rokoknya yang segera terhisap keluar lewat celah jendela mobil yang sedikit dibuka.
“Iya engga apa apa toh, Say! Aku malah tambah suka koq! Kamu jadi terlihat semakin sexy dan menggemaskan aja sekarang! Oh ya…. Ayo cerita dong petualanganmu selama kutinggal!”
Kemudian dengan polos Nana menceritakan semuanya. Bagaimana ia dikerjai disebuah ruang karaoke, lalu pengalaman bercinta dengan Mark, lalu pengalaman berthreesome bersama Mark dan istrinya. Dan beberapa petualangan lain. Saat menyimak pengalaman istriku bukannya aku menjadi jealous malahan aku menjadi begitu horny. Sudah tidak waraskah diriku???.
Begitu sampai di rumah, aku selekasnya menarik masuk Nana kedalam kamar. Saat itu aku benar benar sedang kasmaran. Kudekap dirinya. Menciumi bibirnya lehernya dan sepanjang lekuk tubuhnya. Satu persatu kupereteli pembalut ditubunya hingga ia telanjang bulat. Kubalikkan tubuhnya. Kulingkarkan tangan pada pinggangnya lalu kuciumi punggungnya. Ia meraih tanganku untuk mengajakku berbaring diranjang. Kuusap usap pipinya , dagunya lalu kuraba lekuk payudaranya yang sangat montok dan kencang. Nana meraih bajuku kemudian melepasinya. Ia mulai menciumi dadaku yang sedikit ditumbuhi bulu. Kami bergulingan di atas ranjang….. saling menyentuh, menjilati, dan menghisap. Aku berguling diatas tubuhnya lalu menyurukkan muka tepat di selangkangannya. Kuamati vaginanya telah basah memerah dan menganga lebar penuh hasrat birahi. Kujulurkan lidah kedalam, menggerakannya berkeliling, dan menggetarkan dinding dinding vaginanya. Saat kugelitikkan lidahku Nana melengkungkan punggung penuh rasa nikmat dan kulakukan terus menerus sampai lendir birahinya membanjir keluar. Kutindih tubuhnya sambil melesakkan batang kemaluan yang sudah sangat tegang itu kedalam liang syurgawinya. Kugerakkan pinggul naik turun dengan sangat cepat seperti sedang kesetanan saking ka ngennya diriku padanya. Aku terus memompa seperti gerakan sebuah piston main lama makin cepat. Nana mencapai puncaknya sambil mengangkat pinggulnya keatas. Ia dekap erat erat diriku seolah olah sangat takut kehilangan. Selanjutnya ia dekatkan mulutnya ke batang kemaluanku. Ia keluar masukkan dengan sangat gemas. Ia juga menghisapinya dengan rakus. Sebelum aku mencapai klimaks, kutarik tubuhnya dan menempat kannya diatasku. Ia mengggoyangkan pantatnya maju mundur seperti sedang menggilas pakaian. Saat itu ia tanpa sadar merendahkan tubuhnya kedepan sehingga aku dapat membenamkan mukaku kedalam belahan payudaranya dan dengan bebas dapat menghisap putingnya.

Istriku terus bergerak. Aku juga mengehentak hentakkan pinggul dari bawah. Sangat liarrrrr….. sampai tubuh kami bergetar dan bersama sama memancarkan cairan orgasme.
Kami beristirahat sebentar saling ngobrol sambil merokok. Kuminta istriku bercerita lagi tentang petua langan asmaranya dengan pria pria lain. Ada setidaknya enam orang lelaki yang pernah berkencan dengannya. Wuih! Ternyata istriku menjadi pecandu seks juga sekarang. Hanya dalam waktu empat bulan saja. Dan kembali aku menjadi sangat terangsang saat mendengarkannya. Penisku yang semula loyo berangsur mulai menengang dan mengeras. Kami saling merapatkan bibir, berpagutan, saling meraba dengan tingkat perangsangan lembut. Kugelitik payudaranya dan menghisapi putingnya. Aku terus meremas dan merangsang buahdadanya sampai putingnya berdiri mengeras. Lalu beralih pada selakngannya. Kulumat dan kucumbu bagian tubuhnya yang sangat kurindukan siang malam selama empat bulan. Bulu bulu kemaluannya yang tumbuh lebat masih terawat dengan baik. Aroma khas vaginanya juga masih menjadi bau yang menya lakan nafsu birahiku. Liangnya sudah merekah bagai kelopak bunga tampak becek dan sangat licin karena lendir cintanya yang deras mengalir keluar. Kukitari bibir liang itu beberapa saat sebelum ku gelitiki klitorisnya dengan ujung lidah.
“ Ooooh! Ayolah, Koooo! “ ujarnya penuh tuntutan.
Kutarik tubuhnya membuatnya merangkak membelakangiku. Kubenamkan penisku dari belakang. Zakarku menepuk nepuk pantatnya setiap kali aku memompa vaginanya. Kunikmati denyutan denyut an dinding vaginanya yang membuat tusukanku bertambah nikmat ribuan kali. Nana terus mendesah. Setiap kali ia mendesah lebih keras aku mendorong penisku lebih dalam. Aku mengakhiri perjalanan birahinya dengan sebuah desakan kuat dan sedalam dalamnya.

“ Aaaaaagggggggccc…!” Nana memekik penuh kepuasan.
Kutarik tubuhnya ketepi ranjang. Menelentangkan disana. Lalu kunaikkan kakinya keatas bahuku. Dalam posisi berdiri kumauki vaginanya kembali. Nana menggoyangkan pinggulnya secara mendatar setiap kali aku mendorong batang kemaluanku. Semakin lama goyangannya semakin menghentak hen-tak. Liang senggamanya memang luarbiasa nikmatnya sehingga aku ingin menikmatinya semalaman. Namun karena sudah sangat terangsang akhirnya kami sama sama menjerit penuh ketegangan disertai memancarnya lendir orgasme kami dalam waktu yang hampir bersamaan.

****************************

Dua hari kemudian…..

Edo

Edo

Siang itu Nana menelpon saat aku sedang menyelesaikan laporan di kantor. Tidak seperti biasanya. Pasti ada hal yang special pikirku. Ternyata memang benar adanya.
“ Ko….. tadi Edo kontak ke hapeku. Ia bilang kalau pesawatnya dicancel sampai besok sore… Dia juga bilang lagi kesulitan mencari hotel untuk sekedar transit……… Kalau…………”
“ kita suruh ia nginap dirumah aja bagaimana, itu khan maksud elu?” potongku.
“ Iya…ya Ko….… kasihan khan kalau ia bener bener ga dapat hotel?” jawab istriku yang tiba tiba menjadi sangat perhatian.
“ Kasihan dia apa kasihan kamu, Na? Apa kamu pingin nyoba pisang hitam panjang nih?”
“ Engga…engga! Masa Koko berpikir begitu sih?……Gimana Ko, boleh engga Edo kita suruh nginap dirumah?” kata istriku terus membujuk.
Akhirnya aku menyerah juga.
“ Ya bolehlah kalau kamu emang menyukainya”
“ Kamu memang suami yang luarbiasa Kooo……! Trim’s ya….. I love you! Cup! Cup!Cup!”
Lalu telephone diputus. Saat itu jam satu lewat duapuluh menitan. Akupun sibuk meneruskan pekerja anku. Sekitar jam empat mendadak aku pingin nelpon ponsel istriku sekedar menyapanya. Tapi sedang tidak diaktifkan. Kucoba beberapa kali namun tetap tidak bisa. Lalu kucoba menghubungi kantornya . Kebetulan aku sudah mengenal operator yang bertugas saat itu.

“ Hallo Shanti! Nana ada?”
“ Engga tuh Mas Jay. Hari ini doi cuman dating lalu berpamitan mau jenguk famili yang sakit”
Hah? Family sakit? Apa pula ini??? Aneh…….!
“ apa engga jalan bareng toh Masss?” Tanya Shanti sedikit ragu.
“ Engga sih Shan… gue lagi sibuk dikantor…..okey gitu dulu, Shan……….. thank’s yaaaa”
Lalu kuputuskan kontak.
Sialan! Bener bener istriku jadi binal! Pasti ia telah bersama Edo seharian ini. Atau mungkin sejak kemarin.
“ Dasarrrr wanita gatel!” Omelku dalam hati.
Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat aku terangsnag sendiri sehingga kucoba mempercepat pekerjaanku yang masih setumpuk. Namun baru jam setengah tujuh malam aku bisa merampung kannya.. Secepat kilat kupacu mobilku menuju rumah. Dibenakku hanya ada keiginan untuk melaku-kan three some dengan istriku dan Edo Hari sudah mulai gelap saat aku sampai. Teras rumahku sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang dinyalakan. Nana keluar menyambutku. Ia menyapaku dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum kutarik masuk tubuhnya. Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang dihiasi renda renda dibagian dadanya. Putingsusunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah kutebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh didahinya seba-gaimana seseorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.
“ Habis kerjaaa keras nih!” sindirku.
“ AH! Koko bisa aja” sahutnya dengan pipi yang tersipu.
“ Edo dimana, Na?”
“ Kayaknya lagi mandi….”

Kutarik tangannya menuju sofa yang ada di ruangan tengah. Mengajaknya berciuman sebentar sebelum kulanjutkan bertanya,

“lelaki itu hebat, Na?”.
Ia tidak menjawab hanya membeliakkan mata kearahku.
“Berapa kali kamu dapat klimaks? Enam delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya.
Kembali kulumat bibirnya dan mulai menggerayangi bagian dadanya. Nana menolak dengan halus karena ia ingin aku mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Aku setuju. Selesai mandi aku keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja. Edo dan istriku sudah ada dimeja makan menungguku. Kemudian kami bersantap malam sambil berbincang bincang mengenai banyak topic. Setlah selesai Nana memunguti piring piring kotor untuk dibawanya kedapur sementara aku dan Edo melangkah ke ruang tengah. Aku duduk di sofa panjang sedang ia duduk disofa single diseberangku.
“ Bagaimana istriku, Do?” tanyaku dengan nada sengaja kupelankan agar tidak terdengar oleh Nana yang masih sibuk mencuci piring.
“ Luar biasa, Jay! Elu bener bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia…. “
“ Berapa kali kalian melakukannya?”
“ Mungkin lima atau enam kali aku engga ingat… soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat kenyal dan pulennnn…. Belum lagi servicenya yang benar benar luarbiasaaa…. Aku jadi ketagihan berat padanya!”

“ Sialan kalian! Lagi ngomongin gue yaaa!” omel Nana yang mendadak telah berdiri di sisiku. Ia lalu kutarik duduk di sebelahku.
“ Edo bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna dirimu, Say….” Ujarku.
“ Biasa lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan mauttt”
“ Bukan gitu Na…. tapi emang kamu istri yang sangat sempurna…..” lanjutku seraya menempel kan bibir kebibirnya.
Istriku kembali menolakku dengan halus karena ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton dvd porno yang kubeli di Perth tempo hari. Aku kembali setuju. Dan dengan santai kami nikmati adegan adegan penggugah nafsu itu bertiga. Belum sampai selesai film yang kami tonton ketika kulihat Nana mulai tidak tenang duduknya. Berkali kali ia geser geser dan ubah ubah posisi kakinya sepertinya ada sesuatu yang aneh dipangkal pahanya. Kuciumi lehernya sambil merabakan tangan pada tonjolan buahdadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istriku tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasanku. Putingnya menjadi semakin mengeras dan semakin menyembul. Dengan sangat gampang kutarik lepas tali pengi-kat kimononya kemudian menyibakkan ujung ujungnya kekanan kekiri. Kutatap dengan penuh kekaguman kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum kujilat jilat serta kuhisapi. Ketika kuselipkan tangan pada pangkal pahanya kutemukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.

“Uuuhhhhfsss……….” Desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.
Nana meraih kepalaku lalu mengiringnya kearah selakangannya. Akupun menurut. Sembari bergerak kuciumi setiap bagian tubuhnya yang kulewati. Perutnya. Pusarnya. Bulu bulu kemaluannya yang lebat. Dan bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Kutelusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian kujulurkan lidah menggelitik kelentitnya yang telah sangat menonjol.
Istriku menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap aku melakukannya.
Edo bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekar itu terlihat sudah sangat tegang. Mendongak minta jatah. Ia mengajak istriku berciuman. Tanganya mulai meremas remas buahdada istriku sementara tangan istriku telah menggeng gam batang kemaluannya.
Kujulurkan lidah dan kubenamkan berulangkali pada liang yang tanpa ujung itu. Kutusuk tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Nana menjadi semakin keras terdengar. Edo bangkit menyodorkan kemaluannya ke mulut Nana. Batang sepanjang duapuluhan centi itu disam- but istriku dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istriku mulai mengulumnya. Kusibakkan kimono mandiku dan memelorotkan celana dalamku. Kugenggam dan kuurur urut otot sepanjang limabelas centi yang meyembul diantara pahaku sambil menyaksikan istriku sedang melu-mat penis hitam Edo yang panjang itu penuh nafsu. Aku menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istriku. Kuangkat kedua kakinya kemudian kudorong batang kemaluanku kedepan mem-benamkannya dengan penuh perasaan kedalam liang syahwatnya.Sambil menikmati setiap gesekan lem but dengan dinding dinding dalam vaginanya.

Inci demi inci. Sekonyong konyong aku disergap berjuta juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penisku lalu menjalar ke batangnya lalu menyebar keseluruh bagian tubuhku. Selanjutnya kucoba mengeksplorasi kenik-matan yang lebih besar dengan tak henti hentinya menggali….. menggali….. dan menggali liang itu lebih dalam lagi. Sementara itu istriku masih asyik mengulum black banana yang ada dalam genggam- an tangannya. Nana terus menerus mengerang nikmat saat tubuhnya bergoyang maju mundur diombang ambingkan gelombang birahi yang kuciptakan. Kemudian ia mengejang. Seluruh otot ditubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjangggg pada saat badai orgasme tiba tiba meledak dan menyambar dirinya!. Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang ke-maluanku yang masih terbenam di sana. Kami berganti posisi. Aku duduk disofa sedangkan Nana menyurukkan mukanya keselakanganku, ia menghisapi dengan lahap batang kemaluanku yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Edo giliran yang menyetubuhi istriku dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan masuk keluar dengan sangat cepat. Terdengar suara “plok!plok! plok!” setiap kali zakar Edo menepuk nepuk pantat istriku.
“ Oooghttt….oooghffff….” desah istriku tanpa melepaskan batang kemaluanku dari mulutnya. Dan setiap kali istriku mendesah lebih keras Edo melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi.

Edo tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik diri lalu menelentangkan tubuh is-triku diatas sofa. Ia buka kedua kaki istriku lalu menaikkannya keatas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menu-ju ke puncak tertinggi. Istriku tampak begitu menikmati setiap hujaman kemaluan Edo. Ia menyambut dengan goyangan pinggulnya yang menghentak hentak. Denyutan nikmat yang diciptakan Nana mem-buat Edo tambah bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor kuda balap. Terdengar napas keduanya terengah engah saling mengerang dan melenguh penuh nikmat. Beberapa menit kemudian istriku kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat erat tubuh Edo. Sementara itu Edo masih memompa dengan sangat cepat berusaha secepatnya mencapai klimaks. Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Edo mencabut penisnya kemudian menghampiri wajah istriku. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan kebibir Nana. Setelah mereda, istriku kembali menjilati ujung kemaluan Edo sampai bersih. Aku sejak tadi hanya bisa berdiri menyaksikan pergulatan keduanya sambil mengurut urut batang kema luanku sendiri. Melihat celah vagina Nana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya mem buat aku sangat terangsang dan ingin memasukinya.

Selanjutnya ku tancapkan dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa sedikit longgar namun tetap saja mampu memberi rasa nikmat yang luar biasa. Kulumat liang itu dengan sangat bergairah. Nana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya bertambah nikmat ribuan kali. Aku semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang kulakukan rupanya menyebabkan menyalanya kem bali gairah istriku. Sehingga kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling mengge sek dan meraba. Sekian menit kemudian kupercepat gerakan pinggulku saat terasa desakan sangat kuat diujung penisku. Istriku memekik dengan keras ketika ia lebih dahulu sampai di puncak. Nyaris berbarengan kurasakan ujung penisku bergetar hebat. Sehingga kucoba menekan pinggul lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluanku menggelepar gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah yang sangat banyak diantara himpitan liang vagina Nana. Saking banyaknya hingga meluber kelu ar dan meleleh diatas sofa.
Setelah membersihkan diri, kami melanjutkan permainan didalam kamar. Secara bergantian aku dan Edo menggarap vagina Nana. Malam itu belasan kali istriku mencapai klimaks disertai jeritan panjang penuh kepuasan.

Berawal dari Servis AC

Aku tinggal di satu rumah besar yang dijadikan kantor, karyawannya lumayan banyak, selain staf admin, ada juga petugas luar, sopir dan satpam. Karena rumahnya besar makan ruangannya cukup banyak sehingga lega sekali kantornya. Tugasku adalah membersihkan kantor sebelum jam kerja serta merapikan kantor setelah karyawan pulang, menyiapkan minuman, membelikan makan siang dan aku juga dipasrahi beberapa pekerjaan admin ringan termasuk merawat ac yang jumlahnya cukup banyak. Setiap ruang ada ac nya, malah di ruang yang besar dipasangi 2 ac sehingga hawanya cukup sejuk. Yang setiap hari ada di kantor adalah staf admin, petugas luar ya tugasnya keliling ke customer, menagih dan mengirimkan surat/dokumen penting. Sopir hanya melayani ownernya, sedang satpam sebenarnya kerja dirumah owner, sehingga sore pulang ke rumah owner. Jadi praktis malem aku sendiri, baiknya di kantor ada tv besar dan juga dvd player. Kadang staf admin meminjami aku beberapa film baru, gak tau mereka dapetnya dari mana, masih di bioskop dah ada dvdnya, sehingga gak usah keluar duit nonton di bioskop. Satu hari ada seorang bapak-bapak mampir ke kantor, dia penghuni kompleks itu juga, cuma di daerah yang baru dibuka sehingga letaknya di bagian belakang komplex, lumayan jauh si kalau harus jalan kaki. Dia nawarin untuk merawat ac kantor, kebetulan harganya lebih murah dari harga servis ac yang biasanya dipake. Bos setuju, ya udah trial dulu, free of charge. Pada hari yang disepakati, si bapak dan beberapa teknisinya datang untuk servis ac. Kerjanya cekatan sekali, cepat dan tidak meninggalkan kotoran apapun di ubin rumah. Bos puas, apalagi aku karena biasanya kalo servis ac aku harus mengepel lantai sekitar ac yang di servis, sehingga karena ac nya banyak, ya praktis seluruh lantai harus dipel ulang. Aku senang sekali ketika bos setuju untuk menggunakan jasa si bapak itu. Si bapak pun senang karena trialnya berbuntut order secara berkala untuk servis ac di rumah. Dia terima kasih terus sama aku.



Setelah kerjaan servis ac yang kedua (yang pertama yang trial dan free itu) si bapak ngajakin aku makan sebagai ucapan terima kasih. Kebetulan saat itu Jumat sore, dimana esoknya kantor tutup, jadi aku bebaslah. Si bapak minta aku manggil mas (nama gak perlu disebut kan). Aku diajaknya makan di restoran Sunda di mal yang ada dekat kompleks kami. Dia memujiku terus,

“Nes, kamu tu cantik, sexy, kok kerjanya cuma penunggu rumah sih”.

“Halus dong Ines mas”.

“Kok halus?”, tanyanya gak ngerti.

“Iya penunggu rumah kan mahluk halus mas”.

“Wah kalo yang halus sesexy kamu, mau deh rumahku ditungguin juga”.

“Mangnya rumah mas gak ada yang nunggu, keluarganya?”

“aku gak punya keluarga Nes, dah pisah ma istri, anak belon punya”,

“Jadi tinggal sendiri?”.

“Iya, makanya aku buka servis ac biar rumah gak sepi”.

“Kantornya dirumah mas yang di belakang itu ya”.

“Iya”.

“Rumah di belakang besar-besar ya mas”.

“Gak sebesar rumah kantormu itu”.

“Tapi ukurannya lebih besar kan dari rumah standard yang di depan”.

“Iya, kok rumah kantormu tu bisa besar banget”.
“Terang aja besar, itu kan 2 rumah disatuin”.

“Pantes”.

“Ya gak apalah, jadikan acnya banyak, jadi aku dapet ordernya lah”.

“Kok mas tau sih di tempat Ines acnya banyak?”.

“aku kan dah survei seluruh kompleks, banyak kok yang mo jadi langgananku, lumayan lah, sampe kadang orderannya bentrok waktunya”.

“Makanya teknisinya banyak ya mas”.

“Iya itu baru ditambah karena ternyata ordernya numpuk”.

“wah asik dong mas, tinggal mungutin duitnya”.

“Kamu mo bantuin aku, ngurusin kerjaan aja, terima order, ngatur teknisi kemana aja, soalnya aku mo garap juga kompleks tetangga kita, gak ketanganan kalo aku sendiri. Kamu disini tinggal di dalem ya”.

“Iya mas”.

“Ya deh tempatku juga tinggal ma aku”.

“Wah kumpul kebo dong”.

“Gak apa deh, aku yang jadi kebonya”, candanya.

Menyenangkan sekali ngobrol ma dia, orangnya humoris walaupun tampang pas-pasan

“Mas suka olahraga ya?”.

“Iyalah, jaga stamina, biar gak gampang sakit”.

“Fitnes ya mas?”.

“Kok kamu tau sih?”.

“Iya bodi mas kan kenceng banget”.

“Bodi kamu juga kenceng”.

“ah biasa aja kok”.

“Kenceng banget, kamu tu imut tapi modalnya gede, kenceng lagi”.

“Modal apaan mas”.

“Modal itu yang goyang kalo kamu jalan, tanganku mau kok disuruh jadi shock breakernya”.

“Ih si mas, maunya”.
“Ya maulah, kalo boleh”.

Pembicaraan mulai menjurus. Memang tubuhku tergolong kurus tapi dadaku lumayan gede, sehingga kelihatan menonjol sekali di dadaku. Pesanan makanan sudah dateng, jadi kami santap malam sambil terus ngobrol kesana kemari.

“Mas kok pisah sih, gak puas ya ma istrinya?”.

“Gak cocok aja, mangnya kenapa kalo aku gak puas. Kamu mo muasin aku?”.

“Lo kok Ines sih yang mesti muasin mas”.

“Makanya Nes, kamu bantuin aku kerja aja, tinggal ma aku, jadi kamu, eh salah, kita bisa berbagi kepuasan. apa mo trial dulu?”.

“Gak tauh ah”, aku pura-pura cemberut.

“Kamu kalo cemberut makin cantik deh, makin ngegemesin, jadi pengen ngemut bibir kamu deh”.

“Mas ngomongnya menjurus amir sih”.

“Kok amir?”.
“Iya amat lagi pulkam mas”.

Kembali kami tertawa berderai. Karena disertai ngobrol dan canda tawa, makan malemnya jadi berkepanjangan, tapi akhirnya abislah semua makanan yang sudah dipesan.

“Nes, mo minum yang anget-anget buat penutup?”

“apaan tu mas?”.

“Disini ada minuman anget khas Sunda, bandrek, enak”.

“Boleh deh mas”.

Dia memesan bandrek untuk kami berdua. Karena panas, bandreknya kuminum dikit-dikit, sambil terus ngobrol ma dia, keringetan juga karena bandrek panas segelas itu, tapi rasa kekenyangannya ilang, itu khasiat jahe katanya. Karena dah cukup malem, dia mengajakku ke rumahnya,

“ngobrol di rumahku aja ya, dari pada kamu bengong sendirian”.

“Terus urusan saling memuaskan ya Mas”.

“Yuk, kamu mau kan?”.

Gak kujawab, aku cuma senyum saja. Wah asik juga neh kalo dia ngajakin maen. Aku sih mau aja kalo dia ngajakin. Kebetulan sudah lama juga neh aku gak keisi benda besar panjang keras yang bisa nembak. Dia mengganti pakain dengan celana pendek dan kaos saja.

“Nes, kamu bisa mijit? badanku pegel-pegel nih”, pintanya.

“Bisa mas dikit-dikit tapi ya tidak seahli tukang pijit beneran”, jawabku.

“Emangnya ada tukang pijit boongan”, godanya sambil mengajakku masuk kamarnya.

Aku jadi menebak-nebak dia pengen dipijit atau mijit aku nih, tapi kuturuti ajakannya masuk kamarnya. Dia berbaring telungkup di ranjang dan aku mulai memijit kakinya, mulai dari telapak kaki sampai ke paha. Otot kaki dan pahanya keras, hasil sering berolahraga. Aku sengaja memijat bagian paha sebelah dalam, sekalian untuk ngetes dia punya udang dibalik bakwan gak.

“Aduh Nes enak tapi geli,” katanya setiap kali kusentuh paha sebelah dalam.

Dia mengangkangkan pahanya dan sesekali kusenggol selangkangannya, terasa ada sesuatu yang keras di dalamnya. Rupanya dia udah mulai terangsang dan ngaceng. Pijatan beralih ke pantat dan punggungnya. Bagian ini masih tertutup celana pendek dan kaosnya.

“Mas enaknya kaosnya dibuka deh supaya mijetnya bisa tuntas”, kataku dan dia langsung melepas kaosnya dan kembali telungkup.

Punggungnya juga berotot. Pijatanku mulai dari bagian bahu. Aku mengambil posisi mengangkangi badannya. Setelah bahu dan punggung, kini pijatanku mengarah ke bongkahan pantatnya. Mulanya aku memijat dari luar celananya, tapi gak bisa tuntas.

“Mas, celananya mengganggu nih”, kataku.

“Dilepas aja ya Nes”, jawabnya sambil langsung melepas celana pendeknya.

Sekelebat tampak penisnya menonjol sekali dibalik cdnya, kelihatannya besar dan panjang dan sudah keras sekali. Dia kembali menelungkup. Pijatan mulai mengeksploitir bagian pantat dan pangkal paha. Jariku memijit belahan pantatnya dan hampir menyentuh biji pelernya. Dia sepertinya tidak perduli dengan jamahanku. Selesai dengan pantatnya, aku minta dia telentang. Benar penglihatanku, penisnya besar dan panjang sampai kepalanya nongol dari bagian atas cdnya.

“Ih mas ngaceng ya”, kataku manja sambil menduduki penisnya.

Terasa sekali penis itu mengganjal pantatku. Aku mulai lagi dari bahu, untuk melemaskan bagian itu. Perlahan-lahan lalu turun ke bawah kedadanya. Dia hanya tersenyum saja memandangi wajahku.

“Kamu cantik sekali Nes”, katanya merayu, sepertinya dia sudah tidak bisa mengendalikan napsunya.

Aku sengaja menggeser pantatku di penisnya. Pentilnya tampak mengeras, dan sesekali kupilin. Aku minta dia menarik nafas ketika kupilin pentilnya lalu pelan-pelan menghembuskannya.

“Nes”, lenguhnya.

“Kenapa mas, sakit ya pijitan Ines”.

“Enggak sakit kok Nes, merinding semua badanku”.

Setelah puas memelintir pentilnya aku mulai turun ke perut. Perutnya kencang dan tidak berlemak, kepala penisnya yang nongol dari atas cdnya seakan mengundangku untuk meremasnya. Aku juga terangsang melihatnya. Aku lalu menekan bagian bawah perutnya untuk kusorong keatas. Dari perut aku mulai menelusur bawah sampai menyentuh kepala penisnya. Dia memejamkan mata sementara aku terus memijit lembut di pangkal paha sampai keselangkangannya sambil sesekali menyenggol penisnya dengan menggosokkan punggung tangannya ke penisnya.

“Nes, kamu udah sering ngeliat kontol ya?”, tanyanya to the point.

Aku kaget juga atas pertanyaannya.

“Belum mas, baru pertama kali ini, besar ya”, kataku berbohong.

“Kalau mau liat, turunin aja cd ku”, katanya lagi.
Perlahan jari kuselipkan di karet cdnya dan menurunkan cdnya perlahan sampai lepas. Nongollah penisnya yang berdiri tegak, besar dan panjang dengan bulu rambut yang lebat bersambung sampai ke pusar dan dada.

“Pegang” katanya singkat dan akupun menuruti sambil mengusap pelan-pelan.

Tangannya mulai berkeliaran, membuka baju kaosku, bra kemudian celanaku. Tinggal CDku yang belum kulepas. Aku dibaringkannya dan kemudian dia melumat bibirku, dan terus menjilat sampai ke payudaraku yang besar dengan pentil yang merah coklat. Saat dia mengulum toketku, aku mulai menggelinjang apalagi jarinya mulai menerobos CDku dan dengan lembut menggosok bibir vaginaku. Aku bergetar sambil berdengus pendek
“uuh..uuhh..”. CDku kemudian dilorotkan dan dibukanya pahaku lebar-lebar.

Dia tertegun melihat bibir vaginaku yang tipis memerah yang diselimuti bulu yang lebat.

“Nes, jembut kamu lebat sekali ya. Pasti napsu kamu besar ya. Kamu pernah ngentot Nes?”, tanyanya.

Aku diem saja karena sudah sangat terangsang akibat jilatannya di selangkangku.

“Mas”, aku mendesah ketika lidahnya mulai beroperasi ketengah-tengah vaginaku.

Gerakan refleksku menarik paha ke atas dan posisi yang kian membuka menambah leluasa lidahnya bekerja lebih dalam di vaginaku. Cairan vaginaku mulai tumpah membuat dia tambah ganas, dan mulai menyedot keras klitorisku. Ujung lidahnya bermain lincah, dalam, menelusuri menggesek permukaan dalam vaginaku membuat aku tambah bergetar menahan rangsangan kenikmatan.

“Uh..uuhh..” eranganku tambah keras dan pahaku menjepit keras kepalanya dengan kaki yang melingkari punggungnya.

Dia memutar tubuhnya pelan sambil terus menyedot vaginaku. Posisi 69, aku disuruhnya mengulum kepala penisnya yang besar itu. Lidahku mulai bermain diantara belahan kepala penisnya. Kami berpacu terus dengan posisi 69 sampai

“maas…uuuuhhhh..”, badanku menggelinjang hebat sambil mengerang keras dengan suara tertahan karena kepala penisnya masih terbenam dalam mulutku. Aku sudah sampai dan kulepaskan penisnya dari mulutku.

Dia masih telentang dengan penisnya masih tegak karena belum tuntas. Dia menyuruhku naik ke atas perutnya.

“Mas, Ines belum pernah”, kataku berbohong lagi.
“Ayo aku ajarin”, jawabnya.

Dia berbaring dengan bantal tiga susun di punggung dan kepalanya sambil menyuruh aku duduk di atas penisnya yang sengaja diposisikan ke arah pusar. Aku duduk mengangkang dengan bibir vagina menempel di kepala penisnya. Aku mulai menggerakan pantatnya maju mundur perlahan.

“Ah..nikmatnya Nes, aku masukin ya..” gumamnya sambil menahan kenikmatan karena goyangan pantatku.

Beberapa saat kurasa cairan vaginaku mulai mengalir membasahi penisnya, aku makin dia terangsang. Gesekanku makin menggila membuat aku tersentak-sentak saking nikmatnya. Dia mulai meremasi payudaraku yang montok.

“Isap ..mas” dan dia melengkungkan badannya berusaha mengulum payudaraku.

“Uuuhhh..uuuuhhh.., terussss maas…”pintaku sambil bertambah cepat menggesek vaginaku ke penisnya.

Lebih dari 15 menit kemudian aku mengerang tersendat kenikmatan. Dia tahu aku akan klimaks lagi,
“Ayo putar badanmu” dan secepatnya aku berbalik dengan vaginaku menantang di depan mulutnya.

Dia menarik pantatku dan lagi-lagi disedotnya bibir vaginaku sambil sesekali lidahnya dijulurkan mengilik klitorisku. Penisnya terbenam lebih dari separuh di mulutku, kepalaku turun naik mengocok k penisnya dalam mulutku. Erangan tertahan dan desahan kenikmatan mengiringi puncak permainan. Tiba-tiba aku menekan pantatku kuat-kuat kemulutnya sambil mendesah panjang dengan penisnya di mulutku

“Maas..ooohh”. desahku, diapun demikian, dikepitnya kepalaku dengan kakinya dan creet..creet..creeettt…pejunya ngecret semuanya dimulutku.

“Mas, belum dimasukin udah nikmat gini ya, apalagi kalo dimasukin”, desahku.

“Kamu mau dimasukin Nes, udah pernah belon, kayanya sih udah ya”, jawabnya.

“Sama siapa Nes, tapi itu gak penting deh, gak usah dijawab”, katanya lagi, “yang penting malem ini kita berbagi kepuasan ya”
Aku mulai bergerak menempel kebadannya. Dia mengulum bibirku dengan lembut sambil tangannya mulai bergerak dengan sentuhan halus ke payudaraku. Aku menggelinjang saat dia mulai agresif memainkan putingku.

“Ayo mas..gesek lagi ya..!” pintaku bernafsu.

Aku mencium dan menjilati jari-jarinya. Kemudian dia melepaskan tangannya dari ciumanku dan kembali meremas payudaraku. Dipilinnya pentilku secara bergantian. Aku makin menggeliat karena napsuku sudah memuncak. Tangannya kutarik menjauh dari payudaraku. Kubawa ke arah perutku. Segera dia menggelitik pusarku sampai aku menggeliat kegelian,

“Mas geli”.

Tangannya segera menyusup ke bawah dan menemukan jembutku. Jangkauannya kini maksimal, padahal target belum tercapai. Aku menaikkan badanku sedikit dan kini jari-jarinya bisa mencapai belahan vaginaku membuatnya basah, sehingga jari tengahnya dengan mudah menyusup ke dalam dan menemukan klitorisku yang sudah mengeras. Dia lalu memainkan jari tengahnya. Pinggulku mengikuti irama sentuhan jari tengahnya. Aku menggelinjang. Penis besarnya sudah tegak dengan kerasnya.

“Mas, hebat ih, dah ngaceng lagi, padahal belon lama ngecret di mulut Ines”.

Dia berbaring dengan 2 bantal susun di punggungnya. Aku menunduk mengulum kepala penisnya. Hanya sebentar karena dia menyuruhku menduduki k penisnya yang lagi-lagi melipat ke arah pusar dengan posisi membelakangi dia. Aku mulai bergerak pelan memaju-mundur pantatku untuk menggesekkan n vaginaku ke penisnya. Tangannya dari belakang mulai beraksi memijit-mijit payudaraku. Aku menjadi sangat liar, menggeliat sambil tak henti-hentinya mendesah kenikmatan. Gerakan dan sentakanku makin cepat dan keras sampai suatu saat kuundurkan pantatku agak ke belakang dan penisnya lepas dari jepitan bibir vaginaku.

Penisnya yang agak terangkat sudah berhadapan dengan bibir vaginaku yang basah itu dan….bleeessss..kepala dan separuh penisnya yang tegang keras itu amblas ke dalam vaginaku.

“Maas”, seruku.

“Kenapa Nes, sakit?”, tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepala, bukannya sakit tapi nikmat banget. Sesek rasanya vaginaku kemasukan penisnya yang besar banget itu. Vaginaku berdenyut mencengkeram penisnya, giliran dia yang mendesis,

“Nes, nikmat banget memekmu, bisa ngemut kontolku”.
Dia membalikkan badanku dan sehingga aku terlentang. Dia menundukkan mukanya dan mengulum bibirku sambil menggeser badannya keatas. Dengan pelan ditusukkannya penisnya ke vaginaku. Diteruskannya dorongannya dan kepala penisnya mulai memaksa menerobos masuk ke liang vaginaku.

“Ouuhh..” kembali aku melenguh.

Dikocoknya k penisnya pelan sehingga kian dalam memasuki vaginaku. Pelan tapi pasti dan akhirnya kurasakan seluruh vaginaku penuh terisi penisnya. Vaginaku yang sudah basah itu masih terasa sempit buatnya,

“Nes, sudah basah gini masih sempit aja memekmu, nikmat banget deh, mana terasa banget empotannya. Terus diempot ya Nes”.

Dihunjamkannya lagi penisnya, walau terasa sangat sesak tapi nikmat,

“Ooohhh…” aku mulai menggeliat, kaki kuangkat, melingkar ke pahanya sementara kepalaku terangkat, mendongak ke belakang dengan mataku membelalak.

Tangannya bereaksi cepat, payudaraku diremas pelan sembari putingnya dipijit, membuat aku makin menggila, berdesah panjang kenikmatan,

“uhhh, peluk Ines mas”.

Dirapatkannya badannya ke badanku dan aku merangkul ketat punggungnya. Goyangan pantatnya turun naik makin cepat sehingga bersuara “plook..ploook” karena begitu banyak cairan yang mengalir dari vaginaku.

Dia kemudian mengganti posisi. Aku disuruh nungging dengan posisi pantat sedikit terangkat, kaki mengangkang. Digesekkannya kepala penisnya ke bibir vaginaku beberapa saat, baru dihunjamkannya pelan.

“Doggy Style! “Maas”, erangku ketika kepala penisnya mulai menekan dan menerobos masuk ke liang vaginaku.

Baru setengah penisnya masuk, “Aaauuhhh….” mataku terbelalak saking nikmatnya. Kemudian dia mulai mengocok penisnya keluar masuk vaginaku. Aku kembali mengelinjang, menahan enjotan pantatnya. Terasa penisnya makin keras dan kepalanya makin membesar karena gesekan di dinding vaginaku.

“Ooohhh..oooohhhh” gumamku, karena dia mempercepat enjotannya.

Tiba-tiba dia menahan gerakan pantatnya, ditariknya keluar sehingga hanya sebagian penisnya yang masih terbenam lalu disentakkannya cepat dengan gerakan pendek, kemudian ditekannya rapat ke pantatku hingga semua penisnya tertanam dalam vaginaku, lalu dibuatnya gerakan memutar. Otomatis kepala penisnya berputar bak bor mengesek ketat dinding vaginaku.

“uaahhh….terus mas…enaaakkk!” desahku.

Tidak puas hanya menikmati putaran “bor” nya, aku ikut mengenjot keras pantatku ke belakang dan…”uuhhh..uuuhhh” kami berdua sama-sama mengerang nikmat. Selang lebih dari 20 menit kami berpacu dengan posisi demikian, aku makin keblingsatan dengan erangan-erangan tak keruan. Dia tahu kalau aku sudah akan klimaks. Aku sekarang dalam posisi telentang. Pahaku terbuka lebar dan bibir vaginaku sedikit membuka setelah disodok penisnya sejak tadi. Kini dia mulai membungkuk di atas badanku dan dengan tangan kiri menopang badannya, tangan kanannya menuntun penisnya ke arah bibir vaginaku.

“Ayo..masukin mas..!” pintaku.

Kepala k penisnya mulai menghunjam. “Aaahhhh..!” erangku saat seluruh penisnya disodok masuk dan mulai dikocok turun naik langsung dengan frekuensi tinggi dan cepat.

“Ah..ah..ah..ah.” aku tiada hentinya melenguh, badanku menggeliat dengan kepala sebentar naik sebentar turun menahan geli dan nikmat yang amat sangat.

Dia terus mengocok dengan kecepatan tinggi dan menggila. Kenikmatanku sudah memuncak.

“Auuuh..m..m..” tanganku melingkar ketat di punggungnya dengan paha dan kakiku ikut membelitnya.

“Tahan dikit Nes..!” bisiknya di kupingku sambil mempercepat sodokannya.

“Aaaahhhhhhh..!” aku menjerit panjang, kukuku serasa menembus kulit punggungnya, mengiringi puncak kenikmatanku.

Berbarengan dengan lenguhan panjang, dia menyodok keras penisnya ke vaginaku diimbangi dengan goyangan kencang pantatku yang berusaha mengapung ke atas. Otot-otot bibir vaginaku serasa berdenyut-denyut seperti meremas-remas penisnya. Crreeeettt…pejunya ngecret di dalam vaginaku, hangat, membuat aku merem melek sejenak. Kami berdua sama-sama orgasme.

“Oh Nes, puas sekali nge ntot denganmu..!” desahnya. “Kamu udah pengalaman ya Nes, ngeladenin lelaki”.

Kami masih berpelukan sebentar dengan penisnya masih terbenam di vaginaku, berciuman.
“Gimana rasanya Nes?.” tanyanya saat berdua di kamar mandi.

“Mmmm..enak banget mas, kontol mas kerasa sekali ngegesek memek Ines, besar soalnya sampe memek Ines sesek jadinya” jawabku sambil tersenyum.

Kami saling membersihkan diri. Dia meremasi payudaraku dan menggosok pelan vaginaku, sedangkan aku mengocoki penisnya yang sudah melemas. Selesai mandi, kami nonton film BF di ranjang. Dia pasang di dvd. Aku mengocok-ngocok penisnya dengan cepat dan keras, sebentar saja sudah ngaceng lagi.

“Mas kuat banget ya, dah ngecret 2 kali, sebentar aja udah ngaceng lagi”, kataku.

“Abis dikocok sama kamu sih, mau lagi ya Nes”.

“Iya mas, Ines kepingin disodok kontol mas lagi”.

Ketika mengocoki penisnya aku terangsang juga, vaginaku sudah basah lagi, apalagi ketika ngocok penisnya, dia ngitik-ngitik putingku. Dia telentang dan aku menaiki tubuhnya. Dengan posisi setengah merayap, aku menjilati mulai dari bawah
enisnya ke atas, berputar sejenak di celah kepala penisnya kemudian mulai dengan mengulum lembut sambil mulutku turun naik mengocok penisnya.

“ohhhh…ooouuuhhh”, gilirannya bergumam tidak jelas.

Puas mengocok penisnya dengan mulutku, aku langsung duduk di atas perutnya dan kuarahkan penisnya ke bibir vaginaku yang sudah basah.

“Aaaahhhh…!” desahku sambil mencengkeram dadanya ketika penisnya amblas ke dalam liang vaginaku dengan mulus.

Kocokan demi kocokan dipadu goyangan pantatku membuat kami berdua sama-sama merem melek dengan desahan-desahan panjang berulang-ulang. Dengan penis yang masih menancap ketat pada vaginaku, dia memintaku menurunkan badanku ke belakang sambil kedua tanganku bertopang ke belakang, dia menyodokkan pantatnya ke depan. Luar biasa…penisnya seolah-olah tertarik kalau pantatnya bergerak ke belakang dan seperti mau patah bila ia menyodok ke depan, terjepit rapat di antara bibir vaginaku. Dengan kepala mendongak ke belakang kadang terangkat, aku makin gila menggoyang pantatku,

“Uuuhhh…ngghhh..!” erangku tidak jelas.

Cairan pelicin vaginaku meleleh hangat sampai ke bawah penisnya. “Hhuuu….huuuu…huuuuuu!” aku kian ganas dan seketika merubah gayaku, duduk di atas pangkal pahanya dengan penis tetap tertancap di vaginaku, hanya pantatku saja yang bergerak maju mundur dengan cepat. Penisnya terasa berdenyut-denyut dicengkeram bibir vaginaku. Bercampur aduk rasa nikmat yang kudapat dari permainan ini.

“Maas….ngghhh..!” aku sudah mendekati puncaknya. “Remes toketku…mas!” pintaku sambil menarik tangannya.

Diremasnya payudaraku, kian kuat remasannya makin kuat sentakan pantatku dibarengi dengusan napasku yang memburu.

“Aaaaaaahhhhhh..!” aku menyentak dengan histeris beberapa saat dan kemudian terdiam, roboh ke atas badannya dengan jari tanganku mencengkeram kuat ke dadanya menimbulkan merah goresan kuku yang panjang.

“Nikmat ya Nes”, katanya tersenyum melihat badanku yang terkulai lemas menindih tubuhnya.

“Aku akan membuatmu lebih puas, sayang!”.

“Ines capek…tapi..mas belum ngecret ya”, kataku seraya beringsut turun dari atas badannya dan telentang pasrah.

Dia mengambil handuk basah dan melap bibir vaginaku dengan lembut. Aku tersenyum sambil mengepitkan pahaku. Gantian aku membersihkan penisnya yang tetap ngacung dengan keras.

Dia memelukku dan mulai menggeluti tubuhku lagi. Bibirku dikulumnya dengan nafsu, turun kebawah dijilatinya klitorisku. Aku menggelinjang pelan, dia meneruskan permainannya meraba bibir vaginaku menyentuh klitorisku dan digesek pelan. Kedua pahaku terbuka lagi dan untuk kedua kalinya vaginaku basah. Dia tidak bisa menguasai nafsunya lagi, dengan cepat berlutut di antara kedua pahaku dan mengatur posisi penisnya tepat di atas lubang vaginaku, merendahkan badannya dan bleeesssss….penisnya langsung menerobos masuk liang vaginaku.

“Aaauuhhhh..!” aku melenguh panjang ketika dia menekan kuat dan mulai memainkan pantatnya turun naik.

Saat serangan penisnya kian gencar, mataku seakan tinggal putihnya kadang mendelik kadang terpejam dengan desisan panjang pendek. Sepertinya dia pingin benar-benar puas menikmati tubuhku setelah yakin walaupun badanku kecil imut-imut tapi punya kemampuan ngesex sangat tinggi. Diangkatnya kaki kiriku ke bahunya dan badanku dimiringkan dengan kaki kanan tetap lurus. Liang vaginaku seakan bertambah terbuka dengan posisi demikian. Dengan setengah berlutut, dimasukannya penisnya dalam-dalam ke liang vaginaku dan dikocok keluar masuk dengan cepat.

“Uuhh..uuhh..uuhh..” aku mendesis berulang-ulang menahan serangan penisnya.

Tangan kananku dengan gesit menggosok-gosok putingku sambil penisnya tetap keluar masuk liang vaginaku, membuat aku menjadi liar dan keblingsatan. Kedua bongkahan buah dadaku kuremas-remas sendiri dan kepala sebentar-sebentar kuangkat dengan mulut kadang ternganga lebar kadang mendesis tertahan. Puas mengocok dengan posisi demikian, dia mengganti lagi posisi kami. Aku disuruhnya menelungkup dengan pantat sedikit nungging ke atas dan paha sedikit mengangkang membuat bibir vaginaku kelihatan merekah dan menantang. Dengan posisi jongkok digosok-gosokkannya kepala penisnya mulai dari pantat sampai ke bibir vaginaku, tanganku bergerak cepat ke belakang memegang penisnya dan menuntun ketengah vaginaku,

“Ayo mas.” sambil memegang pantatku, dia mendorong masuk penisnya masuk ke liang vaginaku.

Dengan pelan kepala k penisnya menerobos masuk. Begitu hampir setengah masuk, disentakkannya agak kuat dan…”blessss’ hampir seluruh penisnya tenggelam.

“Haahh..!” aku menjerit tertahan dengan kepalaku terangkat.

Dia mendiamkan sekian detik untuk merasakan denyutan vaginaku mencengkeram penisnya, baru kemudian dikocoknya maju mundur dengan pelan. Sembari mengocok, tangannya merayap dari belakang menggapai payudaraku dan mulai meremasnya.

“Ooouuuhhh…oouuuhhh” aku mendesah berkali-kali ketika penisnya mulai membabibuta keluar masuk liang vaginaku.

Punggungku kadang melengkung ke bawah kadang ke atas dengan pantat bergoyang kiri kanan membuat dia keblingsatan dan makin kencang menggempur vaginaku. Cairan vaginaku makin banyak mengalir sampai-sampai turun membasahi biji pelernya. Aku merasakan kegelian dan kenikmatan yang amat sangat seakan menjalar keseluruh syaraf di tubuhku.

“Ssshhh..sssshhhh..!” aku mulai bergumam tak keruan mengiringi genjotannya yang tambah menggila.

Penisnya terasa makin keras dan membesar, pertanda dia sudah mulai mencapai puncak kenikmatan. Aku pun demikian kondisinya, badanku bergetar hebat dan tanganku
menggapai karuan kiri kanan mencengkeram bantal.

“Huuuhhh…hhuuuhhhh..mas..!” aku bagai kesurupan.

Dia mencabut penisnya dengan tiba-tiba, bergerak duduk diatas ranjang sambil bersandar di kepala ranjang dengan kaki menjulur lurus kedepan setengah terbuka.
Aku disuruh duduk diatas pangkuannya dan ..blesss..vaginaku menelan semua penisnya dan tanpa diminta aku langsung menggenjot cepat. Kami berpelukan rapat, mulut saling berpagutan penuh nafsu, saling mengulum sementara pantatku bergerak histeris memburu puncak kenikmatan yang kian dekat.

“Aauuh maas …..aaaahhhhhhh…!” aku sudah hampir di puncak surga dunia dan sesaat kemudian dia mendorong badanku terlentang.

Sekali lagi, dengan sigap dia merubah posisi, tengkurap di atas tubuhku dan menggenjotkan k penisnya sekuat-kuatnya ke n vaginaku. Bibir kami kembali saling mengulum sambil berpelukan. Kaki dan tanganku merangkul ketat badannya menahan hentakan-hentakan pantatnya yang mendorong penisnya keluar masuk vaginaku. Detik demi detik kami rangkuh kenikmatan itu bersama-sama….sampai akhirnya,

“Aaaahhhhhhhh….!” aku mengerang panjang mencapai puncak dengan kuku jari tanganku menancap kuat ke punggungnya.

“Aaauuuhhhh….Nes !” dia mendesah panjang, ditekannya kuat-kuat berulangkali pantatnya dengan cepat dan pada hunjaman terakhir….blesss….pangkal penisnya dan bibir vaginaku seakan jadi satu..dan sesaat kemudian..creetttt..crreeetttt… pejunya berhamburan keras memenuhi liang vaginaku.

“Ooohh..ooohhhh..!” aku menerima terjangannya yang terakhir berbarengan semburan pejunya yang terasa hangat di vaginaku. Sungguh nikmat rasanya